
Adel menghapus sendiri air matanya.
"Lenyapkan..?" Adel termanggu.
Meski merasa marah, tapi Bisma berusaha tersenyum pada Adel agar tak membuat Adel takut padanya.
"Aku cinta kamu.. Kamu mau aku bagi rasa sakitku kah..?" Bisma menarik tubuh kecil Adel ke dalam dekapannya.
"Akan aku perbuat apa pun yang kamu minta.. Tapi jangan benci aku.. Karena aku cinta kamu.." Tubuh yang saling bertemu dan nafas yang beradu membuat Adel menutup matanya menikmati sensasi ini.
Bisma meraih bibir Adel lalu saling mamagutkannya.
Meski terus menangis Adel menerima kelembutan bibir Bisma.
Tak ada yang tahu kalau Bisma bisa berpikir untuk melenyapkan seseorang bahkan wanita sekali pun.
"Aku.. Punya masalalu yang lebih pahit dari yang kamu rasa Del.. Kalau baru yang kamu alami itu bukan apa apa. Bukan apa apa untuk aku.. Aku akan tetap cinta kamu, tapi aku yakin.. Kalau kamu dengar cerita aku.. Mungkin kamu gak akan mau terima aku.." Nafas Bisma terenggah enggah sambil menjelaskan pada Adel.
"Apa begitu sakit...?" Adel bercicit.
"Iya.. Sakit sampai ke mental.. Kalau baru sakit fisik aku masih bisa terima.. Tapi mental.. Aku aja gak tahu kalau aku sakit mental.." Bisma terkekeh.
"Apa ada sangkutannya sama wanita itu..?" Adel mulai fokus ke cerita Bisma.
"Semuanya bermula saat aku.. Masih bisu.."
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
"Ooohhhhh... Gitu.." Debora mengangguk mengerti.
"Heheh.. Iya.. Gak apa apa kok cuma sakit di bahu aja sama sedikit goresan.." Dion tersenyum manis.
"Haaahh.. Makanya lain kali hati hati.." Saran Debora.
"Satu lagi.. Jangan nekad..!" Cicit Hery juga.
"Kak Debora.. Nanti makan siang sama kami ya.. Kata kak Dion, kalian akan ke tempat prakter dokter Eli.. Dokter Eli itu teman aku.." Diana juga ada di sana bersama Debora dan Hery.
"Oh aku hampir lupa.. Ada yang harus aku lakukan.. Aku mau ke rumah Bisma dulu.." Pamit Hery.
"Aku.. Aku betulan tinggal sama Dion di sini..?" Debora menatap Dion dan Hery bergantian.
"Ya iya.. Kan sekalian kita nanti ke dokter.. Gak masalah kan Bora..?" Wajah Menggemaskan dan polos serta penuh permohonan di tampilkan Dion.
"Ck.. Oke oke.." Dion kegirangan.
"Aku ke dapur dulu kalau gitu.." pamit Diana juga.
"Aku ikut.." Debora bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"GAK BOLEH..!!" Sergah Dion.
"Hah..?" Debora dan Diana kebingungan.
"Ehemm.. Debora gak usah ikut.. Kan kamu tamunya.." alasan Dion.
"Eeeemmm!!" Debora melotot.
"Iya Kak Dion betul.. Kak Debor Kan tamunya siang ini.. Jadi kakak di sini aja temani kak Yon.." Debora pasrah.
Diana berlalu begitu pula dengan Hery yang memiliki pekerjaan lain.
"Haaahh.. Kenapa kamu gak bolehkan aku ke dapur sama Diana.. Aku kan juga mau dekat sama dia.. Haaahh.. Dia cantik sekali.." Debora melihat ke arah dapur.
"Siapa..? Diana..? Hahahahahahahaha.. Cantik..?" Dion malah tertawa terpingkal pingkal.
"Aduh.. Sakit.." Dion berhenti tertawa karena merasa bahunya sakit.
"Ck.. Kamu ini..!" Debora merasa ngilu juga jika Dion merasa sakit.
"Iya abisnya kamu puji puji Diana.. Kamu tahu dia itu seperti yang aku pernah bilang kemarin.. Galak.." Dion membisikkam kata kata terakhirnya, takut terdengar empunya.
"Aku liat biasa aja kok.. Dia ramah, baik, cantik.." puji Debora lagi.
"Sudah.. Muak aku dengar pujian untuk dia.. Mending kamu duduk di samping aku.. Sini..!" Ajak Dion.
"Isshh kan aku udah duduk.." cicit Debora.
"Aku kabari Rena dulu.. Setidaknya Rena gak khawatir.." Debora sibuk dengan ponselnya dan Dion dengan pikirannya.
__ADS_1
"Untung kamu tidur nyenyak sayang.. Kalau gak.. Malu aku..!" Dion mengusap wajahnya dengan sebelah telapak tangannya.
Off dulu.. Hah haaaahh haaaahh.. 5 bab hari ini guys... I LOVE YOU..!!!!!!