
Debora membuka matanya dan langsung di suguhkan dengan wajah tampan Dion.
"Eeemmm?" Debora tersentak terkejut.
"Mikirin apa sayang.. Yang semalam kah..?" Dion mencolek dagu Debora.
"Di.. Dion kamu..? Kapan masuk..? Kok aku gak dengar..?" Rentetap pertanyaan Debora.
"Kayak apa kamu mau dengar.. kamu lagi asik pejam mata.." Dion duduk di samping Debora.
"Makan dulu ya.. Kamu pasti lapar. Semalam udah menguras tenaga." Cicit Dion memang tak ada habisnya.
"Dion..!" pipi Debora merona.
"Apa sayang..?" Dion memeluk Debora tanpa ragu.
Setelah bersatu semalam membuat Dion tak takut takut lagi mendekati bahkan memeluk Debora langsung.
Dan benar saja. Debora sama sekali tidak menolak pelukkan Dion. "Ayo kita makan.." Ajak Debora.
"Oke.. Sini aku suapi ya.." Dion melakukan yang ia katakan, dengan telaten Dion menyuapi Debora.
Sepiring berdua, seperti judul sebuab lagu, tapi itu yang tengah di lakukan Debora dan Dion.
"Minum sayang..?" Debora mengangguk. Dion menyerahkan segelas air putih.
"Eeemmm" Debora sudah selesai makan.
Begitu juga dengan Dion. Semua makanan di piring itu juga sudah masuk dalam percernaan keduanya. Ah bukan, ketiganya.
__ADS_1
"Eemmm Dion.. Apa Diana sama Dario sudah pulang..?" Tiba tiba terlintas di pikiran Debora tentang kedua orang itu.
"Sudah... Aku selesai masak ini tadi Diana baru pulang.. Dario dalam kamar kayaknya.." Sambung Dion.
"Eeemmm" Debora mengangguk paham.
"Kenapa..?" Dion mecium kening Debora.
"Ck.. Aku malu Dion.. Apa yang mereka pikir kalau liat aku keluar dari kamar kamu... Bermalam di sini...? Tidur sama kamu..? Aduh.." Debora memegangi kepalanya.
"Gak ada yang mereka pikirin kok.." Sabut Dion seenaknya.
"Gak gimana.. Apa jangan jangan kamu sering bawa perempuan tidur di sini ya.. Makanya mereka biasa aja gak negur ataupun berpikir yang bukan bukan..?" Duga Debora.
"Bukan gitu sayang.. Mereka tahu.. Aku cinta kamu.." Cicit Dion. Lebih tepatnya pengakuan cintanya berulang kali.
"Isshh apanya.." Deboran melipat kedua tangannya di dadanya.
"Coba kamu teriak.. Minta tolong..! Aku jamin mereka gak akan peduli.. Karena mereka tahu.. Aku cinta sama kamu, aku gak akan nyakitin kamu" Tambah Dion.
"Bohong.." Cicitnya lagi.
"Bohong lagi.. Calon suami di bipsng bogong.."
"Suami?" Debora mendelik.
"Apalagi kalau bukan suami.. Kita kan udah kawin semalam.." Dion semakin jadi.
"Kapan..! Isshhh itu.. Bukan gitu juga kali.." Pipi Debora merona bukan main.
__ADS_1
"Hahahahahaha.. Aku suka liat pipi tomat kamu itu.. Eeeemmmaaaccchhh" Dion mengecup pipi merah merona itu dengan gemasnya.
"Eeemmm" Debora mengeram.
"Aku sayang kamu.." Bisik Dion.
Debora menatap mata Dion. Mata yang berbinar indah, tegas tapi penuh kasih sayang.
Dion melihat Debora terus menatapnya pun mendekati wanita hamil itu.
"Apa..? Mau aku apain..?" Celetuk Dion membuat fokus Debora hilang.
"Issshh Dion..!" Debora memukul dada bidang itu.
"Mau aku cium lagi kah..?" Dion yakin itu yang Debora inginkan.
"Gak usah.. Antar aku pulang..!"
"Pulang ke mana..?" pura pura bodoh.
"Ke rumah Rena..!" Debora mencubit lengan kekar di pinggangnya.
"Rena aja suruh kamu tinggal sama aku.."
"Issshhh.. Mengada ngada.." Sarkas Debora.
"Masa kamu mau tinggalin suami kamu ini.. Aku kan masih rindu kamu.. Masih pengen manja manja.." Dion berbaring di paha mulus Debora.
"Mandi sana.." Titah Debora.
__ADS_1
"Ayo.. Berdua..?!" Dion segera bangkit dan menarik Debora bersamanya.
"Eehh eehh kok berdua.. Kamu aja.." Debora protes tapi tak di dengarkan oleh Dion.