AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 174


__ADS_3

Sedangkan di kamar Nur, Nur menarik paksa Roy untuk masuk dulu ke dalam kamarnya.


"Keren kan.." Nur memamerkan dinding ya ia katakan tadi sore pada Roy.


"Eeemm" Roy hanya mengangguk.


Dinding yang katakan Nur adalah dinding tiruan dengan fungsi mengunci suara di dalam ruangan, agar tak terdengar sampai ke luar ruangan. Dengan bentuk yang baru, bukan hanya berfungsi untuk kedap suara tapi dinding buatan ini juga sangat cantik di pandang mata.


Nur memesan dinging berwarna merah dan hitam membuat kamar Nur lebih bernuansa menggoda.


"Apa kamu suka warnanya..?" Nur sangat bersemangat.


"Eeem ya warna yang bagus.." Puji Roy. Dan jujur ia menyukai warna itu.


"Yeeey sayang suka.." Nur membuat Roy mendelik.


"Eehh panggil apa kamu tadi..?" Roy menegur.


"Sayang.." Nur menjawab santai.


"Jangan panggil aku seenak jidat kamu.."


"Eehh apanya.. Memang aku sayang kamu.." Nur mengalungkan tanganya di leher Roy.


"Kita sudah saling sayang sayangan di tempat tidur.. Masa udah gak ingat.." Nur mulai menggoda lagi.


"Nur aku mohon jangan buat hal hal aneh donk.. Debora mau pulang itu sudah nanti kalau kamu keceplosan ngomong gimana..?" Nur malah tersenyum lebar.


"Ya itu maksudnya.. Kalau kamu gak mau itu terjadi ya kamu harus turuti aku lah.." Nur sudah menyiapkan semuanya.


"Kali ini apa lagi..?" Roy baru mengerti taktik Nur.


"Aku mau kalau kamu di kamar aku, aku berhak panggil kamu sayang dan sebaliknya juga gitu, kamu harus panggil aku sayang.. Kalau kamu mau aku gak sembarangan panggil kamu di luar sana.. Apalagi di depan Debora.. Kan kasian Debora dan Bayinya terganggu dengan bisikkan dari aku ini.." Ancam Nur.


"Nur kamu.." Roy menunjuk wajah Nur.


"Apa.. Ya aku Nur.. Nur yang beberapa malam kemarin kamu tiduri dan kamu main di tempat tidur.." Ancam Nur dan mengingatkan semuanya.


"Nur aku mohon.." Roy kehabisan cara untuk membuju Nur.


"Ya kan kamu tinggal ikuti aja yang aku minta, yang aku minta juha itu semuanya biasa biasa aja.. Dn bahkan ada yang buat kamu enak lagi.. Apa kurangnya Roy.. Apa salahnya dan apa ada yang tahu kalau kita sama sama diam..?" Nur berusaha meyakinkan Roy.


"Kamu ingat malam kemarin.. Bukankah itu menyenangkan..? Kamu suka kan.. Enak kan.. Gak ada yang tahu kan.. Dan Debora masih sayang sama kamu kan.. Dia masih sayang sayang kamu dari telpon kayak tadi.. Gak ada masalahnya kok.." Roy mengingat lagi pelayan yang Nur berikan semalam memang menyenangkan dan bahkan punya gaya baru lagi.


"Eeemm oke lah.." Roy setuju.


"Bagus kalau gitu.. Oke kita sepakat ya.." Nur membawa Roy berjabat tangan pertanda persetujuan.

__ADS_1


"Dan awas aja kalau kamu macam macam." Roy segera keluar dari kamar Nur tak ingin terjadi hal yang lebih buruk dari pernjanjian ini.


***


Pesawat yang di tumpangi Debora dan yang lainnya sudah tiba di tanah air.


Senang rasanya bisa menghirup udara tanah air sendiri dan rasa rindu yang Debira miliki juga akan segera sirna.


"Aaa.. Rindunya aku sama rumahku.. Dapur indahku, kamar cantikku.." Rena juga sangat senang.


"Haaahh.. Gak ada yang lain gitu yang kamu rindu.. Suami gitu.." Hery mengecoh Rena.


"Kan suami aku ikut aku ke mana mana.. Ini kan suami aku.." Rena mencubit pipi Hery gemasnya.


"Debora.." Panggil Roy dari jauh.


"Eeehh itu Roy.." Ucap Hery.


Debora tersenyum melihat sang suami menunggu ketibaannya. Tapi setelah itu Debora menoleh pada Rena dan begitu sebaliknya. Rena juga menoleh pada Debora, lalu setelah itu Rena menganggukan kepalanya.


"Roy.." Debora juga memanggil Roy. Roy berlari dan langsung memeluk Debora.


"Aku rindu kamu sayang.." Roy memeluk Debora dengan sangat Erat.


"Aku juga kangen kamu Roy.." Rasa rindu Debora sedikit berkurang.


Roy dan Debora lebih dahulu dari pada Rena dan Rombongan.


"Sayang.. Apa kamu yakin Debora bisa.. Dia kan..?" Hery meragu.


"Aku yakin Debora bisa sayang.. Percaya aja sama dia.." entah apa yang di maksud Rena dan Hery tapi keduanya terus mendoakan agar Debora dapat melakukannya dengan benar.


"Aku harap juga itu salah sayang.. Aku gak bisa percaya begitu aja sama..." Hery tak bisa menlanjutkan ucapannya karna Rena sudah membungkam bibir Hery dengan bibirnya.


"Sayang malam ini aku punya tenanga ekstra looo.." Goda Rena. Ia sudah sangat lihay menggoda Hery.


"Ooohh gitu ya.. Ayo.. Cepat kita harus sampai rumah dan masuk kamar secepatnya." Hery tentu tak menolak tawaran dan ajakan sang istri.


***


"Sayang.. Tepati janji kamu.." Hery sudah tak sabar.


Padahal Rena sedang menyusui Baby Alf dan Baby Elf.


"Sabar ya sayang ini jatah Alf dan Elf.." Rena mengelus elus kedua putra putrinya.


"Sayang.. Cepat ya minumnya Papa juga mau.." Bisik Hery di dekat baby Alf dn Baby Elf.

__ADS_1


"Jangan ganggu mereka.." Rena mendorong kepala Hery menjauh.


"Aaaa sayang aku jug mau kayak baby Alf dan Baby Elf.. Enak.." Hery berguling guling di tempat tidur.


"Ya nanti kan dapat sayang.. Sabar aja.." Rena berjanji.


"Nanti aku pakai salah satu baju yang kemarin kamu beli itu mau gak..?" tawar Rena.


"Eeh iya.. Mau sayang mau.." Hery langsung bersemangat lagi.


"Oke Aku tunggu.." Hery bermain ponselnya ia memainkan game favoritnya.


***


"Roy kamar ini rapi banget, aku kira karna gak ada aku di rumah kamar ini pasti berantakan.. Tapj ternyata masih bisa rapi ya.." Debora meneliti sekelilingnya.


"Aaahh iya lah sayang.. Kan aku juga bisa bersih bersih.." Sahut Roy berpura pura tak grogi.


"Eeemm ini harusnya kan kamu sama Nur tapi kok kamu boleh ke kamar aku..?"  Debora mulai mengintrograsi Roy lagi.


"Ya.. Aku cuma curi waktu aja kok sayang.. Lagian aku kan jemput kamu jadi tadi aku dah minta izin juga, walau pun gak di izinkan aku tetap pergi dengan cara curi waktu gini.. Nanti aku balik lagi ke kamar Nur.. Tapi sebelum itu.." Roy mendekati Debora.


"Oohhh sayang sekangen itu kamu sama aku..?" Debora tersipu malu Roy menempelkan tubuhnya padanya.


"Aku mau sayang.. Masa kamu gak mau..?"


Debora mengangguk setuju dan terjadilah permainan singkat antara Roy dan Debora lagi setelah seminggu lebih berpisah. Debora juga gak bisa menolak karna ia sangat mencintai Roy


***


Sangkin asiknya Hery bermain ponselnya ia tidak menyadari kalau Rena sudah bertukar baju dan siap melayaninya. Tiba tiba saja ada kaki yang menjalar di antara kaki Hery.


Saat Hery meletakan ponselnya baru ia menyadari kalau Rena berdiri di bawahnya dan sudah mengenakan baju pilihan Hery.


Baju dinas berwarna hitam dengn rumbai rumba di belakang dan sedikit juga di baguan depan.


"Aaaauuu.." Hery terpesona.


Leluk tubuh Rena juga semakin terlihat. Hery menelan saliva saja susah.


"Apa sayang suka. Cantik...?" Rena bergaya beberapa pose yang menarik di hadapan Hery.


"Sayang.. Kamu sangat cantik..." Hery langsung memeluk Rena dan menjatuhknnya di tempar tidurnya.


"Aku gak mau lama lama lagi.. Ayo sayang.."


Off dulu ya Guys.. Maaf slow dulu ya..

__ADS_1


__ADS_2