AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 64


__ADS_3

Debora terkejut mendengar penuturan Roy dengan segera Debora berpura-pura mual dan berlari ke kamar mandi terdekat. Eyang menyusunnya dan membantu Debora, Eyang pun berteriak memanggil-manggil Roy agar juga ikut membantu Debora. Roy datang dan hanya berkacak pinggang melihat akting Debora di depannya. sungguh kasihan melihat Eyang yang berhasil dibodohi Debora.


"Maaf Eyang Aku harus pergi sekarang, kata Eyang tadikan Debora hanya membutuhkan Eyang kalau begitu aku akan pergi dulu..." tanpa mendengarkan ocehan dan dumelan dari Eyang, Roy segera meninggalkan rumahnya.


"Ya ampun Roy Kenapa anak itu? Debora Udah nggak papa kah?" Eyang sangat khawatir kepada Debora sedangkan libura hanya berpura-pura saja.


"Iya Eyang Debora tidak apa-apa..." percuma usaha yang baru saja Debora lakukan tidaklah menarik kepedulian dari Roy, Roy malah pergi dan membiarkannya begitu saja. Debora yakin Roy pasti menemui wanitanya di apartemen kemarin yang ia datangi bersama John.


Roy sedang dalam perjalanan menuju apartemen pena sekilas mimpi yang ia dapat membuat hatinya resah. Roy bermimpi jika sekarang Renald sedang bersama laki-laki lain di apartemen itu bahkan mereka berdua tidur bersama.


Sementara itu Rena dan Dion sudah sampai di apartemen, Dion mengantarkan Rina sampai di depan unitnya


"Rena aku akan ke rumah sakit lagi, tadi ada perawat yang mengabariku jika kondisi Ayahku kurang baik dan aku harus segera ke sana untuk mengonfirmasi tindakan selanjutnya... " ungkap Dion dan juga sekaligus berpamitan kepada Rena


"Semoga ayahmu Cepat sembuh ya Dion aku akan berdoa yang terbaik untuknya dan ya Terima kasih untuk hari ini hari ini sangat menyenangkan... " Dion merasa puas dengan apa yang Rena katakan. Membuat Rena senang itu sudah sangat cukup untuknya


"Oh iya Rena ini nomor ponselku kalau kamu perlu aku segera hubungi, kamu tidak perlu segan untuk menghubungiku karena aku akan selalu punya waktu untuk kamu... " Rena menerimanya


"Iya pasti akan ku kabarin jika aku membutuhkan teman untuk bercerita lagi... Boleh kan? " Dion tersenyum lagi dan tentu saja Ia senang jika Rena terus mengandalkannya.


"Tentu saja aku akan selalu siap untuk menjadi teman bicaramu. " setelah berpamitan, Dion pun meninggalkan unit Rena dan saat di lift, Dion bertemu dengan Hery yang sedang terburu-buru keluar dari lift sepertinya Hery tidak mengetahui jika orang tersebut adalah Dion sementara Dion tahu jika itu adalah Heri dan pasti Heri datang untuk bertemu dengan Rena, tentu saja ingin tahu kondisinya dan pastinya adalah perintah dari Roy, pikir Dion.


Dion tidak ingin terlalu ikut campur dalam masalah Rina dan juga Roy Oleh sebab itu ia memilih melanjutkan perjalanannya tapi jika itu masalah Rena maka dia adalah yang nomor satu untuk menemani Rena. baru saja Rina meletakkan tasnya di sofa dan melepas sweater-nya, bunyi bell unitnya berbunyi.


Rena kira itu mungkin Dion yang kembali karena mungkin ada barangnya yang tertinggal, Rena pun membukakan pintunya dan melihat rupanya Hery yang berdiri di depan pintu dengan nafas yang terengah-engah.

__ADS_1


"Heri Kenapa kamu seperti itu?" Rena bingung melihat kondisi Hery yang penuh dengan peluh, karena tadi saat menuju ke sini dari mobil Hery langsung berlari dan hanya diam ketika di dalam lift tapi dengan hati yang sangat gelisah, saat sampai di lorong pun Hery berlari hingga sampai ke Unit Rina.


"Kenapa kamu tidak menjawab teleponku, aku berkali-kali menghubungimu...? " Hery benar-benar khawatir dengan keadaan Rena.


"Aku sangat khawatir padamu Rena....! " jujur itu yang paling dominan yang Hery rasakan ia sangat mengkhawatirkan karena karena sejak tadi pagi setelah diantar ke apartemennya Heri tidak mendapat kabar satupun dari Rena.


"Aku hanya.... "


"Hery.... Rena... " teriak seseorang dari jauh, menoleh dan melihat itu adalah Roy, sangat terlihat di raut wajah Roy Jika ia sangat marah.


Roy tiba di apartemen Rena dengan rasa yang semakin menjadi ketika melihat ada mobil Hery di parkiran tersebut dengan segera Roy menuju unit Rena dan melihat Heri di depan pintu Renault. Saat sampai di hadapan Rena dan juga Hery, Roy wajah Hery, wajah Hery penuh dengan peluh dan juga acak-acakan pikiran Roy pun berkelana ke sana kemari, jangan-jangan Roy dan Rena melakukan kegiatan panas sehingga membuat Heri berkeringat seperti itu, pikir Roy.


Buggghhh...


Rena terkejut melihatnya. "Roy, kenapa kamu meninju Hery...." Rena hendak menolong Hery yang tersunkur di lantai.


"Kalian berdua..." Nafas Roy memburu, matanya melotot melihat intraksi kedua orang di depanya.


"Rena... Aku mohon, jelaskan pada Roy apa yang terjadi, kita berdua tidak melakukan apa apa di rumahku.." Hery berusaha bangkit dengan bantuan Rena memegangi tangannya.


"Apa maksudnya? Kitakan tidak melakukan apa apa..." Rena bingung sebenarnya Roy kenapa dan kenapa Hery juga mengatakan hal yang tak di mengerti Rena.


"Kamu tidur dengan nyenyak dengan laki laki ini.. ?Apa maksudmu Rena... Kurang apa yang aku berikan padamu... Semuanya sudah aku berikan..." Roy juga mengeluarkan semua amarahnya.


"Roy.." Akhirnya Rena mengerti apa yang membut Roy marah.

__ADS_1


"Roy aku mohon, dengarkan penjelasan aku dulu..." Rena berusaha meminta juga pada juga pada Roy.


"Apa yang ingin kamu katakan hah???" Roy mendorong Rena sedikit keras. Mungkin amarahnya tidak dapat di tahan lagi.


"Roy...." Hery memegangi Rena yang hampir terjatuh dan berteriak keras pada Roy.


Rena juga terkejut dengan Roy yang mendorongnya seperti itu. Bila Hery tidak menangkapnya maka Rena pasti akan berduduk di lantai itu dengan keras.


"Roy... Kamu kenapa...? Aku tahu, kamu marah padaku, kamu marah karna aku membawa Rena ke rumahku, Tapi tolong dengarkan dulu kenapa. Apa kamu tahu, Rena memiliki rasa takut pada Gelap? Apa kamu tahu seperti apa betapa takutnya Rena di dalam gelap? Malam itu listrik di Apartemen ini padam, Rena tak mau tinggal di dalam kegelapan, maka aku membawanya ke rumahku, aku sudah menawarkannya untuk pulang ke rumahmu, tapi Rena gak mau karna ia takut pada Debora dan Eyangmu. Maka aku membawanya ke rumahku. Dan kamu sama sekali tidak tahu penderitaan apa yang Rena alami, kamu tidak ingin mendengarnya, kamu membiarkan Rena memendamnya sendiri." Hery juga sangat marah pada tindakan kasar Roy pada Rena di depan matanya.


Roy diam tanpa kata, Roy menoleh pada Rena, tampak Rena sangat Syok dengan Roy yang bertindak kasar padanya tadi.


Setelah mendengarkan Hery dan perlahan pun Emosi Roy mereda. Tapi Hery tampak masih sangat marah. Nafasnya tak teratur dan di hembuskan dengan kasar. Dada Hery tanpak Kembang kempis menahan semua amarahnya.


"Rena aku..." Roy ingin menyentuh Rena tapi Rena langsung bersembunyi di belakang tubuh Hery.


Wajah Rena pucat dan memudar, bibirnya bergetar, tanganya saling meremas, seakan ketakutan dengan Roy.


"Rena aku minta maaf.. Aku salah.. Rena aku..." Roy bingung harus mengatakan apa karna ia melihat Rena mulai takut padanya, bukannya mendengarkan penjelasan Roy, Rena memilih untuk masuk kedalam apartemennya.


Roy..


off dulu kawan..


Kok author liat sekarang pemberitahuan Author sepi banget looo.. Bantu ya like dan koment.. Biar author gak kesepian...

__ADS_1


__ADS_2