
Hari terus berganti, Bisma di temani Dokter Luo seperti biasa.
Hari ini Rafa dan Aiko tidak berangkat kerja dengan alasan cuti. Bisma tak peduli yang pikirkan hanyalah usaha untuk bisa berbicara. Jika ia bisa berbicara maka dengan mudah ia bisa berntanya pada Rafa, siapa Aiko itu sebenarnya. Pekerjaan apa yang tiap malam ini mereka lakukan. Apakah harus tanpa busana.
"Ayo coba Bisma.. Aku.. Aaa..." Dokter Lou mengajari Bisma membuka suaranya.
"A.." Bisma hanya bisa menirukan seperti itu.
"Oke tak apa kita coba lagi.."
Rafa dan Aiko mengawasi Bisma dari kejauhan. Senyum di bibir Rafa tak pedur melihat perjuangan Bisma.
"Sayang.. Apa kamu gak takut kalau dia bisa bicara dan katakan yang sebenarnya.. Atau bahkan lebih parah lagi..?" Aiko bertanya pada Rafa.
"Sayang.. Tenang aja.. Bisma masih kecil.. Mana dia paham apa..! Biar kamu telan*ang di depan dia mana dia paham.." Gertak Rafa.
"Hmmmm tapi kan dia sudah 12 tahun. Apa Dia gak puber.?" Aiko sangat ingin tahu tentang Bisma.
"Entahlah.. Tapi di lihat dari tumbuh kembangnya, sepertinya sudah.." Cicit Rafa. Aiko mengangguk setuju.
__ADS_1
"Dia seorang laki laki.." Sahut Aiko dan melirik Bisma lagi.
***
Hari berlalu sangat cepat. Kini sudah dua bulan Bisma dan Rafa tinggal di Singapura. Dan sudah satu bulan pula Aiko tinggal bersama mereka. Dan satu bulan pula Bisma tak pernah di ajak sang Papa ke tempat kerjanya meski hanya untuk menunggunya selesai berkerja.
Setiap harinya Aikolah yang akan ikut Rafa ke kantornya. Meninggalkan Bisma di rumah bersama Maidnya.
Seperti pagi ini..
"Bisma.. Papa dan Aiko berangkat dulu ya.. Jaga dirimu.." Bisma kini bisa mengangguk lebih dari sekali.
"Eeemm" Bisma sudah bisa berdehem.
"Iya Tuan..?" Maidnya mendekati Bisma.
Bisma hanya menunjuk dadanya da setelah itu menunjuk ke atas, ke arah anak tangga. Mengartikan kalau ia ingin masuk ke dalam kamarnya saja.
Maidnya tersenyum dan mengangguk. "Iya tuan silahkan.. Saya masih banyak kerjaan.." Ucap Maid itu sopan.
__ADS_1
Dalam perjalannya menuju kamar pikiran Bisma berputar putar. Ingin menghubungi Mamanya tapi ini masih terlalu pagi untuk menghubungi Mamanya yang ada di Jerman.
Sebenarnya Bisma ingin menunjukkan kamar yang di tempati Aiko pada sang Mama. Tapi waktu membatasinya. Sedankan kalau sudah siang di Jerman, Rafa dan Aiko bisa saja pulang dan memergoki Bisma sedang mencari tahu.
Akhinya Bisma memberanikan diri untuk masuk ke kamar Aiko. Kamar itu begitu wamgi, entah wangi wangian apakah yang di letakkan Aiko di dalam kamarnya ini.
Bisma melihat meja, ada sebuah dompet kecil. Bisma mengambilnya dan membukanya. Ada sebuah kartu nama, lipstik, bedak dan masih banyak barang kecantikkan lainnya.
Satu yang menarik perhatian Bisam. Kartu identitas Aiko juga ada di sana. Bisma memang tak bisa bicara tapi ia bisa membaca. Dari atas hingga bawah ia baca.
"Umurnya baru 18 tahun? Dia beda 6 tahun dengan aku..?" Hati kecil Bisma bertanya tanya.
"Apa ada sekretaris dengan umur yang begitu muda yaitu 18 tahun..?"
"Tuan...?" Maid Bisma datang dan sangat terkejut melihat Bisma di kamar Aiko.
"Astaga tuan muda.. Nanti saya di marahi sama Papa tuan Muda.. Ayo kita keluar ya.. Ayo.." Ajak Maid Bisma.
Bisma patuh dan mengikuti arahan sang Maid untuk meninggalkan kamar itu. Sudah cukup mencari tahunya. Mengetahui umur Aiko saja sudah cukup.
__ADS_1