
Roy bedecak kesal bila Nur terus mengingatkannya akan hal itu.
"Nur aku mohon aku dalam keadaan sulit dan kamu malah makin buat sulit.. Bukannya tolongin aku kamu malah tambah masalah." Roy terus berusaha mendorong tubuh Nur agat turun dari tubuhnya.
"Ayolah Roy itu penawaran yang menguntungkan kamu.. Kamu yang Enak dan nanti kalau Debora pulang semuanya akan baik baik aja.. Kamu tenang.." Nur terus menggoda.
"Haaaahh.. Lalu intinya apa, jangan berbelit belit.." Roy sudah lelah.
"Seperti yang aku bilang tadi, Aku mau beberapa hari ini nanti, aku nempel sama kamu, dan tiap malam harus ada jatah untuk aku.." Nur yakin Roy pasti akan setuju.
"Itu sama aja bohong Nur.. Kita berdua malam kemarin sudah, terus malam ini lagi kamu minta nanti Debora telpon lagi dan bertanya.." Roy meluruskan semuanya.
"Makanya aku berbohong, aku gak akan bilang yang kita lakukan tiap malam. Dan kamu harus membayarnya dengan malam panas sama aku.. Setiap kebohongan harus di bayar malam panas menggelora." Nur menjelaskan sekali lagi.
"Haaaahhh kenapa kamu begitu terobsesi sama aku.. Ini.."
"Ssstt.. Ini bukan obsesi Roy.. Ini Cinta aku untuk kamu.. Apa salahnya aku cinta kamu. Kamu aku layani dan kamu yang untung.. Kenapa kamu banyak bacotnya orang tinggal bilang ya setuju.." Roy sudah kehabisan kata kata menjawab Nur.
"Oke.. Ya aku setuju puas...?" Roy tersenyum terpaksa untuk Nur.
"Yeeeyyy.. Ayo aku mulai ya.." Nur langsung melepaskan semua yang di kenakan Roy.
"Astaga..." Roy menutup matanya.
"Aaahhhrrrgg" Nur langsung menyerang bagian bawah Roy dengan mulutnya.
"Nur.. Sssttt.." Erang Roy.
"Sudah aku bilang kamu tinggal nikmati aja.." Nur melanjutkan aksinya yang lebih dominan dari Roy.
***
Keesokkan harinya di Jerman benar benar terjadi badai. Badai angin yang di sertai hujan deras.
Semua orang berkumpul di ruang tengah.
Adel melirik Bisma dan Bisma juga meliriknya.
Bisma menggelengkan kepalanya.
Duuarrrr..
"Aaaaauuu.." Semua orang terkejut mendengat gemuruh petir yang menyambar.
"Heeemm biasanya kalau kayak gini nanti mati listrik.." Gumam Bisma dengan bahasa Indonesia.
"Ya kah.?" Hery sedang menantau perusahaannya lewat internet.
"Ya.. Dan jaringan di sini juga mati, banyak kilat dan petir gini sangat mengangacu terjadinya konsleting listrik dan mematikan sinyal sinyal yang ada." Jelas Bisma lagi.
"Waaahh aku harus cepat kalau gitu" Hery segera mengerjakan tugasnya.
"Eeemm Hery.. Nanti kan Bisma dan Adel kembali ke Indo.. Eeemm nanti Bisma dan Adel kerja apa..?" Marry bertanya.
__ADS_1
"Eeemm tergantung Bisma mau jadi apa.. Kemarin Hery sudah tawarkan Bisma untuk jadi marketing tapi dia nolak. Dia malah minta jadi Cleaning service.." Ungkap Hery.
"Makanya itu.. Bisma kamu pikir pikirlah kerja jadi apa.. Kamu bilang kamu yang kerja dan Adel di rumah.. Kamu mau kerja apa..?" Marry bertanya pada Bisma lagi.
"Eeemm. Nanti aku cari Ma.."
"Isshh.. Awas aja, Hery nanti jangan sembunyikan kelakuan Bisma lagi. Kalau kamu sembunyikan, kamu juga kena." Ancam Marry pada kedua putranya.
"Ya Mama.." Keduanya Bersamaan.
"Eehh iya.. Ini gak ada sinyal.." Adel yang duluan menyadari tidak adanya sinyal internet.
"Wahhh.. Mati listrik juga.." Listrik di rumah besar ini juga padam.
"Ya untuk sementara kita padamkan lampu ya.. Takut.." Salah satu pekerja di Rumah Marry.
"Ya gak apa apa.."
Semuanya resah karna tidak adanya internet, tidak ada listrik. Hanya kedua orang ini saja yang tenang, Baby Alf dan Baby Elf.
Debora berusaha tenang. Meski tidak ads koneksi pada Roy, ia berusaha baik baik saja. Ia juga sudah memastikan kalau Roy dan Nur tidak melakukan apa apa.
"Semoga saja yang di katakan mereka itu benar.. Dan kalau pun itu hanya sebuah kebohongan maka aku mohon ya Tuhan.. Tinjukan kebenarannya.." Debora berdoa dalam hatinya.
Rasa was wasnya tentu masih ada. Ia terus berpikir kalau Roy dan Nur melakukan malam panas bersama lagi. Debora sudah mencoba untuk menepiskan yang ia rasakan. Berpikir kalau ia hanya mengingat malam di mana ia mendengar Roy dan Nur melakukannya dari balik pintu.
***
Roy membaca saluran berita pagi ini di televisi, benar benar terjadi badai di Jerman. Roy pun mencoba menghubungi Hery. Tapi tidak bisa, ia mencoba lagi menghubungi Debora. Sama pun hasilnya. Debora tak bisa di hubungi.
"Aaahh lelahnya.." Nur tiba tiba datang entah dari mana tapi yang pasti tubuhnya penuh dengan keringat.
"Kamu dari mana siang siang gini..?" Roy melirik Nur.
"Ini baru jam 10 Roy.. Aku abis olah raga di belakang sama Eyang.. Pyuuhh capek.." Nur mengelap keringatnya.
"Oohhh.. Ya lah itu.." Roy ingin bangkit tapi Nur menahannya.
"Apa Lagi..?" Roy di tarik paksa Nur.
"Roy.. Kamu lowong kan hari ini.. Kita jalan jalan yokk.. Aku bosan di rumah.." Ajak Nur.
"Jalan aja sendiri tuhh ada sopir kok.." Tunjuk Roy ke luar rumah.
"Iiiihh aku mau sama kamu Roy.." Nur bermanja manja.
"Nah kan.. Enak liatnya.. Makin akur kan.." Eyang juga bergabung dengan mereka berdua.
"Eyang.. Seru olah raganya..?" Roy mengalihkan pembicaraan.
"Ya serulah.. Nur pinter banget bikin gerakannya. Mantap deh.. Besok kamu ikut Eyang sama Nur olah raga juga ya. Besok tanggal merah.. Jadi kamu bisa ikut kami berdua ya.." Ajak Eyang. "Eyang liat kamu itu jarang Gerak Roy. Kalau kamu ikut Eyang dan Nur setidaknya sekali seminggu pasti badan kamu rasanya seger deh.. Cobain Roy.." Roy hanya menganggukan kepalanya.
"Jadi murid Nur bertambah nihh.. Roy ikut kan..?" Tanya Nur lagi.
__ADS_1
"Iya iya.. Aku ikut.." Roy malas berdebat. Lagi pula hanya olah raga bersama. Tidak akan menjadi masalah bukan..
***
Hari selanjutnya menyapa. Pagi pagi Roy sudah di bangunkan oleh Nur.
"Astaga Nur ini hari libur.. Aku mau santai santai aja bangunnya.. Ini masih terlalu pagi.." Rengek Roy tak ingin di bangunkan.
"Kamu sudah janji sama Eyang mau ikut olah raga.. Jadi dari sekarang harus bangun.." Nur menarik tangan Roy.
"Kamu kayak anak Kecil aja.." Roy protes.
"Loohh kamu yang kayak anak kecil.. Bangun aja di tarik tarik.." Nur akhirnya berhasil membawa Roy bersamanya.
"Eyang ini cucu manja kamu.." Nur membawa Roy ke depan Eyang.
"Eyang kamarin Eyang sama Nur sudah siang kok, gaknya pagi pagi kayak gini.." Protes Roy.
"Ya kan ada anggota baru ya harus cepat donk.. Kenapa.. Semalam tidur telat kah.. Hayoo ngapain..?" Eyang menyipitkan matanya mengintrograsi.
"Ma.. Mana ada.." Roy mengelak padahal semalam sesuai permintaan Nur, mereka berdua melakukannya.
"Sudah ayo bersiap.." Titah Eyang.
***
Mereka bertiga berkumpul di halaman belakang. Nur yang menjadi intrukstur olah raganya.
"Tarik nafas.. Hembuskan.. Tarik nafas hembuskan.." Roy dan Eyang mengikuti yang apa yang Nur lakukan di depan.
Roy seakan tak ingin menatap Nur, sepertinya Nur sengaja mengenakan baju yang ketat agar tubuhnya semakin terlihat indah di mata Roy. Berharap Roy tergoda pagi pagi padanya.
Nur menoleh melihat apa Roy dan Eyang mengikuti gerakan atau tidak. Nur melihat Roy tidak mengikuti gerakkan dengan benar.
"Roy.. Tangannya gini looo.." Nur menyentuhkan siku Roy pada dadanya.
"Oke pas.." Nur kembali lagi ke tempatnya.
Hatinya tertawa senang karna berhasil mengganggu Roy. Mereka kembali melanjutkan gerakkan demi gerakan.
Nur sengaja memberikan gerakan gerakan yang cukup seksi.
"Ya ampun Nur.. Eyang sudah tua gak bisa gerakkan kayak gitu.." oceh Eyang.
"Ini gerakan yang mudah kok Eyang.." Sahut Nur.
"Susah Nur.. Dadanya.. Kamu kan masih kencang gitu.. Ya enak lah bikin gerakkan kayak gitu.." Nur tertawa mendengarkan penuturan Eyang.
"Aaahh.. Eyang bisa aja.."
"Ya kan Roy.. Nur itu masih kencang.." Eyang menyenggol Roy.
"Ya suka suka Eyanglah.." Roy pasrah.
__ADS_1
Nur sangat senang melihat kepasrahan Roy. Nur berharap badai di Jerman sampai sebulan penuh. Agar Debora tak bisa pulang dan menghubungi mereka di sini.
Off dulu ya.. Untuk beberapa bab ini cerita Nur dan Roy dulu ya.. Gpp ya..