AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 137


__ADS_3

Bisma juga membalas senyum Manis Adel dan dalam sekejap mereka menjadi teman.


"Wahhh... Gini ya rasanya jadi OB. Aku kira kayak apa. Tapi lumayan santai karna gak harus banyak pikiran dan persiapan. Cuma perlu tenaga dan rajin.." Bisma menatap lantai yang baru saja ia dan Adel pel.


"Kamu ngomong apa tadi Ma..?" Adel mendengar ucapan lirih Bisma.


"Eehh iya.. Aku suka aroma lantainya, harum.." Adel mengelengkan kepalanya.


"Ada bule macam ini..?" Julidnya.


"Ya kan bos bos dan orang lain yang lewat sini kan enak, bersih, wangi... Jadi kerja pun semangat.." Adel memiliki kecerian yang sangat tinggi dan Bisma sangat menyukainya.


"Ya kamu betul, kalau ruangan bersih gini senang bos bos bekerja.." Bisma mengingat dirinya dulu saat masih menjadi seorang promotor.


"Dah yuk Kit lanjut...!" Ajak Adel.


"Haaahh masih ada lagi...?" Bisma mengikuti Adel dari belakang membawa alat pel.


"Iya ada donk.. Kita harus tunggu perintah dari atasan lagi, misalnya Bos di atas mau minum teh atau kopi, kita harus segera bikin.. Dan itu sampah.. Buang di sana ya.." Titah Adel dengan gayanya.


"Oke bos.." Bisma menaruh alat pelnya dn menganggukut sampah dan membuangnya ke tempat sampah di belakang.


Saat itu Hery sedang bertelponan dengan Rena di jendela ruang kerjanya. Saat matanya meneliti, sosok sang kakak sedang membuang plastik sampah yang cukup besar. Hery tersenyum melihat sang kakak. Hery memotokannya dan mengirim pada Bisma.


(Oohhh pekerja baru..😚)


Isi pesan Hery pada Bisma.


Bisma membuka ponselnya dan melihat pesan dari adik imutnya.


"Hely..?" Bisma segera meneliti jendela jendela kantor.


Akhirnya Bisma melihat Hery yang sedang tertawa sepuas puasnya dari dalam kantor. Bisma juga senang melihat tawa Hery yang begitu lepasnya, jarang sekali Hery tertawa seperti itu.


(Dasar adik nakal.. Aku lapor sama bos besar di rumah mau kah..?) Pesan Bisma pada Hery lagi.


"Eeehh Berani ngamcam aja" Hery meledek Bisma dengan menjelerkan lidahnya pada Bisma.


"Oohh my Good anak ini.." Bisma berlalu masuk ke dalam kantor lagi, sebelum ada yang melihat kedekatan mereka.


Bisma kembali pada Adel yang sedang membuat kopi di meja.


"Aku harus apa lagi..?" Adel menoleh rupanya Bisma sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Ya udah duduk.. Diam.." Adel mengerakkan sendoknya menunjuk kursi.

__ADS_1


"Haaahh udah.. Waaaahhh.. Aku suka pekerjaan ini.." gumamnya lagi.


"Aku antar ini dulu sama pak Roby. Kamu tunggu aja di sini oke, nanti aku balik lagi." Saran Adel sebelum ia pergi mengantar minuman.


Bisma menunggu seorang diri. Ia tak memainkan ponselnya, tak melakukan apa apa. Hanya diam dan menatap dan mengamati sekelilingnya.


"Jadi pekerjaan OB itu gini.." Bisma tersenyum sendiri.


"Oooww bang Bule.. Bantuin donk.. Berat nihh.." Dimas datang dengan membawa dua galon.


"Oohh oke.." Bisma bangkit dari duduknya dan membantu Dimas mengganti Galon yang kosong.


Karna tubuhnya yang tinggi dan otot ototnya yang besar, bukan hal yang sulit untuk Bisma mengganti galon galon itu.


"Wahh. Kamu memang cocok untuk kerjaan ini.. Mantap dah.." Dimas berlalu membawa galon kosong itu lagi.


"Eeeh tak ada lagi kah..?" Bisma mengehentikan Dimas dengan ucapannya yang sedikit aneh.


"Apanya sih Le?" Dimas berbalik.


"Kerjaan lagi apa ada..?" Aneh tapi Dimas bisa mengerti.


"Ooohh aku gak berani suruh suruh kamu, tunggu aja.. Mana si Adel tadi..?" Dimas celingak celinguk mencari keberadaan Adel.


"Antar itu kopi orang.." Jawab Bisma lagi.


"Ooohhhh rupanya seperti gak ada kerjaan.." gumam Bisma.


***


Hery meregangkan tanganya dan mengerakkan lehernya ke kiri dan kanan.


"Huuuhhh.. Akhirnya siap.." Hery memperbaiki dokumennya yang sudah siap.


Tok tok tok..


"Masuk.." Masuklah kepala Bisma dari luar.


"Eeehh.." Hery sangat terkejut melihatnya.


"Kok tekejut gitu.. Aku masuk ya..?!" Hery masih memegangi dadanya.


"Ihhss kamu ini coba masuk itu yang baik.. Masa kepalanya duluan gitu.. Kamu begitu kah di tempat kerja kamu kemarin..?" Bisma langsung saja duduk di sofa dan Hery bergabung dengannya.


"Aku sama kamu aja yang gitu Hel.." Jelas Bisma lagi.

__ADS_1


"Kenapa kok belum pulang kan dah jam pulangan. Tunggu tumpangan aku kah..?" Hery menyisir rambutnya.


"Gak aku tadi kan kerja.. Bersihin sampah yang ketinggal gitu, kata Adel besok gak usah lepot putik sampah, tinggal sapu sama pel." jelas Bisma lagi.


"Lepot..? Repot.." Ralat Hery.


"Iya... Eeemm Hel.. Kenapa ini aku kerja tapi kerjaannya itu mudah.. Terus gak banyak lagi.." Hery sedikit menaikan alisnya.


"Maksudnya pekerjaannya cuma bersih bersih aja gitu.. Gak banyak karna cuma nyapu ngepel, sana buang sampah..?" Hery sudah bisa menduganya.


"Ya.. Kok dikit kerjaan banyak duduk.. Capek aku.." Keluh Bisma.


"Makanya aku tawarkan kamu jadi promotor aku, kamu gak mau. Padahal kerjaan jadi promotor aku gak susah, kita hanya perusahaan yang bergerak di bidang jasa aja.. Lain kalau kayak perusahaan di Jerman perusahaan besar dan bidangnya itu yang sulit, Perdagangan.. Beehh aku mah nyerah kalau gitu.." Hery melipt kakinya.


"Ya.. Tapi Kerjanya asik.." Bisma bersemangat lagi


"Apanya yang asik..?" Hery bertopang dagu.


"Ya wangi lantainya bagus aku suka, terus tinggal gosok gosok gitu.. Terus alat pelnya bisa putar putar gitu.." Bisma mencoba menjelaskannya Pada Hery.


"Ooohh astaga.. Kenapa kakakku begini. Jadi kamu senang bersih bersih..?" Hery menatap bisma dengan loyo.


"Iya... Rupanya seru.. Best.." Bisma memberikan jempolnya di depan Wajah Hery.


"Kalau di Jerman kemarin, semuanya serba maid, di kantor ada robotnya.. Tapi di sini gak.. Di sini kita yang bersih bersih.. Aku suka.." tambah Bisma lagi.


"Ya udah ayo kita pulang dan kamu bersih bersih Rumah deh.." Hery bangkit dan Bisma pun setuju.


"Hel.. Apa Rena gak ada pesanan apa apa gitu...?" Bisma ingin mencari perhatian sang adik ipar.


"Mau tahu aja.." Hery tak ingin memberi tahu.


"Eeehh aku kan kakak iparnya patutlah aku Juga memenuhi keinginan dia.." Hery tetap mengeleng.


"Gak ayo pulang atau kamu pulang sendiri."


Hery keluar dari ruangannya dan Bisma mengejarnya.


"Aaahh dasar adik nakal.."


Begitulah sekilas kedekatan kedua kakak beradi berbeda ibu itu. Kedekatan mereka mungkin tidak bisa di percaya. Tapi itulah yang mereka. Awalnya juga Marry tidak bisa menerima Hery. Tapi setelah semakin tahu kejahatan sang suami maka Marry menghilangkan rasa bencinya pada Hery dan menerimanya seperti anaknya sendiri.


Bisma pun demikian, bahkan ia tidak memiliki rasa iri atau cemburu pada Hery. Hanya saja mengucapkan nama Hery agak susah untuk Bisma. Lidahnya tak toleran pada huruf R.


Abis ini cerita Roy dan Debora juga ya.. Untuk kisah Bisma author usahakan nanti buatkan kamarnya juga.. Kayaknya seru gitu kan.. Setuju gak nihh

__ADS_1


Off dulu guys... Author usahakan minggu depan Crazy up pagi hehehee.. Seru crazy up rupanya..


Sip deh..


__ADS_2