
Nur menunggu kepulangan Roy dan Debora. Ia sudah tak tahan lagi. Selama ini ia tetap menunggu tapi Roy tetap mengabaikannya. Beberapa hari yang lalu Nur ke kantor Roy. Saat di mana dia mendengarkan pembicaraan Hery dan Debora. Seletah itu Nur berusaha menemui Roy. Tapi ia malah di larang untuk datang ke kantor ini apalagi bertemu dengan Roy. Ia pulang dengan keadaan marah.
"Malam ini Roy gak akan bisa lari dari aku.. Dia harus sentuh aku malam ini.. Aku gak mau tau.." Nur melihat pantulan tubuhnya di cermin.
"Kenapa Roy gak tergoda sama aku padahal aku cantik wajah dan tubuh. Apa yang kurang, Debora juga sama aja kok.. Iissss..." Nur berpikir keras bagaimana ia akan menarik perhatian Roy. Dulu Nur pernah mencoba dengan obat pra**ng, tapi Roy bisa membacanya. Ia malah memakan mie dan membuat perutnya sakit. Setelah itu alasannya ia lelah, ia sakit di sana dan di sini, menunjuk tubuhnya. Yang paling tidak normal Roy bilang ia punya kutu. Kepalanya kegatalan dan mau tak mau keesokkan harinya Debora membawa Roy ke salon untuk membasmi kutuĀ di kepalanya.
"Satu satunya cara.. Paksa dia.." Nur tidak ingin banyak rencana lagi. Ia akan langsung saja melakukan yang dia inginkan.
Roy dan Debora sampai di rumah. Seperti biasa Roy membersihkan diri di kamar Debora. Nur tetap menunggu Roy di kamarnya. Bayangan Debora dan Roy tengah asik di kamar mereka membuatnya marah.
"Nanti kau Roy..!" Malam ini Nur sudah tak tahan.
Makan malam, di lalui Nur dengan diamnya tak seperti biasanya ia akan selalu berebutan melayani Roy makan. Roy merasa aneh dengan Nur yang terdiam.
"Nur sayang kok kamu diam aja?" Eyang juga melihat diamnya Nur yang berbeda.
"Gak apa apa kok Eyang.. Nur baik baik aja.." setelah mengatakan Itu Nur diam lagi.
Seolah tak terjadi apa apa di depannya, Roy melanjutkan makannya. Makan malam selesai, Nur kembali ke kamarnya. Entah Roy kemana dulu tapi memakan waktu beberapa Saat setelah Roy masuk ke dalam kamar Nur.
Roy tak memperdulikan Nur yang masih diam, bukan salahnya juga jika tak memperhatikan Nur, karna Roy tak mengharapkan pernikahan ini.
Roy naik ke tempat tidur. Berbalik agar tak berhadapan dengan Nur. Nur melihat Roy dari ekor matanya. Rasa di dadanya menggebu gebu. Ingin langsung ia menerkam Roy dan meminta haknya sebagai istri Roy.
Sekian lama diam dan pura pura tidur, Roy benar benar ingin tidur. Tapi tiba tiba ada yang naik ke atasnya. Roy membuka matanya, ia melihat Nur sudah di atas tubuhnya bahkan sudah membuka celana Roy.
"Hei apa yang kamu lakukan...?" Roy ingin mendorong Nur tapu dengan cepat Nur mengalungkan tangan di kepala Roy.
"Roy.. Kalau kamu gak bisa kasih cinta kamu untuk aku, kasih ragamu untuk aku, itu sudah cukup Roy..." Nur memelas sambil menempelkan wajahnya dengan Roy.
"Nur mengertilah, aku gak bisa.. Aku sudah anggap kamu teman aja. Nur.." Nur sudah membuka celana Roy dan memainkannya.
"Nur..!" Roy tetaplah laki laki normal yang bila di sentuh sedikit saja maka seluruh tubuhnya merespon bahkan naf*unya.
"Nur.." Pelayanan yang Nur berikan benar benar nikmat. Roy yang awalnya menolak kini malah sangat menikmati dan mulai hanyut perlahan dalam kenikmatan yang di tawarkan Nur.
"Oohhh.. Oohh.." Roy menekan kepala Nur agar lebih dan lebih lagi. Tentu Nur siap. Bahkan ia sangat menambakan ini. Roy menjadi miliknya.
"Ayolah Roy.. Sebentar aja.. Debora gak akan marah.. Aku mohon.." Nur meminta pada Roy.
Mata sayu Roy karna sudah hampir di puncak nirwana malah terhenti karna Nur meminta izin padanya.
"Sebentar saja Nur.." Nur mengangguk ceat dan segera menanggalkan bajunya. Memperlihatkan semua asetnya pada Roy. Memamerkan semuanya dan bahkan menawarkannya juga.
"Aku mau itu.." Nur mengangguk. Roy memulai permainannya dari atas hingga Bawah.
Tak ia sangka Nur bisa melayaninya dengan sangat baik. Entah dari tubuh atau gerakannya.
__ADS_1
"Kamu..?" Roy terkejut ternyata Nur masih rapet.
"Ya Roy.. Untuk kamu.. Aku.. Aku jaga selama ini untuk kamu.. Sssttt.." Nur menjawab dari sebagian de**hannya.
"Oohh Nur kamu.." Roy terbuai lebih dalam lagi dengan yang di tawarkan Nur.
Permainan berlangsung lama semakin panas semakin ganas. Entah pukul berapa permaianan itu usai, Roy merebahkan tubuhnya di samping Nur. Nur tak menyia nyiakan kesempatan itu untuk memeluk Roy sesukanya.
"Roy.. Aku sangat mencintamu. Aku sudah berikan semuanya padamu.. Semuanya aku serahkan padamu.." Rasa lelah dan mengantuk Nur bersatu membuatnya terlelap dalam tidur yang nyenyak.
Menuju pagi terasa sangat singkat, Roy membuka matanya, ia melihat Nur masih tertidur pulas di sampingnya. Tubuh Nur yang masih polos dan juga tubuh Roy sendiri yang sama polosnya membuat Roy mengusap wajahnya kasar.
"Apa yang sudah aku lakukan. Ya ampun Roy.. Kamu pasti sudah gila.." Roy segera mengenakan bajunya dan keluar dari kamar Nur.
Ia menuju kamar Debora melihat kamar itu sudah kosong padahal ini masih pagi sekali untuk Debora keluar dari kamarnya.
Roy menyapu ruangan tapi tak melihat keberadaan Debora.
"Mungkin dia di kamar mandi..." Roy membuka pintu kamar mandi juga tak menemukan siapa siapa.
"Debora kamu di mana sayang..?" Roy kini jadi panik.
***
Rena menyiapkan sarapan untuk orang orang di rumahnya di temani para bibi yang bekerja di rumahnya.
"Aku sudah bilang.. Kamu gak usah bantu.." Ucap Rena pada seorang yang baru di rumahnya.
Semalam Debora memilih pergi ke rumah Rena karna resah di rumahnya sendiri. Sampai di rumah Rena ia langsung menangis memeluk Rena. Ia mengadu apa yang ia lihat dan dengar di rumahnya.
Flashback on.
Roy makin terbuai dengan pelayanan Nur, sangat menikmati dan pasrah dengan apa yang ingin di lakukan Nur.
**
"Ya Halo.. Oohh Roy.. Sebentar ya.." Debora mendapat telpon dari Roby pekerja di kantor ada hal penting yang harus ia sampaikan pada Roy saat ini juga katanya.
"Aku harus ke kamar Nur dan Roy.." Debora mengelus dadanya agar sabar saat nanti Nur membukakan pintu kamarnya dan pamandangan yang akan ia lihat di dalamnya, meski Roy dan Nur tidak melakukan apa apa tapi tetap saja hati Debora akan teriris melihat Suaminya tidur dengan wanita lain. Bahkan di atas atap yang sama hanya beda kamar.
Debora turun dengan rasa hati yang kacau. Detak jantungnya berdetak dengan kencang. Debora menyingkirkan rasa dj hatinya tentang Nur dan Roy.
"Roy gak akan begitu sama Nur.. Dia Gak suka Nur.." Debora menepiskan rasa gelisah di hatinya.
Saat sampai di depan pintu kamar Nur, Debora seperti bisa mendengar sesuatu dari dalam sana. Hatinya jadi tak menentu, Debora mendekatkan telinganya ke pintu kamar itu.
"Nur kamu masih.. Aaahhh" samar samar Debora mendengar suara Roy yang sedang mengeluarkan semua gai"ahnya bersama Nur di dalam.
__ADS_1
"Aku menjaganya cuma untuk kamu Roy.. Aku cinta kamu.. Aaahh" Nur juga terdengar menjawab ucapan Roy dengan suara yang serak dan seakan tak mampu untuk berucap sangkin menahan semuanya dengan nafasnya.
"Aaahh Nur kamu.. Nikmatnya.." Debora mundur setelah mendengar ucapan selanjutnya dari Roy. Dan di susul suara rius ricuh dan juga nafas yang keluar bersamaan yang lainnya.
Nafas Debora rasanya tersenggal di dadanya. Matanya membasah. Bibirnya bergetar. Debora segera keluar dari rumah itu ia berjalan di gelap malam dengan tangis di matanya. Tangis tanpa suara.
Rena dan Hery sedang menikmati malam bersama di depan televisi dengan cemilan cemilan. Setelah terungkapnya kisah cinta satu malam mereka, Hery tak ingin lagi menunda nunda untuk menambah momongan lagi, bahkan ia sudah pemer juga pada Marry dan juga Bisma. Berharap Bisma bisa mengimbanginya.
Hery ingin sama seperti Alf dan Elf. Kembar lagi, oleh karna itu ia meminta Rena untuk menambah berat badan, makan kacang kacangan, kuaci, umbi umbian dan masih banyak lagi yang bisa membantu proses kehamilan Rena berikutnya. Apalagi jarak yang sangat berdekatan dengan Baby Alf dan Baby Elf, Hery harus bekerja ekstra untuk semua keinginannya. Rena juga tak masalah dengan semua perhatian dan keinginan Hery. Semua yang Hery berikan untuknya lebih banyak dari yang telah Rena lakukan. Mungkin ini adalah balasn yang terbaik untuk Hery yaitu menambah momongan mereka.
Tok tok tok..
"Rena.." Terdengar ada suara yang memanggil Rena dari luar rumah. Hery pun mengecilkan volume televisinya.
"Rena.. Ini aku Debora.." terdengar lagi dan dengan segera Rena membuka pintunya.
"Debora..?" Rena sangat terkejut melihat keadaan Debora. Sepanjang perjalanan ia menangis dan membuat matanya sembab.
"Rena...!" Debora menangis luruh di pelukkan Rena.
Rena dan Hery saling melempar tatapan. Rena membawa Debora untuk masuk ke dalam rumah dan menenangkannya. Hery pun melakukan apa yang ia bisa seperti memberikan air minum untuk Debora agar Debora lebih tenang.
Debora menceritakan semuanya pada Rena dan Hery. Hery menghela nafasnya mendengar cerita Debora. Tangis dan luruhnya Debora sangat menyedihkan, Rena tak menyangka Debora akan sehancur ini.
Dari semalam pun Debora tidur di rumah Rena. Pagi ini Debora melihat Rena sibuk di dapur bersama para bibi pun ia mencoba untuk berbaur lagi, sekaligus untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya.
Melihat Rena yang sangat telaten di dapur, memasak masakan yang satu dan yang lainnya dengan sangat mudah tanpa masalah. Debora sangat kagum pada Rena.
Tepat pukul 6.50, dengan Segera Rena membuat susu hangat untuk dirinya sendiri.
"Susu..?'' Debora bingung.
"Ya ini susu Esensis.." Debora manaikan satu alisnya karna masih tak mengerti.
"Aku lagi program kehamilan.." Jelas Rena lagi.
"Hah..? Kamu program kehamilan lagi...?" Debora sangat terkejut.
"Hehehe.. Iya.. Aku sama Hery mau segera kasih Alf dan Elf adik baru.. Hehe.." Rena malu malu mengatakannya.
"Waaaahh.." Debora tak percaya yang ia dengar ini.
"Baby Alf dan Baby Elf baru 3 bulan kan..?" Seingat Debora segitu umur Baby Alf dan Baby Elf.
"Ya.. Baru 3 bulan 26 hari.." Rena masih tertawa kecil melihat betapa terkejut Debora.
"Waaahh hebat.."
__ADS_1
Hery..
Off dulu.. Ya ampun panjangnya.. Makasij ya yang setia menunggu upnya..