
Hery mengajak keluarga besarnya untuk berkumpul bersama di ruang keluarga.
"Hery..!" Panggil Bisma yang masih terus merangkul Olin.
"Apa..?" Hery menaikkan Alf dan Elf ke pangkuannya.
"Ceritakan..!" Pinta Bisma kekeh seperti tadi.
"Oke oke.. Ya sederhana aja.. Aku mau kalian berdua ketemu terlebih dahulu.. Olin cuma tahu dia punya Kakak laki laki tapi gak pernah liat kayak apa wajahnya, kayak apa rupanya.. Kayak apa batang hidungnya.." Bisma memicingkan matanya.
"Iya maka dari pada itu.. Aku ajak kamu dan Ade ke sini.. Meski dengan alasan pekerjaan.." Hery menggaruk tengkuknya.
"Dan Olin, aku paksa culik dia karena kalau aku langsung kasih tahu bukan kejutan'kan.." pungkas Hery.
"Haaaahh.." Bisma menghela nafasnya.
"Kamu memang Hery.. Yang gak pernah berubah.. Selalu penuh siasat dan trik." Ucap Bisma.
"Tapi.. Apa pun itu.. Olin tetap senang.. Olin bisa ketemu sama Kaka Bisma.." Olin memeluk erat Bisma.
"Bertahun tahun aku coba cari tahu.. Yang mana kakakku lagi.. Tapi.. Aku gak ketemu.. Aku gak tahu mana kakakku.." Olin menatap wajah Bisma, wajah yang baru pertama kali ini ia lihat.
"Kakak juga senang.. Bisa ketemu kamu.. Bisa peluk kamu.. Bisa elus pipi merah ini.. Dulu.. Waktu kamu baru lahir, pipimu lebih merah dari pada yang ini.." Bisma mencubit pipi Olin.
"Eeemmmm" Olin masuk lagi dalam peluk Bisma.
"Eehh kakak iparku yang satunya lagi yang mana.. Ini'kan kak Rena aku sudah sering VC.. Kakak yang satunya lagi..!?" Mungkin yang Olin maksud adalah Adel.
"Kak Adelmu..? Yang itu.." Bisma menunjuk Adel, Adel tersenyum manis pada Olin.
"Waahhh kakak kakak ipar aku cantik cantik ya..?" Olin termanggu dengan kecantikkan yang Adel punya, yang terlihat sangat imut.
"Iya donk.. Kalau gak cantik gak mungkin kakakmu itu kepincut.." Ledek Hery.
"Hahahahahahaha.." Tawa semuanya pecah mendengar guyonan guyonan kecil.
"Kak..? Apa Mama tahu..?" Olin tiba tiba bertanya pada Bisma.
Bisma menggelengkan kepalanya. "Gak dek.. Mama gak tahu apa apa.. Tapi gak lama lagi Mama tahu semuanya.. Kamu tenang aja ya.." Bisma mengusap puncak kepala Olin.
"Bukan kak.. Aku.. Aku takut Mama gak mau ketemu sama Olin.. Olin'kan.. Cuma anak.." Olin menghentikan ucapannya.
"Olin.. Jangan ngomong sembarangan.. Seperti yang aku bilang.. Cepat atau lambat Mama pasti terima Olin.. Olin'kan tahu.. Kakakmu ini dari mana..? Aku bukan dari rahim Mama Marry.. Aku dari rahim wanita lain.. Yang karena selamat lahir di dunia ini.. Olin.. Olin anak mama Marry.. Bayi yang pernah tendang tendang dari dalam perut Mama Marry.. Mama Marry gak akan nolak Olin.. Karena Olin, anak gadis Mama Marry satu satunya.. Olin'kan selalu percaya sama Kakakmu yang namanya Hery'kan..? Jadi.. Percayalah.." Hery benar benar bijak pada Adik kecilnya ini.
"Kak Hery.." Olin tentu sangat tersentuh mendengarnya.
"Kita berjuang sama sama.. Pasti Bisa dek.." Seperti mendapat dorongan yang sangat kuat, membuat tekad gadis belia itu untuk menemui Ibunya kembali mengebu gebu.
"Oke.. Janji ya.. Ajak Olin ketemu sama Mama.." Olin menatap semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Janji.." Semuanya bersama sama.
"Thank's" Olin menyeka air matanya lagi.
"Dan apa Olin tahu, diantara kita semua di sini ada yang paling dekat dengan Mamamu looo.." Sela Rena sekaligus untuk menghibur Olin.
"Siapa..?" Olin dibuat penasaran.
"Kakak iparmu.." Rena menunjuk denga mata ke arah Adel.
"Kak Adel..?" Semua orang mengangguk setuju. Hanya Adel yang kebingungan.
"Apa aku sedekat itu..?" Adel merasa kedekatannya dan Marry sang Ibu mertua biasa saja.
"Iya Olin. Adel sangat dekat sama Mama.. Bahkan dulu aku sampai gak dianggap anaknya karena ada Adel.." tambahan lagi dari Bisma.
"Waahh berarti kak Adel tahu banyak tentang Mama..?" Mata Olin berbinar.
"Aku tahu sedikit aja.." Sahut Adel senyamannya.
"Waahhhh aku akan banyak belajar dari kak Adel.." Olin bersemangat.
Tok tok tok..
Ketukan pintu utama rumah tersebut.
"Sebentar ya.." Hery bangkit dan membukakan pintu.
"Apa itu kak..?" Olin tentu yang paling penasaran.
"Sesuatu yang mungkin buat kamu menangis lagi.." Cicit Hery.
"Hah..?" Olin menggelengkan kepalanya.
"Bisma sini. Bantu aku." Pinta Hery.
"Kalian tunggu di sini ya.. Tunggu aku panggil baru nyusul.." Hery mengedipkan matanya pada Rena yang sudah mengetahui semuanya.
"Kak Rena.. Apa yang kak Hery rencanakan.. Itu tadi apa..?" Celoteh anak remaja yang selalu tak ada habisnya.
"Nanti Olin tahu kok sayang...." Rena mengelus pipi Olin.
"Eeemmm kak Adel.. Tolong ceritain tentang Mama donk Olin mau tahu Mama itu kayak apa sih..? Mama sukanya apa aja.. Kakak pasti tahu'kan" Rengek Olin kini pada Adel.
"Emmm Mama itu kayak kamu.. Cerewet, banyak maunya.." Cicit Adel juga.
"Iihhhhsss.." Olin sangat mudah akrab dengan Adel meski baru pertam kali bertemu.
"Lagi lagi..!" Olin sangat penasaran.
__ADS_1
"Mama dan Olin sangat mirip looo.. Mungkin kamu bayangan Mama Marry sepertinya.. Ya kan Ren..?" Adel meminta penilaian dari Rena juga.
"Iya.. Sangar mirip.." Tambah Rena.
"Jadi, kalau Mama liat Olin nanti.. Mama pasti mau terima Olin'kan.." harapan terbesar Olin.
"Tentu.. Mama Marry juga sangat ingin aku dan kakakmu Bisma punya anak, perempuan.. Tapi kalau dia liat anak perempuannya ini, mungkin dia langsung lupa tugas yang dia titipkan sama aku dan Bisma.." Adel terkeheh.
"Issshh jangn gitu.. Aku juga maulah punya ponakan lagi.. Pokoknya kak Adel sama kak Bisma harus punya secepatnya.. Kalau gak, nanti Olin yang turun tangan.." Celotehnya lagi.
"Husss.. Kamu masih kecil tahu apa Lin..?" Protes Rena.
"Tahu kak, kalau baru masalah reproduksi itu mudah aja.." Cicit Olin
"Ya ampun anak satu ini.." Adel menoel kepala Olin pelan.
"Hehehe.. Olin tuh tahu semuanya kak aman aja..!"
"Astaga.." Rena dan Adel bersamaan.
"Sayang... Bawa semuanya kesini.." Panggil Hery dari ruang tengah.
"Itu ayo pasti sudah siap.." Ucap Rena langsung bersemangat lagi.
"Ha.. Apa lagi Kak Hery ini... Awas aja kalau macam macam" gumam Olin bangkit dari duduknya sambil menggandeng Adel.
"Aku masih banyak petanyaan ya untuk kak Adel jadi jangan jauh jauh dari Olin.." Ancamnya.
"Hahhaha.. Iya Lin.." Adel mengerti yang di rasakan Olin.
Rena bersama kedua anaknya dan Adel bersama Olin sampai di ruang tengah, ruang di mana tadi pertemuan pertama Olin dan Bisma.
"Hei bocah.. Ini siapa..?" Panggil Hery dan menggeser tubuhnya.
Foto bayi mungil dengan selimut merah muda dan topi imut di kepalanya. Foto itu di ambil saat sang bayi di dalam inkubator bayi.
Olin menelan salivanya, mata tak bisa terlepas dari foto itu.
"Hei..!" Panggil Bisma kali ini.
Bisma bergeser lagi dan memperlihatkan satu foto lagi. Foto bayi yang sama, tempat yang sama dan bedanya ada dua laki laki remaja di samping inkubator itu.
Wajah kedua remaja laki laki itu sanhat familiar, tentu siapapun bisa mengenalinya. Itu adalah Bisma dan Hery saat masih muda.
Foto itu di ambil oleh keduanya saat baby Olin baru lahir. Baby Olin sangat kecil dulu sehingga ia membutuhkan perawatan lebih dengan bantuan inkubator rumah sakit.
Olin..
1k lagi untuk para pembaca.. sekali lagi author kasih tahu ya.. ini peraturan baru dari NT, Harus 1k kata jadi maaf ya kalau author upnya cuma satu bab, karena ini sudah 1k lebih, biasanya kan 4 bab, nah 4 bab itu terdiri dari 500 kata aja.. pendek'kan? nah jadi authot ikuti peraturan baru jadi harus 1k satu bab. meski cuma satu bab, tapi panjang untuk di baca pembaca setia gitu guys.. sekian infonya..
__ADS_1
oh ya untuk promosi yang kemarin mau di lanjut gak..? kalau mau'kan nanti author buatkan lagi di sini..