
Diana menggelengkan kepalanya.
Dion dan Dario benar benar mirip anak anak di meja makan. Saling menggangu satu sama lain. Sedangkan Diana dia sangat dewasa dan tegas.
Itulah yang Debora tangkap dari makan siang bersama ini. Keluarga yang sangat lucu dan juga kompak.
"Aku sudah bilang Sama Dokter Dina.. Kamu dan Dion nanti akan datang.." Diana menoleh pada Debora.
"Makasih Diana..." Debora sangat mudah akrab dengan Diana.
"Hei... Makanan itu jangan di main.. Haaiisss kalian berdua ini..!" Diana berkacak pinggang menatap kedua laki laki nakal itu.
"Hehehehhe..." keduanya malah terkekeh.
"Kamu Tahu Debora.. Aku kadang merasa lelah dengan tingkah mereka. Kamu liat itu.. Ck ck ck.. Untung kak Debora baik mau terima kak Dion.. Kalau aku.. Cih.. Udah aku lempar kedalam kolam ikan dia.." Cicit Diana.
"Hah..? Terima apa..?" Debora belum ngeh.
"Haisss.. Jangan di bahas lagi.. Debor abis ini mau kemana..?" Dion segera mengalohkan pembicaraan.
"Aku sarankan jangan kemana mana.. Kak Debora nanti kecapek'an" Potong Diana.
"Kak Debora mending di rumah ini aja.. Istirahat sambil tunggu jam kalian berangkat.." Tambah Diana.
"Iya.. Aku setuju sama Diana.. Aku gak mau ke mana mana juga.." Debora sangst setuju.
"Oke.. Kalau gitu aku juga setuju.. Lebih baik kan Debora istirahat dengan aku.." Dion juga senang dengan ide Diana. Ia akan lebih dekat dengan Debora.
"Hah..?" Debora merasa ia paling bo
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Stuart membuka matanya. Rasanya ia sangat segar, tapj ada juga rasa perih di area intinya.
"Damn.." Kesalnya.
"Apa yang terjadi.. Eehh iya ya.. Masa aku lupa.. Wanita itu.. Mana dia..?" Stuart mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar luar ini.
"Apa dia pergi tanpa bawa imbalan..?" Stuart bangkit dari tempat tidurnya.
"F*ck.." Stuart melihat di seprai putih itu terdapat banyak jejak petualangan.
"Dia.. Astaga.. Aku lupa.. Aku lupa pakai pengaman..!!" Stuart memegangi kepalanya.
"Aahh gak akan..!" Bisik Stuart lagi.
"Stu..!?" Albert masuk kemar Stuart dengan kaki bergetar.
"Kenapa kamu.?" Stuart mengenakan celananya lagi.
"Aku... Aku.. Ssttt..!" Albert meringis.
"Kamu dan wanita itu.. Kalian dari ruangan hiburan.. Kamu gila.!" Pekik Albert.
"Aku kan memang begitu.. Kamu kenapa..?" Stuart memperhatikan kalau Albert tampak kesakitan juga di area itimnya.
__ADS_1
"Sudahlah..!" Albert malu. Ia segera berlalu dari hadapan Stuart.
Stuart berjalan ke arah jendela. Mata hijau tuanya melirik perkotaan. Mengingat bagaimana ia memaksa seoaran wanita untuk melayaninya. Bahkan melakukannya di tempat yang berbeda beda.
Erangan, leguhan dan ******* dari wanita itu seperti melodi yang indah untuk Stuart. Meski terus melakukannya, tak ada rasa bosan, apalagi lelah yang di rasakan Stuart. Ia hanya ingin melakukan lagi lagi dan lagi.
"Kalau gak salah perempuan itu...?!" Stuart mengenali wanita yang ia mainkan beberapa jam yang lalu itu.
"Tapi kenapa, kenapa sangat sempit.. Bukannya dia sudah...?!" Stuart betanya tanya dalam pikirannya.
Setelah itu, Stuart mendapat ide untuk memeriksa sesuatu.
Ia menyibak selimutnya dan memperhatikan bercak bercak itu.
"Dia sudah pernah di sentuh paksa tapi.. Masih..?" Stuart tersenyum menyeringai mengingat permainan menyenangkannya itu.
"Aku akan menemukan kamu sayang.." Stuart mengenakan pakaiannya lagi dan segera menganggil Albert.
**
"Aku punya kakak gila.. Dia memperko**a seorang wanita di sebuah Bar.." Gumam Albert ketika Stuart terus memaksanya bangun.
"Dan kamu yang kenapa.. Baru pertama kali liat pri dan wanita bercinta..?" Stuart melempari Albert dengan bantal.
"Aku.. Aku... Aku.. Yang di Perkos**a wanita wanita Bar itu.. Gila...!" Albert semakin lemah.
"Cih.. Baru segitu..! Aaaahh cepat.. Aku ada kerjaan buat kamu.. Bantu aku..!" Ajak Stuart lagi.
"Aku gak mau kalau itu tentang perempuan lagi.. Sakit Stu..!" Pekik Albert ketika sang kakak menganggu asetnya.
"Hahahahaha.. Ini lah kalau laki laki gak pernah sentuh wanita.. Malah cemen... Sakitlah.." Cicit Stuart. "Makanya.. Kayak aku donk..!" Bangga Stuart pada dirinya sendiri.
"Main sama banyak wanita..!? Biar kemampuannya terasah..?" Balas Albert.
__ADS_1
"Aaaaww STU..!!" pekik Albert lagi karena Stuart benar benar jahil padanya.