
"Hari ini dari perkiraan cuaca akan ada badai. Jadi untuk beberapa hari kedepan.." itu kabar yang Hery dapat dari penjaga bandara.
"Eeemm aku coba liat di google dulu.." Rena mencoba melihat berita di internet.
"Eeemm.." Rena bergumam sambil mencari berita yang ia inginkan.
"Ini.. Iya perkiraan cuacannya hari ini akan ada badai.. Jadi beberapa penerbangan di tutup dulu sampai perkiraan lanjutan. Debora sabar ya.." Rena kasian pada Debora.
"Gak apa apa kok Ren.. Aku baik baik aja.. Ya udah ayo kita balik lagi.." Ajak Debora.
Mereka bertiga pun pulang ke rumah Marry.
***
"Eeemmm gak apa apa sayang.. Aku juga ada liat berita di tv.. Katanya Jerman akan di landa badai beberapa hari ke depan. Sabar aja sayang.. Aku baik baik aja kok.." Roy mendapar kabar dari Debora di sore harinya. Sedangkan di Jerman ini masih tengah hari.
"Ya Roy.. Kamu gak ngapa ngapain kan sama Nur..?" Debora dan pikiran istri posesifnya.
"Gak ada ngapa ngapain sayang.. Memangnya aku mau apa sama Nur.." Roy berbohong.
"Ya baguslah.. Kalau kamu berani macam macam sama Nur.. Aku gak akan mau pulang dari sini.. Aku bakal minta tolong Rena buat belikan aku rumah di sini. Aku dan anak aku akan menetap di sini.. Tinggallah kamu sama Nur di sana." Ancam Debora.
"Ya sayang.. Janganlah gitu.. Kasian aku. Aku kangen kalian berdua nihh.." Roy manja manja dari telpon padahal di rumah ia bersenang senang dengan Nur seperti ysng di pikirkan Debora.
"Oke.. Ya sudah dulu ya.. Aku mau belajar masak sama Mama Marry." Debora berpamitan dengan Roy.
"Ya sayang.. Pergilah.. Ini juga jam pulang kantor.. Aku mau pulang juga.. Oke dadaaahh.. I love you.. Miss you.." Panggilan pun terputus.
"Astaga matilah aku kalau Debota tahu aku dan Nur malam kemarin.." Roy mengigit bibir bawahnya.
"Semoga saja Nur gak macam macam dan lapor sama Debora yang aneh aneh." Roy segera pulang ke rumah dan bersiap mengajak Nur membuat perjanjian. Ini satu satunya cara agar Nur diam.
***
Nur sedang bersantai di kamarnya. Ia menjadi nyonya sesungguhnya, tidak melakukan pekerjaan rumah, hanya bersantai dan menikmati semua fasilitas di rumah ini dengan nyaman.
"Nur..?" Roy masuk ke dalam kamar Nur dengan tiba tiba.
"Roy..?" Nur langsung sumringah melihat Roy langsung masuk kamarnya.
"Nur.. Apa kamu sibuk.. Ada yang ingin aku katakan.. Boleh masuk..?" Roy meminta izin dulu.
__ADS_1
"Kenapa kamu minta izin Roy.. Ini kan kamar kita.." barulah Roy masuk dengan nyaman.
"Gak.. Aku gak enak aja kalau masuk kamar kamu belum malam.. Kan perjanjiannya aku sama kamu habis matahari terbenam aja." Roy membela diri.
"Oohhhh jadi malam aja gitu ya..?" Nur malah menggoda Roy.
"Nur dengar ada yang ingin aku sampaikan.. Kamu harus janji dulu.." Pinta Roy segera.
"Hah..? Janji.. Mau janji apa.. Terus untungnya aku apa?" Nur benar benar cerewet.
"Dengar.. Nanti kalau ada Debora telpon kamu atau siapa pun hubungi kamu dan tanya tentang malam kita berdua.. Tolong kamu tepati janji kamu yang bilang, kalau kamu gak akan bilang yang sebenarnya sama Debora." Roy berharap Nur mau menurutinya.
"Haaiiss aku kira apa.." Nur malah kembali mengambil tempat pewarna kukunya dan mengenakannya lagi.
"Kenapa..?" Roy mengerutkan keningnya.
"Ayolah.. Jangan bawa berita basi itu.. Debora hari ini tadi mau pulang ke Indonesia kan.. Tapi karna cuaca di Jerman tidak bagus membuat bandara di Jerman dan beberapa pesawat juga gak melakukan penerbangan... Tadi itu Debora juga ada telpon aku kok.. Nih aku rekam.." Nur menghidupkan ponselnya, ia menyalakan rekaman telponnya dan Debora.
Rupanya Setelah menelpon Roy, Debora juga menghubungi Nur. Ia bertanya siapa tahu Nur mau seperti dulu dan malah mengatakan yang sebenarnya pada Debora.
Tapi ternyata Nur berbohong dengan mengatakan ia dan Roy tidak melakukan apa apa. Siang Roy kerja dan malamnya Roy kelelahan karna pekerjaan di kantor sangat banyak karna ketidak adanya Hery saat ini.
Roy lega mendengar rekaman telpon itu. Rupanya Nur benar benar menepati janjinya.
Roy hanya mengangguk dan pergi dari kamar Nur.
"Eehh kamu mau kemana lagi.. Kan ini sudah waktunya sama aku.." Nur kebingungan.
"Ya tapi aku sudah biasa mandi di kamar aku.. Abis aku mandi, baru aku balik ke sini lagi.. Oh ya itu sudah makan malam, makanlah dulu.." Ucap Roy sebelum pergi.
"Aaahh Roy makin baik, dia minta aku makan dulu. Biasanya mana dia peduli.." Nur sangat senang.
"Mungkin aku harus pergunakan lagi rekaman ini.. Kayaknya aku punya ide bagus.. Roy pasti mau.. Ini juga demi Debora dan diri Roy sendiri." Nur sepertinya semakin licik saja.
***
Makan malam di meja makan Roy dan keluarganya.
Nur makan sambil melihat dan menyusun rencana selanjutnya. Ia akan meminta jatah tutup mulutnya dari Roy, dengan iming iming Debora.
Malam selanjutnya, Roy masuk ke kamar Nur. Nur sudah menunggu sambil memainkan ponsel.
__ADS_1
"Roy.." Panggil Nur sebelum Roy merebahkan tubuhnya dan langsung tertidur.
"Apa lagi?" Roy tak ingin banyak bicara. Takut ia akan tergoda lagi pada Nur. Apalagi Nur malam ini masih tetap se**si sepeti malam malam yang lalu.
"Aku ada pemintaan.. Kamu mau dengar ya.." Nur mendekati Roy.
"Gak usah dekat dekat.." Roy segera mengusir.
"Iissshhh malu kah dekat sama aku.. Takut tergoda ya..?!" Nur malah makin jadi dengan mencolek dada Roy.
"Issshh jangan sentuh sentuh.." pinta Roy lagi.
"Oke aku juga lagi gak mau kok.. Yang semalam aja belum sembuh total.." Roy mendelik mendengarnya.
"Sankin besarnya.. Robek.." Nur sangat menjengkelkan. Roy menutup matanya malu dengan yang Nur ucapkan.
"Kamu mau apa lagi..?" Roy sudah habis kesabaran.
"Dengar.. Kamu tadi sendiri dengarkan kalau Debora akan menelpon lagi untuk cari tahu kebenaran kita berudua tiap malam.." Roy menganggukan kepalanya. Yang di katakan Nur ada benarnya, tadi Roy mendengarnya sendiri di rekaman telpon Nur dan Debora.
"Lalu.. Aku mau tiap aku berbohong ada harga yang harus kamu bayar Roy.." Nur mulai mengatakan apa keinginannya.
"Kamu mau berapa..?Akan aku bayar penuh.. Anggap aja malam kemarin itu kamu bekerja menjadi wanita penghibur.. Yang di tugaskan untuk hibur aku.. Gimana.. Mau berapa.. Bilang aja jangan Ragu.." Roy siap mengeluarkan semua uangnya untuk perseujuan Nur.
"Aku gak mau itu.. Aku cuma mau.. Begini.. Debora tinggal beberap Hari di Jerman. Nanti kalau cuaca di Jerman sudah membaik, dia pasti pulang. Jadi selama beberapa hari ini.. Aku nempel terus sama kamu.." Roy menyipitkan satu matanya.
"Maksud kamu..?" Nur langsung naik ke atas tubuh Roy.
"Hei apa yang kamu lakukan..?" Roy berusaha mendorong Nur tapi Nur sudah mengalungkan tangannya di leher Roy membuatnya susah untuk di lepas oleh Roy.
"Aku mau tiap malam.." Bisik Nur lagi.
"Kamu gila.." Roy tak tahan lagi.
"Cepat bangun.." Titanya lagi.
"Gak sebelum kamu setuju.. Kan cuma beberapa hari aja.. Paling juga 2 hari ke depan, Debora pasti pulang.. Masa kamu gak mau kasih jatah lebih buat aku.. Aku kan istri kamu juga.. Lagi pula kalau sama Debora belum tentu kamu bisa main kasar kayak sama aku.. Debora kan lagi hamil, mana bisa kamu main kasar sama dia... Nanti Dedeknya kenapa napa lagi.." Roy terdiam sejenak.
Roy tiba tiba mengingat kejadian yang sudah berlalu. Debora keguguran karna ia bermain kasar. Nur menyeringai melihat Roy sedang berpikir.
"Ya kan..? Nah.. Jadi selama beberapa hari ini sebelum Debora pulang.. Ya kamu puas puas sama aku, yah.. Biarpun kayak kata kamu tadi, aku kayak wanita penghibur yang godain dan di tugaskan layani kamu aku siap kok yang penting main sama aku.. Gimana keren kan?" Roy malah menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ayolah Roy ini sangat menguntungkan kamu.. Aku loo.. Masih ting ting kemarin.. Kamu yang robekkan. Merah lagi di seprai.. Masih sampai sekarangkan.. Semalam kamu coba gimana.. Masih sama kan..?" Nur terus menggoda Roy.
Roy..