
Hari ini hari yabg di nanti Hery dan Rena. Mereka berdua sejak tadi tersenyum sumringah.
"Ayo Bisma cepat..!" Titah Hery pada Bisma.
"Haaahh.. Kamu yang ada pertemuan aku yang harus ikut ikutan.." Cicit Bisma.
"Kenapa..? Gak suka..?" Debat Hery.
"Sayang ayolah.. Hery cuma mau bawa kita ke rumah masa kecilnya.." Adel memeluk lengan Bisma.
"Oke.. Ayo.." Bisma masuk juga ke dalam mobil Hery.
"Aku di mana..? Oohhh aku ikut Rena aja ya.." Adel lebih memilih bersama Rena di mobil yang satunya lagi.
"Aunty.." Sapa Alf dan Elf bersamaan ada Adel.
"Hai sayang.. Aunty gabung ya.." Adel mengedipkan matanya ada kedua bocah pintar itu.
"Yes Aunty.." Alf sangat setuju dan Elf mengangguk mengiyakan juga.
Mereka pun berangkat ke suatu tempat. Bisma tak pernah sampai ke rumah masa kecilnya dulu.
Ini kali pertamanya ke sana. Bisma sedikit takut, takut Hery memiliki foto Rafa dan membuatnya kembali terkenang masa buruknya itu.
Di mobil yang satunya lagi Alf,Elf dan Adel riang gembiranya menyanyikan lagu lagu yang di putar di dalam mobilnya. Rena menyetel musik anak anak agat Alf dan Elf nyaman di dalam perjalanan yang mungkin sedikit memakan waktu ini.
"Rena.. Kamu dan anak anak ikut, lalu Debora di jaga siapa..?" Adel hampir melupakan ibu hamil itu yang perlu pengawasan ketat.
"Hehehee.. Tenang aja, ada calon suaminya.." Rena tersenyum bahagia.
"Hah..? Suami.. Debora sudah dapat pengganti Roy..?" Adel penasaran.
"Kamu ingat'kan laki laki yang hadir di acara kamu dan Bisma.. Laki laki yang mempersiapkan semuanya, nah dia itu namanya Dion.. Dia teman Hery, makanya untuk persiapan acara kemarin itu Hery minta tolong Dion. Aku juga dulu pernah berteman dengan Dion. Dan rupanya Dion punya rasa untuk Debora.. Beberapa kali berusaha mendekati sekarang Debora percaya dan suka Dion bersamannya. Aku yakin mereka berdua akan jadi pasangan serasi." Cerita Debora.
"Iya.. Aku rasa juga gitu.. Dari namanya aja sudah cocok.. Dion Debora.."
"Betul betul betul.."
.
.
.
.
.
.
"Sayang.. Mau makan apa..?" Dion menciuni punggung Debora.
__ADS_1
"Eeemmm aku mau apa ya..?" Debora malah balik bertanya.
"Aku masakkan tumis kangkung, sayur bening, dan ayam goreng mau gak..?" tawar Dion.
Menu yang menggoda.
"Mau mau.." Jawan Debora cepat.
"Oke.. Silakan tunggu ya ratuku.." Dion mengecup kening Debora sebelum meninggalkan wanita hamil besar itu duduk di sofa sambil menonton tv.
Debora minta untuk di temani Dion. Dion sebenarnya ingin membawa Debora ke rumahnya tapi, Debora bersikeras untuk tetap di rumah Rena.
Beberapa menit kemudian Dion kembali menghampiri Debora. "Sayang.. Makan siangnya sudah siap.. Ayo kita makan siang.." Ajak Dion dengan rasa senang.
"Eeemm ayo.." Inilah alasan Debora memilih untuk teta di rumah Rena, ia merasa lebih nyaman dalam beraktivitas. Sedangkan jika bersama Dion di rumahnya, Debora merasa kurang nyaman bersama adik adik Dion.
Meski Dion sudah mengatakan kalau mereka tidak mempermasalahkannya tapi Debora tetap pada pemikirannya.
"Waaaahhh.." Debora tabjuk melihat masakkan Dion terhidang di depannya.
"Kelihatan enak kan..?" Dion menarik satu kursi dan membiarkan Debora duduk dengan nyaman.
"Mau yang mana sayang...?" Dion mendekatkan lauk dan sayur mayur yang sudah matang di depan Debora.
"Aku bisa ambil sendiri Dion.." Debora tak ingin lebih merepotkan Dion.
"No.. Aku akan melayani kamu, aku mohon jangan menolak dengan alasan tak ingin merepotkan aku..!" Dion mengunci mulut Debora dengan satu jari telunjuknya.
Hampir satu jam perjalanan Hery dan rombongan, kini mereka sudah memasukki area perumahan warga. Tidak terlalu ramai akan penduduk, perkampungan yang tampak biasa saja dengan peternak bebek, kambing dan masih banyak lagi.
"Tempat ini benar benar asri.." Gumam Bisma ketika baru memasukki kampung.
"Aku suka yang seperti ini." Sahut Hery.
"Her.. Kamu dan keluarga akan menginap beberapa malam ya..? Ini barang baramg Alf dan Elf kamu bawa semuanya..?" Bisma menanyakan semua barang yang ada di dalam Mobil yang ia dan Hery tumpangi ini.
"Iya.. Munngkin dua sampai tiga hari aja.." Jawab Hery.
Bisma merasa aneh dengan ini semua, jika Hery akan mengadakan pertemuan kenapa harus membawa Rena berserta anak anak mereka. Dan barang barang ini, semuanya bukanlah barang yang harus bawa ketika pertemuan.
Yang lebih terlihat aneh, tempat pertemuan, kenapa harus di kampung seperti ini. Dan satu lagi yang mengganggu Bisma. Rasa yang ada di hatinya. Rasanya ia sangat rindu akan sesuatu tapi ia juga tidak tahu apa yang ia rindukan.
****
"Kita sudah sampai.." Hery memerkirkan mobilnya di pelataran rumah yang tidak begitu besar dan tak begitu kecil.
"Ini rumahmu dulu Her..?" Bisma meneliti sekeliling rumah itu.
Bersih, tidak ada bungkus sampah sedikitpun, meski tak di huni rumput rumput tetap rapi seperti selalu di rumputi.
"Apa ada yang tinggal di sini..?" Bisma pun penasaran.
__ADS_1
"Ada.." Sahut singkat Hery.
Rena dan Adel juga turun dari mobil mereka pemandangan adalah hal utama yang di cari kedua wanita cantik itu.
"Aku suka tempat ini.. Udaranya sngat segar.." Puji Rena.
"Sayang ayo masuk.." Panggil Hery pada Rena.
"Oke.." Sahut Rena. "Alf, Elf ayo.." Ajak Rena lembut pada kedua anaknya.
Masuk ke dalam rumah yang bernuansa putih bersih itu membuat semua orang yang baru tiba di sana sangat kagum. Rupanya dekorasi dan semua perlengkapan yang ada di dalam rumah ini sangat lengkap dan indah indah pula.
"Waaaahhhh" Rena sangat antusias. Ini adalah rumah pertama yang di bangun Hery dengan jerih payahnya.
Bisma juga termasuk orang yang antusias. Ia antusias mencari foto foto kenangan Hery semasa muda.
"Waaahhh wajamu burik sekali.." Nilai Bisma pada foto masa kecil Hery.
"Itu cuma belum glow up.." Sahut Hery asal saja.
Tiba tiba, Bisma terdiam memandang foto yang paling sudut foto seorang anak perempuan kecil dan seorang anak laki laki yang sudah pasti Bisma kenal.
"Hery.. Ini.. Olin..?" Bisma mengelus foto anak perempuan yang mungkin baru berusia 5 tahun di foto tersebut. Anak perempuan yang duduk di tengkuk Hery dan merentangkan tangannya bebas.
"Eeemmmm itu Olin kecilku.." Sahut Hery. Ia bersandar di salah satu pilar rumahnya.
"Dia sangat cantik.. Aku.. Aku.. Aku gak pernah gendong dia, bahkan sentuh tangan kecilnya itu aku gak pernah.." Mata Bisma memanas.
Ia tidak pernah menggendong adiknya seperti itu. Bahkan mengelus pipi mulusnya saat masih bayi saja tidak pernah.
"Olin.." Lirih Bisma sambil menahan tangisnya.
Pluk...
Satu pelukkan dari belakang tubuh Bisma. Bisma memegangi tangan itu, tangan Adel pikirnya.
Tapi Bisma menoleh ke arah lain, Bisma melihat Adel sedang menggadeng tangan Rena dengan matanya yang juga sudah berkaca kaca.
"Ini tangan siapa..?" Bisma melirik tangan kecil di perutnya.
Tangan dengan kulit putih merona, jari jemari yang lentik dengan kuku putihnya.
Tangan itu sangat kurus dan kecil.
Degh....
Rasanya jantung yang Bisma punya berhenti berdetak merasakan hangatnya pelukkan ini.
Bisma..
1068 kata untuk pembaca setiaku.. satu bab ini.. terima kasih yang sudah setia menunggu.. kedepannya author up 1k lebih ya.. soalnya ini peraturan baru loo guys dari ntun.. jadi maaf ya kalau babnya kepanjangan kayak gini.. gak apa apa kan..?
__ADS_1