
Roy hanya bisa menjawab, "Iya Eyang sudah selesai tadi.. Ini kan Eyang yang minta ya Roy dan Hery harus turutin kan..."
"Oke Eyang tunggun ya.." Panggilan pun terpustus.
Roy meletakan ponselnya, "Hery tumben ya Eyang mau ketemu kamu.. Apa kamu ada janji sama Eyang mau ketemu Dia.?" Hery mengeleng dengan Cepat.
"Aneh.. Tapi mungkin Eyang kangen kamu Her. Kamu juga dulu dekat sama Eyang, bisa di bilang kamu sudah di anggap cucu juga sama Eyang... Mungkin karna itu Her..." Rpy menganggukkan kepalanya yakin.
***
Rena tidak memakan makanan yang di kirimkan Roy untuknya. Nafsu makannya juga tidak ada untuk menyentuh makanan itu.
"Sampai kapan semua ini... Semoga cepat berakhir... Dengan atau tanpa Roy aku harus hidup.. Anak ini juga patut mendapat hidup yang lebih baik..." Tekad baru Rena.
***
Mobil mewah sudah terparkir di halaman rumah dengan Indahnya, kedua laki laki itu keluar dari mobil itu. Tampak seorang wanita kegirangan dengan kadatangan mereka.
"Eyang... Roy sudah pulang..." Panggil Debora ke kamar sang Eyang.
Ia ingin Eyang segera menemui Roy dan Hery dan mengatakan apa yang Debora inginkan.
"Hahhh..? Oo iya bantu Eyang turun ke ruang tengah ya.." Dengan semangat 45 Debora siap melakukan apa yang Eyang minta padanya.
"Wah... Kedua cucu Eyang ini gak pernah berubah ya.. Selalu gini..." Eyang menuruni tangga bersama Debora dan melihat Roy dan Hery sedang duduk di sofa sambil mengibas ibaskan kemeja masing masing.
"Eyang ini panas gini kenapa... AC nya mati kah..?" Roy tampak kepanasan begitu pula dengan Hery.
"Eeemm Eyang gak tahu tuh.. Nanti minta orang perbaiki ajalah... Hery gimana kabar kamu.. Sehat..?" Eyang duduk dan berlarih berbicara dengan Hery karna tujuan awalnya tadi Adalah Hery.
"Baik Eyang Hery sehat kok.." Hery hanya mengatakan yang sebenarnya.
"Hery ada yang ingin Eyang bicarakan pada kamu.. Bisa ikut Eyang sebentar.." Ajak Eyang, Ia menoleh pada Roy dan juga Debora, berharap mereka tidak ikut campur masalah Hery dan fokus saja pada rumah tangga mereka yang anak segera bertambah anggota.
"Ooohh boleh Eyang..." Hery setuju.
"Ayo sini.." Keduanya kini menuju Taman di belakang Rumah Roy.
__ADS_1
...
Hery dan Eyang menuju bangku yang ada di taman. Hery mengiring Eyang dengan sangat lembut.
"Hery kalau kamu bawa Eyang jalan gini besok baru kita sampai di Bangku itu.." Tunjuk Eyang dengan Kesal. Hery terlalu lambat membawanya, memanglah pelan pelan tapi tak sepelan ini juga.
"Iya kan Eyang harus jalan pelan pelan..."
"Tapi Eyang udah mendingan kok tadi Eyang dan Debora ke rumah Sakit dan hasil pemeriksaan Eyang juga bagus." Cerita Eyang.
"Iya baguslah Eyang sini kita duduk Dulu.." Hery mendudukan Eyang duluan baru dirinya duduk di samping Eyang.
"Apa yang ingin Eyang bicarakan sama Hery... Tumben Eyang ingat sama Hery." Hery sangat penasaran dengan apa yang membuat Eyang memanggilnya bahkan ingin bicara berdua dengannya.
"Hery.. Kamu sayang seseorang.. Kamu cinta seseorang...?" Eyang ingin langsung memulai pembicaraannya tapi ia juga bingung harus bicara dari mana.
"Eeemm.. Itu.. Ya ada lah Eyang... Heheheh.." Hery ragu menjawab pertanyaan Eyang.
"Ya Hery... Eyang dengar dari Roy dan Debora kalau kamu memiliki pacar..." Hery menyipitkan matanya.
"Hery... Apa benar pacar kamu itu sedang mengandung..?"
"Iya Roy.. Ini yang terbaik.. Aku sudah pikir ini baik baik. Dan inilah yang baiknya terjadi.." Debora melipat lengannya di dadanya.
"Debora... Kamu bodoh atau bagaimana.. Rena itu istriku.. Dan dia juga sah menjadi istriku.. Bukan main nikah nikahan aja.." Roy tak terima.
Debora menceritakan apa yang sedang Eyang minta pada Hery. Roy tentu sangat terkejut karna tidak mungkin Hery menikah dengan Rena. Bagaimana pun Rena masih sah istrinya meski hanya istri keduanya saja.
"Aku tidak akan tinggal diam Debora. Hari ini juga aku akan ungkap kebenarannya..." Roy berjalan menuju tamn dengan tergesa gesa.
Ia tak lupa juga membawa bukti butki yang sudah ia kumpulkan untuk menceraikan Debora.
"Ya silahkan saja.. Tapi aku minta kamu lihat dulu ini..." Debora menyusul dan membawa amplop coklat di tangannya.
Roy menghentikan langkahnya dan menoleh. Di amplop itu ada lebel rumah sakit tempat Eyangnya memeriksakan diri.
"Apa itu..?" Rasa penasaran mecuat.
__ADS_1
"Ini hasil pemeriksaan Eyang tadi di rumah sakit. Aku gak kasih tahu yang sebenarnya sama Eyang, dan ini asli dari dokter. Kalau kamu gak percaya sama surat ini maka kamu bisa tanya langsung sama dokter yang periksa Eyang atau bahkan dokter kepercayaan kamu.. Nihh.." Debora menyerahkan amplop itu dan berlalu saja dari hadapan Roy.
Dengan perlahan Roy membukanya dan membaca isi hasil pemeriksaan ini. Mata Roy lama kelamaan memerah tak sanggup ia terus membaca maka ia menghempaskan kertas kertas itu ke lantai.
"Eyang... Gak mungkin kan.." Roy mengeluarkan ponselnya dan menghubungi dokternya.
***
"Hery kenapa kamu gak nikahi aja pacarmu itu. kasian kan dia hamil.. Masa kamu gak kasian itu kan anak kamu juga Her..." Eyang melanujutkan apa yang ingin dia sampaikan. Walaupun ia tidak tahu yang terjadi sebenarnya tapi ia berusaha sebisanya membantu dengan berbekal pengalaman hidupnya saja.
"Tapi Itu susah Eyang.. Aku.. Dia..." Hery bingung menjawabnya seperti apa.
"Hery... Kalau kamu memang sayanh dan cintai dia, apa salahnya kamu nikahi dia. Kamu juga gak ada pacar lain kan selain dia? Kalau dia gak mungkinlah hamil anak orang lain. Kalau kamu merasa kamu yang buat ya kamu harus tanggung jawab. Berani buat berani tanggung jawab Hery..." Hery hanya bisa menganga mendengar ucapan Eyang.
"Eyang tapi bukan aku yang buat.. Mana bisa aku tanggung jawab.. Kalau aku yang buat okelah... Kita bikin acara besar besaran.. Ini...? Hah.. Roy...!!!" Hery sangat tidak suka keadaan yang ia terima ini. Dan ini semua karna Roy.
Roy melihat dari kejauhan dan mendengar apa yang Eyang pinta pada Hery. Rpy juga dengan jelas melihat ekspresi Hery yang bingung menjawab apa.
"Hery... Aku rasa kamu harus benar benar tolong aku kali ini... Kamu harapan aku.." Hanya hati yang bisa berbicara dengan seadaanya dan tak ada kebohongan lagi.
"Hery yang di katakan Eyang itu benar Hery..." Roy mendatangi Hery dan juga Eyang.
"Roy.." Hery dan Eyang bersamaan.
"Iya Her.. Apa salahnya kamu tanggung jawab pacarmu..." Hery semakin membesarkan mulutnya menganga.
"Roy kamu ikut ikutan kami dua...?" Eyang tak suka kedatangan Roy yang mengganggu mereka.
"Eyang Hery kan juga teman bahkan sahabat Roy.. Ya Roy harus kasih masukan yang benar donk.. Roy juga sudah lama kok minta Hery tanggung jawab pacarnya.. Bahkan dari sejak Hery mulai main ke rumah pacarnya aku sudh minta dia untuk menuju jenjang yang lebih serius, tapi Hery ngeyel. Dia malah cetak duluan..." Hery berdecih kesal mendengarnya.
Kenapa sekarang malah dirinya yang seakan bersalah. Bahkan di jelek jelekkan lagi.
"Baiklah Roy kalau itu yang kamu mau... Maka jangan salahkan aku nanti jika aku sedikit nakal dan tak patuh.." Hery memilih untuk ikuti saja kemauan Roy.
"Tuh Her... Dengarin.. Roy ini sudah lama menjalankan rumah tangganya.. Belajar dari dia ya..." Hery tersenyum masam.
"Belajar apanya... Belajar di selingkuhi dan akhirnya simpan wanita lain di apartemen dan asistennya yang tanggung jawab...?"
__ADS_1
Roy...
Hahaha... Ayo like donk guys... makin serukan... Susah payah Autho pikirnya ini... Berilah hadiah seperti like gitu... Hehehe...