
Roy berpamitan dengan Debora juga.
"Sayang.. Aku pergi dulu ya.. Kamu hari ini ke kantor gak..?" tanya Roy.
"Eeemm kayaknya gak deh.. Aku tadi di saranin Eyang untuk ikut kelas Yoga untuk ibu ibu hamil.. Usia kandungan aku cukup untuk ikut latihan itu. Dan aku baca baca juga tadi di internet kalau itu bisa bantu proses melahirkan looo.." Debora antusias mengatakannya.
"Oohh jadi gak ke kantor nihh..?" Roy bertanya lagi.
Debora menggeleng dengan semangat dan senyumnya.
"Oke lah kalau begitu.. Aku berangkat dulu ya.." Roy mengecup kening Debora lalu setelah itu berangkat.
Debora hanya memandang punggung suaminya menjauh. Sebenarnya ia ingin ke kantor Roy seperti biasanya tapi karna Debora mendapat saran dari Eyang seperti itu maka ia memilih untuk mencobanya, sekarang kesehatan anaknya adalah yang utama.
***
Roy tiba di kantor bersamaan dengan Hery juga. Sepertinya Roy sengaja datang lebih awal agar bisa bertemu dengan Hery.
"Hery.." Panggil Roy saat Hery pura pura tak melihatnya.
"Apa lagi...? Mau bawa istri kedua kamu itu lagi..?" Hery mengungkitnya.
__ADS_1
"Jangan keras keras ngomongnya Her.." Roy membawa Hery ke dalam Lift.
"Apa..?" sepertinya Hery benar benar marah padanya.
"Hery dengarkan penjelasan aku dulu.." Pinta Roy.
"Apa yang mau kamu jelaskan..? Jelas jelas aku dengar semuanya dan aku juga bisa liat semuanya dengan jelas. Kamu dan Nur... Ck ck ck.. Kamu gak kasian sama Debora.. Dia lagi hamil anak kamu dan kamu sama Nur..?" Hery tak habis pikir.
"Aku cuma.. Aku khilaf Her.. Nur.. Nur selalu goda aku.. Dan jujur.. Aku beberapa hari ini memang jenuh Her.." Roy menundukkan kepalanya.
"Kita lanjut di ruangan aku.."
Ting.
Hery duduk di sofanya dan Roy juga duduk di seberang sofa yang di duduki Hery.
"Lanjut tadi apa..?" Hery bertanya ulang.
"Jujur beberapa hari ini aku jenuh, bukan salah Debora tapi aku.. Aku.. Aku juga bingung.. Aku mau tapi Debora lagi hamil dan usia kandungannya baru 7 bulanan gitu, belum boleh banyak melakukan kegiatan suami istri.. Tapi aku sudah mau.. Jadi aku.. Nur datang ya sudah.." Roy menjelaskan sepatah patah ceritanya dan untungnya Hery bisa menyambungkan semuanya menjadi satu.
"Sudah berapa kali..?" Hery melipat tangannya di dadanya.
__ADS_1
"Kalau di kantor baru kemarin Her.. Aku bicara jujur.." Roy menjawab cepat.
"Ya bukan cuma di kantor yang aku mau tahu..." sarkas Hery.
"Eeehh.. Eeemm itu.. Aku lupa.." Roy malu malu mengakuinya. Rasanya seperti ketahuan mencuri saja.
"Enak..?" Hery tersenyum miring dan menganggukan kepalanya.
"Eeemm itu.. Nur.." Roy ragu lagi untuk berkata jujur.
"Kalau kamu mau aku diam katakan yang sebenarnya sama aku.." Ancam Hery.
"Oke oke.." Roy memperbaiki posisi duduknya.
"Aku dan Nur sudah melakukan beberapa kali dan aku gak pernah coba untuk hitung.. Tapi pertama kali itu pas Debora masih di Jerman dan Nur langsung naik dan di tawarkan.. Aku tergoda dan aku ikut maunya dia.. Dia malam itu masih sempit jadi aku begitu terbuai.. Dan aku juga lupa berapa kali aku keluarnya.. Setelah itu.. Ada beberapa kali.." Cerita Roy terhenti dulu karna masih terus menanggung malu.
"Waktu Debora masih di Jerman berapa kali kamu sama Nur..?" Hery terus mengintrograsi.
"Eeemm mungkin... Kalau gak salah.. Satu malam itu.. Satu lagi di ruang kerja di rumah, satu lagi di kamar mandi, satu lagi di tempat tidur aku dan Debora, satu lagi di kamar Nur karna dia main aplikasi itu, satu lagi semalam sebelum Debora pulang.. Jadi ada.. Satu.. Tiga.. Enam.. Ya eman kali main.." Roy menghitung dengan jarinya.
"Astaga Roy.." Hery menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Roy..
Off dulu.