
Roy menutup telponnya dengan kasar tanpa mendengarkan penjelasan Hery terlebih dahulu.
"Hery... Kenapa kamu malah..." Roy merasa sakit hati mendengar ucapan Hery yang mengatakan kalau Rena menginap di rumahnya.
"Kenapa harus ke rumah Hery..." Roy masih tak habis pikir.
Sementara itu Hery mondar mandir di ruangannya. Hery mulai gelisah dengan Roy yang tadi menutup telponya dengan amarah padanya.
"Apa aku hubungi Rena aja kali ya... Minta Rena bantu jelaskan sama Roy..." Pikir pikir Hery.
"Aahh aku coba aja.." Hery menghubungi Rena, tersambung tapi tidak di angkat Rena.
Semantara yang sedari tadi di hubungi kini sedang makan siang dan menikmati buah buah segar bersama Dion.
Rena merasa lebih baikkan dari sebelumnya, Dion terus bersamanya, dan selalu mendukungnya. Dion juga sangat handal di dapur dalam hal memasak, semua masakan yang Dion masak enak semua dan Rena menyukai semua masakannya.
"Terima kasih Dion... Kamu sangat baik..." ucap Rena kepada Dion yang sedang mengunyah apel.
Dion tersenyum dan tentu saja ia senang mendengarnya, "Iya Rena... Tapi kamu kemarin malam tidak ada di apartemen ya..?" Dion akhinya menanyakan pertanyaan semalam yang ia pendam pendam.
"Ooohhh... Aku menginap di rumah Hery... Aku dan Hery pulang dari makan malam dan apartemen ini dalam kondisi gelap gulita, aku... Aku orang yang takut gelap, aku akhirnya du bawa Hery ke rumahnya dan nginap di sana. Paginya baru aku di antar Hery lagi ke apartemen ini..." Jelas Rena sedikit malu dengan ketakutanya.
"Oohhh kamu takut gelap, berarti kamu kayak Dario adikku.. Dia juga takut kegelapan, bahkan kalau pemadaman listrik maka dia yang paling ribut. Siapkan lilin, lampu darurat, ponsel semuanya menyalakan senter.. Wah bermacamlah.. Dia sangat takut gelap, aku juga gak tahu kenapa, tapi itu yang terjadi pada Dario. Aku yakin itu juga yang kamu rasakan ya..." Dion juga sangat banyak bicara membuat Rena nyaman mendengarkan cerita ceritanya.
"Iya aku juga tidak tahu kenapa aku merasa takut pada gelap.. Aku harap takutku itu akan hilang..." Ucap Rena juga prihatin dengan ketakutannya.
"Iya... Jadi kamu menginap di rumah Hery.. Bukan di rumah Roy...?" Pancing Dion lagi.
"Tidak aku tidak seberani itu Dion... Memangnya urat maluku sudah putus.. Bisa mati di ikat aku sama istrinya." Dengus Rena dengan pertanyaan Aneh Dion.
__ADS_1
"Hehehe... Iya ya.. Apa Hery baik padamu, apa dia mendukungmu? Apa dia mendukung Debora?" semakin banyak pertanyaan Dion.
"Eeemm dari yang aku lihat Hery mendukungku... Dia juga sangat baik sepertimu Dion... Dia mau menjadi pendengar ceritaku. Semua keluh kesahku.." Dion memperhatikan Rena dengan seksama.
"Apa kamu juga menangis bersama Hery seperti bersamaku...?" Dion semakin gencar mencari tahu.
"Eeemm itu... Aku.. Aku ya.. Aku menangis juga.. Dan sungguh aku malu.." Ucap Rena lagi.
"Apa aku punya saingan lagi.. Hery...??" Dion mulai berpikiran tentang kedekatan Rena dan Hery, belum lagi dengan hubungan rumit Roy dan Rena. Tapi menurut Dion masalah Rena dan Roy itu adalah masalah yang mudah, hanya tinggal ketegasan Roy, tapi jika Roy tidak dapat mempertahankan Rena maka dengan mudah Dion mengambil alih tempat Roy, Tapi jika ada lagi saingan baru Dion maka semakin banyak juga yang harus Dion hadapi.
Ponsel Dion berbunyi, sebuah notif masuk dan tentu saja itu dari kantornya yang mencari keberadaannya. "Rena aku..." Dion ragu mengatakannya.
"Kenapa... Apa kantormu memerlukanmu..?" Tanya Rena yakin dengan notif yang baru saja di terima Dion.
"Hehehehe... Tau aja.. Eeemm.. Gimana ya.." Dion sebenarnya tak ingin meninggalkan Rena, ingin rasanya Dion membawa Rena tapi ia ragu mengatakannya.
"Apa Dion...?" Rena penasaran dengan yang ingin di katakan Dion.
"Eeemm.. Jalan kemana juga...?" Rena tidak mendapat reverensi tempat yang asik untuk jalan jalan.
"Eemmm.. Mau ikut aku ke kantor...? Aku jamin kamu akan menyukainya... Apa kamu mau...?" Rena berpikir sejenak.
"Apa yang bisa aku lakukan di kantormu Dion...?" Pertanyaan yang paling tepat yang Rena tanyakan.
"Banyak Ren... Kamu bisa jalan jalan di kebun bunga di kantorku, ada juga pancuran mini, ada juga kandang beberapa hewan lucu. Seperti merak kalimantan, Enggang, ayam hutan.. Memang hewan yang tak seimut panda tapi hewan hewan itu sangat langka untuk kita temui. Aku medapatkannya saja sangat sulit, dan segala izin izinnya juga aku usahakan agar aku bisa memeliharanya di dekat kantor" Jelas Dion lagi berusaha menarik perhatian Rena.
"Emangnya gak di larang pelihara hewab hewan itu.. Bukanya itu hewan langka..?" Tanya Rena lagi.
"Iya hewan kalimantan yang hampir punah, tapi dengan aku memknta Izin dan memeliharanya, aku juga ikut membantu pemulihan populasinya, mulai dari materi dan juga tenaga, dan jika peliharaanku itu beranak, maka anaknya akan di ambil untuk menambah populasinya, dan akan di lindungi sepenuhnya. Begitu.." Jelas Dion lagi.
__ADS_1
"Tapi kok bisa kamu memelihara hewa hewan itu di kantormu, apa bosmu gak marah...?" Pertanyaan yang sedikit rumit menurut Dion.
"Eemmm itu bos aku juga termasuk pelindung satwa langka, makanya dia juga mendukung aku untuk memelihara hewan hewan, itu hitung hitung juga menambah perbedaan dari kantor lainnya. Bosku sangat menyukainya.." Jelas Dion lagi dan sepertinya Rena mulai tertarik dengan tawaran Dion.
"Eemm jika Bosmu tak keberatan jika aku melihat lihat hewan hewan menakjubkan itu.." Akhirnya Rena menerima tawaran Dion.
"Yes.. Eeemm maksudnya iya bosku tidak keberatan kok... Dia malah senang kalau banyak yang mendukung proyek hewan langkanya ini kalau banyak yang menyukainya maka banyak juga yang akan membantu pemeliharaan satwa satwa itu.." Jelas Dion lagi.
"Oke kalau begitu aku siap siap dulu.. Tunggu ya.." Rena berlalu dan Dion setia menunggunya.
"Kamu harus selalu bahagia Rena... Aku akan ada untukmu..." Gumam Dion dan hanya ia yang mendengarnya.
Rena menganti pakaiannya dan bersiap seadanya. Mengambil tasnya dan memasukan ponselnya ke dalam tas tanpa memeriksanya.
Rena menemui Dion yang masih setia menunggunya, "Ayo..." Ajak Rena dengan semangar dan tentu saja Dion lebih semangat dari Rena.
Keduanya berangkat dan sampai di parkiran Rena bingung, kenapa Dion membawanya ke tempat parkiran Mobil bukanya Motor, karna setahu Rena Dion memiliki Motor.
"Dion... Mana Motormu... Apa yang akan kita pakai...?" Dion berhenti melangkah dan menoleh ke arah Rena.
"Eemm sebenarnya aku baru saja membeli mobil baru dan Motorku itu untuk Diana, ayo..." Dion berbohong lagi dengan segalanya.
"Ooohh wah.. Hebat juga ya..." Dion dan Rena sampai di depan Mobil Dion dan Rena terkejut melihat Mobil yang Dion punya.
"Ya aku menabung sebisa mungkin untuk membelinya..." Bohongnya lagi.
Dion membukakan pintu mobilnya dan Rena pun masuk dan keduanya berangkat ke kantor Dion.
Hery sedari tadi semakin gelisah, Rena tak menjawab telponnya, Roy juga tak ada menghubunginya lagi, Hery di landa rasa gundah di hati, Hery tak ingin kehilangan sahabatnya dan juga wanita yang terus membayanginya.
__ADS_1
"Rena... Bantu aku... Aku mohon..." Lirih Hery.
Hery..