
Roy mengerutu kesal dan entah apa saja yang ucapkan. Setelah itu ia pun pergi dari kediaman Hery.
"Untung saja, rupanya Eyang gak seotak sama Roy." Rena mengelus elus dadanya Lega.
"Iya.. Walaupun Eyang juga seotak dengan Eyang aku gak akan biarkan itu terjadi, ini anakku kok, aku sayang banget sama Dia..." Hery mengelus perut Rena.
"Rupanya yang di katakan Debora betul ya.." Rena merasa bersalah karna tak percaya pada Debora.
"Iya, Debora juga gak mau kalau sampai anak ini ganggu usahanya dia buat dapatkan Roy lagi... Kalau Roy sampai dapat, ya Debora tersingkir.. Gitu sayang.." Hery mengelus elus rambut Rena sekarang.
"Iya.. Baguslah kalau gitu aku dukung Debora..." Rena merasa itu di untungkan jika Debora tak menginginkan anaknya.
***
Roy pulang ke rumahnya dan sampai di kamar membanting apa yang ia temukan.
"Aaaarrhh.." Roy terduduk dan menangkup wajahnya.
"Roy..?" Debora baru masuk dalam kamar juga dan melihat semua barang berantakan.
"Ck.." Roy rasanya makin kesal.
"Ya.. Aku tahu kamu marah..." Debora sudah tahu apa yang membuat Roy semarah itu.
Debora meninggalkan Roy di dalam kamar dengan perasaan senang. "Aku suka melihatnya..."
"Hery.. Kenapa kamu... Aku cuma mau anakku... Itu anakku.." Roy frustasi dengan yang tejadi.
Ia merebahkan rubuhnya di tempat tidur. Meremas seprai dengan kuat.
***
Hery sibuk memilih milih tempat liburanya, ia, kini Rena dan Hery sedang berada du perpustakaan kecil Hery di rumahnya ini.
Rena juga sibuk mencari buku yang ia mungkin ingin baca. Banyak buku yang di lihat lihat Rena tapi tak ada satu pun yang ia suka.
__ADS_1
Tiba tiba ia melihat buku yang cukup tua, Rena tentu saja penasaran dengan buku itu. Ia mengambilnya dan membacanya.
"Ini buka apa ya..?" tanya Rena.
"Ya buku untuk di baca sayang..." Sahut Hery dari tempatnya. Tapi ia tidak memperhatikan buku apa yang Rena pegang.
Rena pun mulai membukanya, ada beberapa foto anak kecil dan kedua orang tuanya. Anak laki laki itu sangat imut, tapi ada yang tak asing di mata Rena, tahi lalat di atas bibir.
"Ini Hery kecil..." Gumam Rena dan lanjut membuka lembar berikutnya.
Ada lagi foto Anak kecil itu yang di duga adalah Hery, sedang memegang cawan Emas di tangannya. Senyum Hery kecil sangatlah imut tapi terkesan Dewasa.
Lanjut lagi foto Hery kecil lainnya terlihat bersama ayahnya, sedang duduk di kursi bersama. Di sana ada nama yang tertera.
"Rafa Krisnata dan Hery Krisnata."
"Ooowww imutnya.." Sesekali Rena bergumam.
Lalu Rena berlanjut ke gambar seterusnya. Dan bahkan sampai Hery kecil beranjak dewasa. Senyum terus bermekaran di bibirnya. Suaminya sangat lucu dan imut, tapi memang sedikit menggoda. Membuat Siapa pun yang melihatnya gemas.
Dan pada salah satu gambar tampak Ayah Hery bersama Hery dan seorang laki laki juga. Rena menyipitkan matanya, ia sangat mengenal laki laki itu juga.
Benar sekali, Rena membuka halaman selanjutnya ternyata masih ada foto Roy bersama Hery tapi Hery yang duduk di kursi dan Roy yang berdiri di sampingnya.
Rasa penasaran Rena semakin besar. Bukankah yang Rena ketahui Roylah Bos dari Hery. Tapi kenapa di Foto ini Hery yabg tampak menjadi Bos Roy. Di bawa foto itu juga ada tulisan "Gunha group"
"Sayang, apa nama perusahaan tempat kamu kerja sama Roy itu..?" Rena menoleh Pada Hery.
"Gunha Group..." Jawab Hery tanpa menoleh.
Rena melihat lagi foto dan judu foto itu.
"Eeemm sayang lalu foto ini..?" Rena memperlihatkan buku yang ia temukan itu.
"Eehh..?" Hery pun terkejut melihatnya.
__ADS_1
"Kamu dapatnya di mana mana?" Hery menatap Rena.
"Aku ketemu di situ.." Rena menunjuk tempat ia duduk tadi.
"Oohh ini tuh album foto aku sama Keluarga.. Apa kamu sudah liat semuanya..?" Hery membawa Rena ke pangkuannya.
"Ya aku liat semuanya.. Maaf ya aku gak minta izin dulu.." Rena takut Hery akan memarahinya karna sudah lancang membuka buku albumnya.
"Aah kok minta maaf kan gak salah.. Aku gak larang kok kamu buka buku ini, cuma aku lama aja sudah gak liat buku ini... Aku kira sudah hilang.. Tapi kalau dk pikir pikir aku memang jarang ke sini sih, baru baru ini aja aku bersih bersih dan baca buku, jadi wajar aja kalau baru ketemu.." Ucap Hery lagi.
"Eeemm Sayang.. Sebenarnya ada yang mau aku tanya.." Rena ingin menanyakan maksud foto yang menurutnya aneh.
"Apa sayang..?" Hery mencium tangan Rena.
"Ini... Foto ini.. Aku liat sepertinya kamu yang jadi bos bukannya Roy.. Maksudnya apa..?" Hery mengangguk angguk kepalanya.
"Mungkin sudah saatnya kamu tahu yang sebenarnya.. Siap dengar..?" Rena semakin bingung.
"Aku jelaskan ya maaf kalau panjang. Dulu.. Gunha Group, adalah milik Papa, aku sering ikut papa ke Perusahaan, ada kan beberapa fotonya tadi.. Nah ya itu aku sama Papa, sangkin seringnya aku ke perusahaan aku terbiasa dan tampak sudah dewasa. Seiring berjalannya waktu, banyak hal juga yang terjadi di perusahaan. Ada beberapa wartawan yang bertanya dan mencari tahu. Semakin hari semakin banyak, aku setiap hari bertemu dengan mereka. Awalnya biasa saja tapi lama kelamaan aku merasa takut, mereka mengejar, mencari, berteriak, dan masih banyak lagi bahkan ada yang jadi mata mata untuk mencari tahu yang sebenarnya. Rasa takut aku pun makin besar... Aku khawatir, di tambah lagi keadaan Papa yang semakin hari juga semakin lemah karna semua yang terjadi di perusahaanya. Dan akhirnya aku punya rasa takut yang tinggi pada wartawan dan yang bersangkutan dengan liputan liputan. Papa meninggal, dan akulah penerus Gunha Group. Aku pemilik Gunha Group setelah itu. Tapi rasa takut aku terus ada, gak pernah hilang, pada waktu itu aku dapat asisten baru, aku senang ketika tahu siapa yang jadi asisten aku itu. Roy.. Dia jadi asisten aku.. Waktu itu pun Roy butuh uang, Debora waktu itu adalah pacarnya, Debora du culik, maka aku pinjamkan Roy sejumblah uang tapi dengan syarat dia maj gantikan aku jadi CEO Gunha. Roy setuju dan ia mendapat uang dan berhasil bebaskan Debora. Semenjak itu aku yang jadi asisten dan Roy yang jadi CEOnya. Tapi untuk masalah keuangan dan data perusahaan tetap aku yang jalankan. Roy hanya memegang nama CEO saja, dan aku yang bayar dia jadi CEO itu.. Gitu sayang, jadi kalau ada liputan atau Wartawan yang datang mereka akan mewawancarai Roy bukan aku.. Kalau ada wartawan yang datang, aku cukup ke ruanganku dan bersembunyi di sana Hehehee.. Gitu sayang... Suami kamu ini pemilik sebenarnya sayang.." Rena menganga mendengar cerita Hery.
"Sayang..?" Hery keget melihat sang istri tak bersuara.
"Sayang..." panggil Hery lagi.
"Hah iya.." Baru Rena sadar.
"Kamu kenapa sayang.. Kok diam gitu.."
"Aku kaget sayang.." Rena sangat Syok.
"Sudahlah sayang.. Yang penting sekarang kamu sudah tahu yang sebenarnya, dan aku mohon, jangan bilang bilang sama orang lain ya.. Ini cuma rahasia kita aja ya.." Pinta Hery pada Rena.
"Tapi Roy juga tahu kan..?" Hery mengangguk.
"Oohhh dan dia setuju kayak gitu...?" Hery mengangguk lagi.
__ADS_1
"Saat itu Roy sangat perlu uang jadi dia setuju.."
Off dulu.. Like ya.. Koment juga ya.. Inilah alasan kenapa Hery selalu maju selangkah dari Roy. Dan kenapa Roy selalu butuh Hery. Kenapa semuanya perlu Hery. Karna dialah tokoh pentingnya..