
Adel dan Stuart juga sama sedang menikmati makan siang bersama. Adel memasakkan Stuart makan siang, Stuart juga menemaninya, keduanya sangat kompak.
"Eeemm ini enak.. Kamu pintar juga ya masak cumi.." Puji Stuat.
"Iya.. Aku sering masak masak sama Rena.. Jadi makin sering masak makin pintar deh masak Cumi. Masak cumi itu gak mudah.. Kadang kalau salah salah cuminya kayak karet gitu, tapi berkali kali coba akhirnya aku bisa.." Cerita Adel juga sambil memakan makan siangnya bersama Stuart.
Makan saing yang sangat menyenangkan menurutnya. Stuart juga laki laki yang baik, laki laki dengan lesung dagu danata biru itu mengunyah makana yang di masukannya ke dalam mulut dengan lahapnya.
"Ini benar benar enak" Pujinya berkali kali.
Adel tersenyum manis senang laki laki tampan ini menyukai masakannya.
***
Roy bangun, ia sadar tak ada Debora di sampingnya. Roy mencari seisi kamar tapi ia tak menemukan Debora juga.
Roy segera keluar dari kamarnya dan mencari di luar kamar. Seluruh penjuru rumah pun di carinya tapi ia tak menemukan Debora. Bertanya pada Eyang pun tak ada gunanya. Nur.. Nur sama sekali tak terlihat batang hidungnya dan kamarnya masih tertutup rapat.
"Kemana Debora.. Apa..?" Roy mengingat suatu tempat yang pasti akan di datangi Debora.
***
Rena dan Debora sedang berbincang asik di teras rumah Rena. Dengan beralaskan karpet dan ada susu di hadapan mereka. Hery juga tak mau jauh jauh dari Rena. Takut ada yang di inginkan Rena tiba tiba.
Debora lupa sekejap masalahnya dan larut dalam kebahagian yang ia dapatkan dari Rena.
__ADS_1
"Eeehh tumben ya Adel gak ada ke sini. Biasanya tiap hari dia ke sini.." Rena menyadari sesuatu yang salah pada Adel hari ini.
"Eeemm mungkin karna ada Bisma di rumah makanya Adel gak ke mana mana. Kan libur.." tebak Hery.
"Eeemmm mungkin juga itu.." Sahut Debora juga.
"Aku mau pamer juga sama dia hihihi.." Rena sangat bahagia.
"Ya aku juga sama, aku mau cepat cepat pamer sama Bisma kalau aku akan jadi Papa lagi.. Eehh?" Hery menutup mulutnya sendiri.
Debora dan Rena malah tertawa. "Kalian kok ketawa..?" Hery sangat heran.
"Aku sudah tahu kok Her.." Debora mengaku.
"Eeheemmm.." Debora mengangguk yakin.
"Aku kasih tau dia pas di Jerman.. Waktu itu Debora terpuruk banget, tapi setelah tahu kebenarannya itu buat dia semakin sayang sama kandungannya dan mengutamakan kandungannya dari apa pun.." Sahut Rena juga.
"Oohhh.. Baguslah.. Kalau kamu sudah tahu.. Tapi Roy gak tahu kan...?"
Debora menggeleng. "Dia itu mana tahu apa apa. Tahunya asik sama istri keduanya itu.." umpat Debora untuk Roy.
"Dia.. Sama Nur..?" Hery pura pura tak tahu.
"Eeheeemm" Debora mengangguk, ia menceritakan lagi pada Hery kejadian tadi pagi.
__ADS_1
Hery juga menggelengkan kepalanya tak suka dengan prilaku Roy sekarang yang semakin tak terkendali lagi.
"Padahal Roy sendiri yabg bilang takut Debora tahu.. Tapi ini.. Debora terang terangan tahu dan Roy gak bisa berbuat apa apa.." Kesal Hery dalam hatinya.
Kiikk kiiikk..
Debora memutar matanya malas melihat mobil yang datang di halaman Hery.
"Kenapa dia di sini lagi..?" Debora bergumam tak suka waktu bersantainya di ganggu Roy.
"Debora sayang..?" Roy segera turun dari mobilnya dan menghampiri Debora. Memeluknya dengan semangat.
"Iissshh lepas.. Apa sih..?" Debora jengkel dan tak suka Roy yang memeluknya.
"Sayang aku khawatir sama kamu, aku cari kamu di rumah tapi aku gak ketemu.." Roy mengusap rambut Debora lembut.
"Aku juga tunggu kamu dari pagi sampai hampir siang tapi kamu juga gak ada ya udah.." Debora tak peduli.
"Sayang.. Aku bisa jelaskan.." Roy menarik lagi Debora dalam peluknya.
"Apa lagi.. Sudah mending kamu pulang sana ini sudah hampir sore juga.. Dekat lagi kan kamu pulang ke kamar Nur. Pulang aja dari sekarang ke kamar Nur.." Omel Debora lagi.
Roy..
Off dulu..
__ADS_1