
Syuart dan Albert juga dalam sebuah perjalanan. Wajah Stuart yang tadinya manis kini sudah berganti dengan lebih serius.
"Di depan itu kan..?"
"Hmmm" Stuart mengangguk.
"Kita tunggu.." Albert memarkirkan mobilnya.
"Apa itu..?" Stuart menoleh arah yang di tunjuk Albert.
"Cinta ku.." Stuart melihat seorang gadis cantik dengan baju kuning dan rok spam hitam.
Adel turun dari mobil dan tak lama kemudian Bisma pun menyusul turun dari mobilnya.
"Ayo.. Tapi rasanya deg degan yah.. Haaahhh sampai kapan rasa ini hilang.." Keluh Bisma.
"Hmmmm.. Mulai lagi.. Tadi baik baik aja.." Adel berkacak pinggangnya membuat dirinya terlihat sangat imut dengan bibir manyunnya.
"Jangn manyun manyun nanti abang abang cilok lirik.." Sarkas Bisma.
"Cantiknya dia.. Kamu liatkan.. Dia cantik dan imut.. Sssttt.. Punya aku.." Stuart seperti tak bisa menahan suara hatinya.
"Ya udah.. Kayaknya Dona juga masih ada jabwal sama pasiennya yang lain.. Kota duduk di sana dulu ya.." Ajak Adel dan menarik tangan Bisma.
Bisma hanya pasrah dan tak menjawab.
"Liatkan.. Bisma mana bisa buat Adel bahagia.. Adel itu juga mau bahagia.. Masa Adel bawa ke sana aja dia gak mau.. Kalau sama aku. Biar ke ujung dunia pun aku mau ikut Adel.." Iri melihat Bisma di bawa Adel ke sebuah taman tak jauh dari tempat praktek Dona.
"Kamu gak mau jujur sama aku aja kah yang terjadi sama kamu Bisma..?" Adel membawa Bisma duduk bersamanya.
__ADS_1
"Aku malu Del.." Bisma meremasi jari jari tangannya.
"Gak ada yang perlu kamu malu sama aku ini. Aku kan istri kamu.." Adel belagak dewasa.
"Iyalah itu.. Istri.. Istri..?" Bisma menatap langit sore ini.
"Dulu... Aku bisu Del.. Aku gak bisa ngomong apa apa.. Aku juga gak bisa pakai bahasa isyarat. Cuma bisa pakai Haamm heeeemm aja kayak anak kecil.. Sulit untuk berucap.." Lirih Bisma tapi masih bisa di dengar Adel.
"Lalu..?"
.
.
.
.
.
"Bisma bisu.. Gak bisa berucap apalagi bicara. Papa bawa di ke Indo.. Dengan Singapura dengan alasan pengobatan. Sekitar 6 bulan papa dan Kak Bisma di sana. Dan akhirnya mereka pun pulang.. Tentu Mommy senang.. Ternyata gak sia sia 6 bulan di sana.. Bisma bisa berbicara. Pas itu.. Kak Bisma baru berumur 13 tahun.. Awalnya ya.. Semuanya baik baik aja, tapi setelah menginjak 18 tahun.. Kak Bisma memperlihatkan keaslian dia. Pergaulannya, mommy Marry awalnya gak percaya desah desuh tetangga. Tapi saat dia lihat sendiri dengan mata kepalanya, baru dia percaya. Dan sejak itu aku jadi mata mata untuk Bisma. Dan sampai sekarang Bisma masih terganggu.." Hery melipat tangannya
"Dari yang aku dengar kemarin dari Bisma.. Kayaknya saat pengobatan itu.. Sesuatu pasti terjadi.. Buktinya dia bilang tentang masalah bisunya itu, yang hampir aku lupakan.. Aku lupa kalau kak Bisma dulu pernah bisu.. Akan aku cari sampai ketemu.. Pasti.. Saat itu.. Saat itu semuanya di mulai.." Hery menatap laptopnya.
"Sayang..? Aku mau semangka.." Rena yang tegang mendengar cerita malah di kejutkan dengan permintaan semacam itu.
"Sayang..." Rena memanyunkan bibirnya.
"Kenapa mau di cium sini.." Tanpa kata tunggu lagi Hery melakukan yang ia katakan.
__ADS_1
"Jangan gigit.. Sakit..!" Rengek Rena karna bibirnya di gigit Hery.
"Siapa suruh imut.. Manyun manyun. Ya ku gigit.." Hery melakukannya lagi.
"Eemmpphh.."
.
.
.
.
.
"Apa kamu mau biarkan mareka di sana..?" Albert menatap sang kakak yang fokus pada Satu orang saja.
Tak ada jawaban dari Stuart membuat Albert terdiam lagi.
.
.
.
.
"Lalu.. Lalu apa Bisma..?" Adel megusap bahu Bisma.
__ADS_1
"Aku malu.. Aku gak bisa keluarkan suara aku.. Rasanya berat sekali.."
Bisma..