
Rena tetap melakukan apa yang ia inginkan.
Baru kali ini ia yang membantu Hery. Biasanya Hery yang selalu merawatnya, sekali kalilah Gantian.
"Rena..?" Panggil Hery lagi.
"Apa..?" Rena masih melepas jeket yang ia kenakan tadi dan diletakan di bawah begitu saja.
Rena langsung naik ke tempat tidur bersama Hery. Hery langsung memeluknya. "Aku mau peluk kamu Rena.. Aku suka peluk peluk kamu..." Ucapnya meski matanya sudah terpejam.
"Ya aku juga suka di peluk kamu..." Rena tanpa ragu dan tak nyaman seperti biasa, kini sudah tidak peduli lagi. Ia melakukan apa yang ia inginkan juga. Rena masuk dalam pelukan Hery dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Hery.
Itu adalah posisi paling nyaman untuknya.
***
"Sudah senang kamu..?" Roy menatap Debora dengan kesalnya.
"Apa?" Debora tak peduli dengan rasa kesal dan marahnya Roy padanya.
"Sekarang, Rena sudah pergi dari hidup aku, dan anak kamu sama pacar kamu itu juga sudah gak ada lagi di dunia ini. Gimana impaskan.." Roy dan Debora sedang berada di luar kamar menjauh dari Eyang.
"Ya aku senang setidaknya kamu sekarang cuma punya aku seorang aja..." Debora tak merasa bersalah apalagi sedih tentang kegugurannya.
"Ya baguslah, berarti kita bisa berpisah dengan baik baik.." Roy memandangi langit malam ini.
"Pisah..? Gak aku gak mau Roy" Sudah pasti Debora menolaknya.
"Ya itu pasti kamu ucapkan Debora. Tapi sekarang gak ada lagi yang bisa kamu pakai untuk bertahan di rumah tangga sama aku, anak? Kamu sudah keguguran, bukti? Aku sudah punya bukti kuat untuk lawan kamu.. Dan Eyang sepertinya aku gak bisa tolak kalau yang di Atas sudah bekehendak.. Aku akan ikhlaskan semuanya Debora..." Jelas Roy dengan wajah sendu.
"Ya dan setelah kamu pisah sama aku baru kamu nikah lagi kan sama Rena itu, pasti itu kan tujuannya..? Kamu sampai rela Eyang sakit untuk kesenangan kamu Roy..? Pikir Roy kasian Eyang.." Debora berusaha mengontrol Roy untuk tidak bertindak seperti itu.
"Gak Debora.. Rena sudah gak peduli juga, sama aku... Mungkin dia bisa cari laki laki baru..." Roy sudah tidak memiliki tujuan.
__ADS_1
"Maksud kamu Hery...?" Debora menaikan satu alisnya.
"Hery..?" Roy mengulangi ucapan Debora.
"Iya, aku liat Hery sangat saysng sama Rena dan begitu juga Rena. Kemarin pas aku butuh pertolongan, Hery sama Rena yang datang bantuin, terus aku tanya kamu sama mereka berdua, tapi mereka gak ada yang tau, kata mereka berdua, hanya mereka di unitnya Rena.. Mereka lagi masak bersama gitu.. Dan gak ada kamu sama mereka... Makanya aku berani bilang kalau Hery sayang sama Rena, mana ada laki laki setia banget sampe masak bareng gitu kalau bukan sayang apa lah..?" Debora mulai mengompori Roy.
"Nyonya.. Tuan.. Itu Eyang cariin.." bibi yang menjawa Eyang datang menemui Roy dan Debora.
"Iya kami masuk Bi.." Roy pun mendorong kuris roda Debora.
"Iyakah Hery sayang sama Rena.. Tapi..." Roy berpikir hal yang sama seperti yang di pikirkan Debora.
****
Pagi ini sangat berbeda untuk Rena. Pagi ini ia terbangun dalam pelukan Hery yang sangat hangat itu.
Rena mendongak dan menatap rahang kokoh Hery. Senyum Rena mengembang saat menatapnya. Rena mengingat sesuatu, ia pun turun dari tempat tidur dengan perlahan agar tak menganggu Hery yang masih terlelap.
Hery masih tidur, Rena meletakan gelas teh itu di nakas dan ia naik lagi ke tempat tidur. Rena tak berbaring dengan Hert tapi ia menatap Hery. Wajahnya, rambutnya, bibirnya, lehernya, dadanya, Rena mempergunakan waktu ini untuk menatap Hery dengan puasnya.
Tak puas hanya menatap, Rena juga ingin menyentuh bibir yang semalam menciumnya dengan lembut itu. Jari telunjuk Rena menyentuh Bibir Hery. Jari kecil itu mengikuti bentuk bibir tebal itu.
Tiba tiba jari itu langsung di tahan oleh bibir itu. Rena terkejut bukan main. Hery langsung membuka matanya lalu ia memengangi jari yang menganggu bibirnya tadi.
"Apa bibir aku menggoda..?" Hery tersenyum nakal dan menarik Rena untuk berbaring bersamanya.
Hery rupanya terbangun ketika penciumannya bertemu dengan aroma teh dan Lemon yang di buat Rena. Saat itu pula Rena naik ke tempat tidur dan memperhatikan wajahnya. Hery sebenarnya sangat malu tapi ia berusaha untuk tidak terganggu.
"Hery..?" Rena benar benar terkejut dan juga sangat malu, aksinya ketahuan sang pemilik.
"Apa..?" Hery terus menatap Rena dengan tatapan menggodanya.
"Kamu...? Kamu gak pusingkah..?" Rena mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Eeeeemm gak juga tapi kalau aku liat kamu pusingnya hilang.." Hery mengedipkan sebelah matanya.
"Ck.. Gombal aja terus.." Rena melepaskan tangan Hery yang memeluk pinggangnya.
"Minum ini.. Ini bisa hilangkan rasa pusingnya.." Rena meyodorkan teh pada Hery.
"Aku maunya kamu.. Cukup aku sandaran sama kamu kayak gini pusing aku hilang kok..." Masih terus menggoda.
"Hery...!" Rena melotot pada Hery dan seketika Hery menjadi laki laki penurut.
"Iya sayangku, aku minum ni.." Hery meneguk teh itu dan Rena tersenyum puas.
***
"Hari ini nyonya Debora sudah boleh pulang.." Seorang dokter baru saja memeriksa keadaan Debora dan mengatakan Debora boleh pulang hari ini karna sudah baikkan.
"Dok... Kapan mantu saya boleh hamil lagi dok..?" Eyang juga mendengarkan penjelasan Dokter dan ia memiliki sesuatu yang ingin ia pertanyakan.
"Ooohhh itu nyonya, Nyonya Debora boleh mencoba hamil lagi setelah 6-12 bulan kedepan.. Itu adalah masa idealnya nyonya..." Jawab sang Dokter.
"Kalau nyonya Debora mencoba hamil dalam waktu dekat ini mungkin tidak terlalu baik karna kandungan atau rahim Nyonya Debora sedang dalam masa pemulihan. Sulit untuk memperkuat janinnya nanti dan hasilnya malah bisa saja Nyonya Debora keguguran lagi... Oleh karna itu saya rekomendasikan 6-12 bulan ke depan.." Sambung sang Dokter.
Eyang menghela nafas panjang mendengar penjelasan dokter. Ia ingin segera memiliki cicit dari Roy dan Debora, tapi malah menerima kenyataan pahit ini.
"Eyang yang sabar ya.. Debora usahakan secepatnya... Dok ada kan obat yang bisa membantu rahim saya untuk segera pulih..?" Debora juga ingin seperti yang Eyang pinta. Mungkin saja kan setelah ini Debora bisa mengandung anak Roy.
"Ada Nyonya, nanti saya tuliskan resep obatnya. Saya permisi dulu.." Dokter itu pamit dan Eyang serta Debora bersiap siap untuk pulang ke rumah.
Roy hanya diam saja tak ada tanggapan tentang kepulangan Debora ini. Eyang menatap Roy. "Roy.. Kamu gak bantuin Debora bawa ini dan minta obatnya sana.. Kasian kan kalau Debora harus kerjakan sendiri..." Eyang masih sangat kesal dengan Roy, karnanya lah Debora kehilangan bayinya.
Roy...
Off guys.. Like donk.. Koment donk..
__ADS_1