
Sedangkan Rena kembali menikmati suasana tempat barunya seorang diri, awalnya memang ada rasa sepi, tapi tidak ada salahnya jika ia menghabiskan waktu untuk sendiri dulu. Jauh dari sang suami yang masih mengurus istri sahnya.
Terbesit di pemikiran Rena. Bila nanti Roy tidak membutuhkannya dan malah kembali pada sang istri sah. Tapi Rena tetap optimis dan berpikir positifnya saja.
"Untuk sekarang nikmati dulu. Lagi pula aku tidak meminta taoi Roy yang menginginkan aku. Dan aku yakin Roy pasti bisa menyembunyikan semua ini dari istrinya." Rena melihat lihat pemandangan dari balkonnya.
"Baiklah aku akan jalan jalan saja. Jangan pikirkan yang tidak tidak dulu." Rena bangkit dari duduknya dan mengenakan jump suit dan memilih mengelilingi Apartemen yang ia tempati ini.
Rena melawati basement apartemennya dan melihat seorang anak kecil sedang memakan es krim dengan sangat nikmatnya. Melihat hal itu membuat Rena juga meginginkan es krim seperti itu.
Rena pun keluar dari area apartemen dan melewati beberapa toko. Ada toko baju dan pernak pernik kecil, Restoran juga ada, tapi Rena memilih untuk menuju ke toko swalayan di sekitar itu.
Rena masuk dan mencari apa yang ia cari, yaitu es krim. Setelah lama mencari akhirnya Rena menemukan boks es krim.
"Ini dia... Ada rasa coklat tidak ya?" Rena melihat lihat dari luar kaca boks tersebut. Setelah Rena menemukan apa yang ia cari Rena langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Saat hendak membayar Rena melihat seperti orang yang ia kenal.
Dion anak dari Vallen juga sedang berbelanja di toko swalayan ini juga.
Dion juga merasa pernah bertemu dengan Rena juga mengulaskan senyuman begitu pula dengan Rena.
"Maaf tuan, nona siapa yang mau duluan." Ucap kasir yang ada di situ menunggu siapa di antara Rena dan Dion yang akan melakukan pembayaran terlebih dahulu karna Rena dan Dion di satu tempat yang sama.
"Eehh iya." Jawab Rena dan Dion bersamaan.
Keduanya sama sama canggung. Tapi akhirnya Dion meberanikan diri. "Di gabung aja punya saya sama punya dia." Jawabnya dengan suaranya yang merdu.
Ini kali keduanya Rena mendengar suara Dion. Suara yang begitu merdu dan manis saat di dengar. Sampai sampai sang kasir pun salah tingkah setelah mendengar suara merdu Dion.
"Sini gabungkan saja." Tawar Dion.
"Aahh tidak usah. Aku akan bayar sendiri." Rena menolak dengan halus tawaran Dion.
__ADS_1
"Ayolah jangan sungkan seperti itu padaku. Sini..." Dion langsung mengambil cup es krim Rena dan meletakannya di tumpukan belanjaannya.
Kasir dengan secepat kilat menghitung belanjaan Doin. Walaupun beberapa kali bahkan kasir itu salah meletakan kode yang harus ia scan di komputernya.
"Bagaimana kabarmu?" Dion mencoba berbincang bincang dengan Rena.
Rena terkejut mendengar Dion masih terus mengajaknya berbicara. "ooohh aku baik baik saja. Ooh ya bagaimana keadaan nyonya Vallen" Rena teringat akan nyonya yang pernah membantunya saat itu.
"Mama baik baik aja. Seperti biasa dia menjalankan bisnisnya. Apa kamu tinggal di sekitar sinj sekarang?" Dion bertanya lagi.
"Iya... Aku tiggal di sekitar sini. Kamu??"
"Aku tinggal di Mes khusus anggota pemerintahan. Lumayan juah dari sini tapi karna aku sudah biasa belanja di sini jadi aku tetap ke sini untuk berbelanja. Dari sini juga kantorku dekat jadi mudah aku ke sini di jam istrirahat begini." Jelas Dion dengan ramah pada Rena.
"Tuan ini belanjaannya. Semuanya 365 Ribu Rupiah." Ucap kasir sudah selesai menghitung belanjaan Dion dan Rena.
"Apa es krimnya juga sudah termasuk?" tanya Dion.
"Baiklah ini ya." Dion menyerahakan sejumblah uang yang kasir katakan.
"Permisi ya.. ayo." Dion dan Rena meninggalkan toko itu.
"Ini es krimmu." Dion menyerahakan es krim yang tadi Rena beli dan di bayar oleh Dion.
"Aku ganti ya uangmu." Rena hendak mengambil uang dari sakunya tapi dengan cepat Dion melarangnya.
"Tidak perlu. Tidak apa apa kok. Aku pergi dulu ya.. Sebentar lagi jam masuk kerja. Bye.." Dion seperti tidak ada dosa langsung saja naik ke atas motornya dan mengendarainya pergi dari situ.
"Lain kali aku traktir ya... Dan saat itu tiba jangan kabur kayak gini lagi." Rena meneriaki Dion dan Dion hanya mengangukan kepalanya sekali dengan yakin dan meninggalkan Rena.
***
Roy sudah sampai di rumahnya. Di lihatnya wajah sang istri cemberut tak bersahabat.
__ADS_1
"Kenapa baru pulang. Katanya sebentar. " Kata Debora tanpa merasa juga pernah melakukan hal yang sama pada Roy.
"Memangnya kenapa, aku baru saja bisa tak pulang karna memang ada urusan pekerjaan. Bukankah kamu lebih sering tidak pulang demi pekerjaanmu. Aku tidak pernah mempermasalahkannya." Roy membela dirinya.
"Apa yang penting. Kan cuma saham aja. Kalau aku wajar, job aku gak boleh kelewatan. Kalau kelewatan aku gak dapat penghasilan l dan karir aku bakal hancur Roy." Debora membela dirinya sendiri dengan alasan yang tak sesuai kenyataannya.
"Ya dan masalah saham adalah pekerjaanku di perusahaanku. Kalau aku kecolongan satu saja saham sama saja aku bodoh. Membuang saham yang banyak orang lain inginkannya juga, tapi aku malah membuangnya dan membiarkannya. Nanti jika semua saham aku begitukan maka aku akan bangkrut karna kehodohan yang kamu tanamkan pada aku barusan." Roy juga mengikuti gaya pembelaan Debora.
"Hei kamu ini... Ck, kalau cuma satu saja saham yang hilang kamu bisa mencari pengantinya lagi. Aku kan kemarin sudah bilang ayahnya John ingin menanamkan sahamnya di perusahaan kamu. Anggap saja ayah John mengantikan saham yabg hilang tadi malam itu. Dan kamu bisa menikmati pesta denganku Roy." Debora mati matian ingin memenangkan debat ini.
"Apa sepenting itu ayah John bagimu? Sehingga kamu begitu mendukung setiap apa yang mereka lakukan?" Suara Roy melemah tak seperti tadi saat ia membela dirinya.
Debora juga tidak bisa menjawab pertanyaan Roy. Entah mengapa mulutnya kaku tidak bisa berucap dengan tingginya lagi.
"Mengapa kamu sangat menginginkan mereka untuk bergabung dengan kita... Apa perusahaanku terlalu kecil sehingga harus menerima mereka. Kamu tahukan.. Perusahaan aku ini perusahan terbesar kedua. Memang kedua. Tapi perusahanku lebih tinggi dari pada perusahaan ayah John. Kamu pikir aku gak cari tahu tentang John dan keluarganya. Mereka memang tinggal di Amerika. Tapi kalau membandingkan masalah perusahaan maka perusahaan aku yang menang. Untuk apa aku menarima perusahaan yang sok besar dengan percaya dirinya masuk dan menama saham di perusahaanku?? Itu sama saja aku hanya menguntungkan mereka. Apa itu bukan bodoh namannya. Persaingan politik tidak bisa kamu anggap remeh, hanya karna kamu mengenal mereka, hanya karna kamu dekat dengan mereka tapi pikirkan efeknya ke dirimu sendiri nanti. Pikir itu kedepan, bukan terus menengok ke belakang." Roy sengaja menyinggung Debora.
Debora memang tersinggung dengan kalimat akhir Roy yang memang benarnya tapi Debora kembali pada egonya lagi "Jadi kamu pulang hanya untuk mengatakan itu?"
"Tu kamu mulai lagi. Cuma di bilangi aja marah, coba tadi.. Kamu marah marah karna aku gak temani kamu malam tadi di pesta. Dan bilang kalau pekerjaan aku gak penting yang penting itu pekerjaan kamu. Kamu itu maunya apa?" Roy sudah habis kesabaran dengan sikap acuh tak acuh Debora padanya.
Dari pada emosi melebihi ini Roy meninggalkan Ruangan itu dan naik ke kamarnya dan memilih untuk mandi lagi untuk menyejukkan hati dan pikirannya kini, Roy sepertinya sudah benar benar jenuh dengan sikap Debora. Apalagi saat ini Roy juga punya wanita lain yang masuk dalam hati dan pikirannya.
"Rasanya aku ingin pulang ke Rena saja. Sudah cukup semua ini." Guman Roy saat di bawah kucuran shower. Membiarkan air menghujaminya dengan dinginnya. Mambasuh tubuh Roy yang nampak mengoda para kaum hawa dengan bentuk atletisnya.
Setelah puas dengn kucuran airnya Roy mencerminkan dirinya di depan cermin dan menatap bahunya yang samar samar terlihat ada bekas kuku kecil di sana. Kuku siapa lagi kalau bukan kuku Rena semalam. Karna menahan sakit tak sengaja Rena menamcapkan kukunya di bahu Roy.
Roy tersenyum melihat bekas itu. Senang rasanya ada seorang yang ada untuknya dan bisa menghilangkan rasa rindunya akan Sentuhan mesra.
Roy keluar dari kamar mandi dan langsung menuju walk in closet dan langsung mengenkan setelan jasnya yang baru. merapikan rambutnya yang basah dan keluar dari situ menuju meja kerjanuya yang terdapat di kamarnya.
Di atas ranjang sudah ada Debora uang menantinya sejak tadi. Debora sedikit membuka baju atasannya agar terlihat menggoda Roy.
Roy..
__ADS_1