AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 171


__ADS_3

***


Ponsel Roy berdering. Nur melepas peluknya dan diam di tempatnya.


"Haloo.. Sayang..?" Roy menjawab. Itu adalah telpon dari Debora dari Jerman.


"Haloo Roy.. Gimana kabar kamu..?" terdebgar suara Debora dari sebrang telpon.


"Kurang baik karna aku rindu kamu.." Roy menggombal seperti biasanya.


"Isssh kamu ini.. Kamu lagi di mana ini.. Lagi apa..?" Debora memulai intrograsinya.


"Lagi di kamar, buka laptop.. Ada Email dari Hery juga yang harus aku buka tadi.." Roy keasikan telponan dengan Debora dan tak ingat ada Nur di sampingnya.


"Eeemm apa selamam kamu tidur sama Nur..?"


"Ya.. Mau gak mau sayang.." Padahal yang mereka berdua lakukan lebih dari sekedar tidur.


"Oohh gak ngapa ngapain kan..?" Debora sudah banyak menduga duga beberap Hari ini.


"Gak ada sayang. Oh ya sayang kapan pulang.. Aku dah kangen banget ini.." Roy tak sabar lepas dari Nur.


"Ya.. Hari ini tadi Hery dan Bisam tanya sama beberapa bandara tapi belum ada yang berani buka penerbangan tapi kayaknya besok sudah bisa.." Debora terdengar sangat bersemangat.


"Ya baguslah.. Semoga saja ya.."


Masih banyak lagi pembicaran mereka. Mungkin membutuhka satu jam lamanya.


"Oke Roy udah dulu ya.."


"Ya sayang.." sahut Roy.


"Lanjutlah pekerjaan kamu tadi.."


Roy mengiyakan dan setelah sayang sayangan di akhir kalimat, barulah panggilan itu terputus.


"Ooowww... Aku juga mau donk sayang sayangan gitu.." Nur mencolek colek pinggang Roy.


Tiba tiba saat Roy ingin menjawab perkataan Nur, gantian kini ponsel Nur yang berdering.


"Eeehh Debora telpon aku juga.." Nur sangat senang.


"Ingat janji kamu Nur.. Kalau gak..!?" Roy mengancam Nur.


"Oke aku jawab sesuai kehendak kamu.. Tapi ada syarat ya..." Nur tak kurang ide juga.

__ADS_1


"Astaga Nur angkat itu panggilannya..!" Roy panik karna Bur tak kunjung memencet dan menerima panggilan Debora nanti Debora akan berpikiran macan macam kalau Nur lambat menjawab telponnya.


"Janji dulu..!" Nur memberikan kelingkingnya.


"Oke.. Aku janji Nur.."


"Janji gak nolak yang aku minta, meski itu aneh sekali pun...?!" Nur terus mengulur waktu.


"Ya aku janji apa pun yang kamu mau.. Semuanya aku kasih meski itu aneh aneh.." Roy sudah kehabisan kesabaran.


"Halooo" Nur menerima telpon Debora.


"Kenapa lama banget angkatnya.. Mati kamu hah..?" baru terhubung Debora langsung menyerang dengan kata kata kasar.


"Maaf tadi aku nonton drakor aku.. Lagian kenapa sih.. Kayak penting banget aja.." Nur menjalankan tugas bohongnya.


"Haaahh.. Kamu janji kan sama aku..?" Roy membulatkan matanya.


"Ya.. Aku akan jujur sejujur jujurnya.." Sahut Nur lagi menatap Roy.


"Kamu..?!" Roy menunjuk Wajah Nur, tapi Nur hanya meletakan telunjuknya di bibirnya.


"Cepat..!!" Bentak Debora.


"Aku semalam itu nonton drakor aku yang satunya, terus Roy datang deh.. Dia sama sekali gak liat aku.. Kayaknya aku jadi patung di mata dia.. Eemm abis itu Roy naik ke atas tempat tidur main hpnya sebentar, terus dia tidur duluan.. Abis nonton drakor aku ke dapur, ambil air mium, isi botol air minum aku, aku balik lagi ke kamar. Taruh botol air aku di nakas, terus aku tidur juga, itu sudah jam 11 malam.. Ya aku tidur deh.. Bangun udah jam 7 pagi, aku sama Eyang olah raga, terus Eyang panggil Roy juga untuk ikut olah raha terus kami 3 di halanam belakang olah raha terus jam 10 siang aku mandi.. Terus ini di kamar nonton drakor lagi.." Nur mengedipkan matanya pada Roy. Seketika Roy tenang.


Setelah Nur berhasil membuat Debora percaya dengan ceritanya, barulah panggilan itu terputus.


"Aku sudah menjalankan tugas aku dengan benar.. Dan nanti malam tugas kamu lagi.." Nur bangkit dari duduknya, keluar dari kamar Roy.


"Aku harus apa lagi malam ini..?" Roy bergumam.


Roy menatap bawahannya. Rasa takut akan di buat terbuai oleh Nur lagi membuat pikiran Roy melayang layang.


"Ck.. Wanita itu.." Roy menutupi bagian bawahnya itu dengan tangannya.


***


"Debora..?" Rena datang ke kamar Debora memastinkan Debora baik baik saja.


"Ya Rena..?" Debora sedikit terkejut karna tadi ai sedang melamu memikirkan sesuatu.


"Kamu baik baik aja kan.. Mau makan apa..? Mungkin ada yang kamu mau.. Aku juga mula bosan loo di sini.."Rena duduk di samping Debora.


"Eeemm aku.. Rena..?!" Rena menunggu kata selanjutnya dari Debora.

__ADS_1


"Apa..?" Rena sangat penasaran.


"Rena.. Aku.." sepertinya ada yang ingin di sampaikan Debora pada Rena.


"Apa..?" Rena sudah sangat penasaran.


"Kamu dulu.. Pas aku.. Itu video aku dan Roy kamu.. Nangis kah?" Rena mengerutkan keningnya.


"Video?" Rena lupa.


"Oohh video itu.." Rena baru ingat.


"Ya.. Apa kamu.. Yang buat kamu kuat apa..?" Tiba tiba Debora penasaran.


"Aku.. Dulu aku sedih.. Aku nangis.. Tapi.. Ada Hery yang kuatkan aku.. Dia hibur aku dengan segala cara.. Aku kuat karna Hery.." Rena mengingat saat saat Hery terus bersamanya meski saat itu Rena dan Hery tidak mengetahui kalau bayi yang id kandung Rena adalah anak Hery dan tetal mengira itu adalah anak Roy.


"Seorang yang lain ya..?" Debora menatap Rena.


"Eeem ya aku dulu cuma di kuatkan Hery. Oohh ya ada satu laki laki lagi.. Dion.. Ya dia juga selalu ada buat aku.. Dia baik banget.." Debora memicingkan mata.


"Dion..?"


"Iya Dion Wigara.. Kalau gak salah Hery bilang itu namanya." Rena menceritakan juga tentang pertemuannya dan Dioan pada Debora.


**


"Oohhh gitu.." Debora merasa terhibur mendengar cerita panjang Rena.


Lumayanlah mengisi waktu dengan mengulang hal yang telah lalu.


"Ya gitu deh.. Haahh aku buruk banget dulu Bora.. Aku kayak parasit.." Rena menatap Debora.


"Aku juga gitu Ren.. Aku kayak orang jahat dan serakah.. Dan liat apa yang terjadi.. Aku keguguran.. Aku merasa sakit yang teramat sakit, aku sudah baikkan sama Roy.. Roy balik sayang lagi sama aku, tapi ada lagi masalah baru.. Nur.. Nur masuk dalam rumah tangga kami.. Nur dan Eyang sangat kompak dan aku.. Aku dengar sendiri Roy dan Nur mengerang dan mendesa*** di dalam kamar mereka.. Aku.. Gak ada habisnya aku dengan semua masalah ini.. Kamu sekarang sudah bahagia Rena.. Kamu nikah sama Hery. Hery sayang bengat sama kamu dan anak anak kamu.. Dia terima kamu apa adanya, sedangkan aku.. Kalau aja dulu aku gak begitu sama John.. Pasti kisah cinta aku dan Roy gak gini. Aku gak selingkuh sama John.. Roy gak cari bukti perselingkuhan aku karna memang aku gak selingkuh, Eyang.. Eyang gak akan nonton bukti yang di simpan Roy, dan Eyang gak akan cari istri baru untuk Roy.." Debora merenungi semua itu.


Rasa penyesalannya semakin membesar. Ingin mengulang waktu tapi ia tidak bisa. Ingin menolak nasib tapi sudah di gariskan oleh sang pencipta. Hanya satu harapan Debora. Ia memiliki tempat mengadu dan tempat berteduh dulu dari semua ini.


"Kita sudah Jujur segala Hal Debora.." Rena menatap Debora yang sedang melamun lagi.


"Ya.. Itu membuat aku lega." Debora memejamkan matanya.


Tiba tiba Debora membuka matanya.


"Rena..?"


"Eeemm?" Rena menatap Debora terkejut.

__ADS_1


"Ada satu hal lagi yang mau aku tanyakan.." Debora memengai tangan Rena.


Rena...


__ADS_2