
Roy tak menjawab dan tak menolak. Ia pun mengikuti apa yang Eyang perintahkan padanya tanpa bicara sedikit pun pada Eyang maupun Debora.
Eyang dan Debora sudah menuju mobil dab Roy mengambil obat dulu di apotek. Setelah semuanya selesai barulah Roy menyusul Debora dan Sang Eyang di mobil.
Di dalam perjalanan pulang tak ada suara dari ketiganya. Eyang dan Debora di kursi penumpang dan Roy duduk di kursi samping Sopir.
"Haaaahh.. Sekarang tinggal Hery yang akan punya bayi.. Padahal Eyang juga mau kalian berdua punya bayi juga..." Suara Eyang memecah keheningan dan menyinggung Hery, yang berarti menyinggung Rena juga.
"Haaahh.. Apa kalian berdua tidak merasa kalah Sama Hery...?" Eyang sungguh cerewet.
"Gak Apa apa Eyang.. Kan nanti Debora sama Roy usaha lagi.." Hibur Debora yang sebenarnya tak ingin Eyang membicarakan Hery maupun Rena yang pastinya mengaggu pikiran Roy suaminya.
"Iya lah itu.." Eyang pun merajuk.
***
Kebalikkan di rumah Hery dengan keadaan Roy sekarang. Hery dan Rena sedang memasak bersama seperti biasanya. Rena sangat senang rupanya Hery tidak memiliki asisten rumah tangga atau semacamnya. Hanya dia sendiri di rumah ini. Rena pun merasa lebih leluasa seperti di rumah sendiri.
"Sayang udah ya bantunya.. Biar aku aja.. Kamu sama sayang aku ini duduk aja ya..!" Hery memeluk Rena dari belakang saat Rena sedang mengaduk masakannya. Bukan sekedar pelukkan dari belakang tapi juga elusan untuk si kecil di dalam sana.
"Iya tapi ini dikit lagi masak kok..." tolak Rena karna yang ia masak ini sebentar lagi matang.
"Calon suami kamu ini gak terima bantahan.. Yukk duduk..!" Hery mengecilkan api kompor dan menarik tangan Rena dengan lembut.
Rena tersipu mendengar ucapan Hery yang mengatakan "Calon suamimu.." maka ia pun patuh pada Calon suaminya itu.
Hery pun mengambil alih masalah memasak di kompor dan Rena hanya menjadi juri masakannya saja. Tinggal cicipi hasil masakan Hery.
Tadi Rena sedang memasak Saus untuk pendamping pangsit rebus buatan Hery, tapi Sekarang Hery yang melanjutkannya. Saus asam manis itu pun sudah matang dan mereka pun makan bersama selain itu semua, sarapan pagi ini sangat berbeda karna di temani rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka.
Hery bersyukur sekali karna ulah konyolnya yang mabuk mabukan di bar menguak isi hati Rena yang sebenarnya, melihat dari kecemburuan yang Rena perlihatkan sudah menjawab pertanyaan hati Hery.
***
Roy dan keluarga sudah sampai di rumahnya, sangat patuh dan tak perlu di perintah lagi, ia menurunkan barang barang keperluan Debora saat di rumah sakit, Debora dan Eyang masuk duluan ke dala rumah.
"Roy... Sini dulu.." Panggil Eyang ketika Roy lewat dan membawa tas besar itu.
__ADS_1
Roy pun menyerahkan tas itu ada bibi yang ada di sampingnya, setelah itu ia berjalan menuju Eyang dan Debora di sofa ruang tengah.
"Roy ada yang ingin Eyang sampaikan sama kalian berdua..." Roy sudah duduk dan Eyang mulai berbicara apa yang ia pikirkan.
"Eyang mau kalian berdua bilang apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa Debora sampai keguguran...? Roy kamu tahu kan Debora sedang mengandung. Kenapa kamu malah kasar sama Debora, seolah kamu dan Debora masih malam pertama... Kamu tau kan itu bahaya.. Eyang gak suka ya.. Eyang sudah lama menanti nanti Debora hamil, cicit Eyang.. Tapi baru juga berapa bulan hamil, langsung kamu musnahkan Roy.. Kenapa coba.. Kamu tahu kan itu anak kamu.." Eyang menceramahi keduanya seperti seorang nenek nenek biasanya.
"Itu bukan anak Roy Eyang..." Roy mengatakkannya dengan lugas.
"Apa?" Eyang takut ia salah dengar dan pendengarannya salah.
"Itu bukan anak Roy.. Itu anak pacar Debora namanya John. Laki laki yang biasanya sama Debora dinas..." Ucap Roy lagi.
Debora gelabakan mendengar Roy mengatakan yang sebenarnya.
"Roy kamu.."
"Diam Debora aku ingin katakan yang sebenarnya sama Eyang.. Aku gak mau terus bohong..." Eyang semakin Syok.
"Mak... Maksud kamu Roy..?" Suara Eyang bergetar walaupun terus bertanya pada Roy.
"Itu bukan anak Roy.. Debora gak pernah ngandung anak Roy sama sekali.." Roy mengeraskan suaranya.
"Iya Eyang.. Ini betul betul.. Debora selama ini selingkuh... Roy punya buktinya..." Roy mengeluarkan ponselnya yang lainnya lagi dam membuka video aksi tak terpuji Debora pada sang Eyang.
Eyang menutup mulutnya melihat video itu, "Debora kamu...?"
"Eyang itu Debora.... bukan Eyang bukan.." Debora bingung harus menjawab apa.
"Ini kalau Eyang gak percaya lagi, Roy punya bukti lagi. Ini Debora di kamar Roy Eyang.. Mereka main di kamar Roy.." Roy memutar video baru lagi untuk sang Eyang.
"Ya ampun Debora kamu..." Eyang meneteskan air mata melihatnya.
"Eyang Debora gak bermaksud.." Debora bersujud di kaki Eyang.
Tiba tiba Eyang memegangi dadanya. Mulutnya mengaga dengan lebar mencoba berucap tapi tak mampu, Roy memegangi Eyangnya dengan sigap.
"Eyang... Eyang.. Eyang sadar Eyang.. Eyang kuat Eyang..."
__ADS_1
"Haaahh.. Haaa.. Roy.." Eyang berusaha berbicara pada Roy.
"Ya Eyang ini Roy.." Roy juga menetaskan airmatanya.
"Roy..." Eyangnya memegangi pipi Roy sepertinya masih ada yang ingin ia katakan.
"Eyang ini cucu Eyang.. Eyang punya cicit kok Eyang.. Ada masih ada..." Roy masih ingin mengatakan yang lainnya pada Sang Eyang. Tapi sepertinya di potong oleh waktu Eyang yang sangat terbatas.
"Roy.." Hanya itu yang bisa Eyang katakan.
"Jaga Debora setelah ini..." Ucap Eyang.
"Apa..? Eyang masih membela Debora yang sudah hianati Roy..?" Roy tak percaya.
"Roy kamu harus jaga kesehatan Debora, biar kalian berdua bisa usaha dapat anak lagi, jangan kasar kasar lagi mainnya sama Debora. Kasian dia kesakitan, Untuk aja Hery sama Rena datang tepat waktu untuk bawa Debora ke rumah sakit. Eyang kaget bengat pas pulang kok banyak darah di dalam Rumah. Bibi Sumi lagi ngepel lantainya. Makanya Eyang bisa tahu kalau Debora di bawa ke rumah sakit.. Oohh ya Eyang belum kasih kabar Hery kalau Eyang sudah pulang ke rumah, sekalian Eyang minta mereka berdua ke sini.. Kata Hery tadi mereka sekarang tinggal di rumah Hery. Kan gak jauh dari sini... Hery pasti senang tahu Eyang sudah pulang... " Eyang pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Hery.
"Halo Hery.."
"Iya Her.. Eyang sudah pulang... Debora juga sudah pulang.. Ada Rena juga di situ kah..?"
"Wah.. Sini donk.. Masa kamu gak jenguk Eyang...?"
"Iya Her.. Eyang tunggu ya.. Ajak Rena juga.. Eyang mau liat dia lagi.. Cantik banget calon istri kamu itu.. Candu Eyang liat dia.." guyonan Eyang dari telponnya.
"Oke Eyang tunggu ya.."
Panggilan itu terputus. Barulah Roy sadar ia hanya berkhayal memberitahukan yang sebenarnya pada Eyang. Kurang lebih seperti itu yang akan terjadi.
"Roy kamu dengar kan Eyang bilang apa.?" Eyang kembali fokus pada Roy dan Debora.
"Iya Eyang..." Sahut Roy.
"Ya bagus... Bawa Debora istirahat. Eyang tunggu Hery sama Rena.." Eyang memperbaiki posisi duduknya.
"Mereka mau ke sini nanti Eyang...?" Seperti tidak mendengar percakapan Eyang dan Hery, Roy kembali bertanya.
"Iya.. Mereka berdua nanti ke sini. Rena lagi mandi katanya.. Abis itu baru Mereka ke sini.." Eyang mengenakan kacamatanya dan memainkan ponselnya sambil menunggu.
__ADS_1
***
Hery dan Rena...