AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 22


__ADS_3

"Ini kar... Kartu..." ucap John dengan terbata bata membaca nama yang terpampang jelas di kartu yang baru saja di jatuhkan Rena.


John menatap Rena dan Dion yang ada di depannya kini. Otak John seakan berhenti berpikir bingung harus melakukan apa apa dia ambil kartunya apa dia kembalikan. Jujur John iri melihat kartu sebagus ini dan sekaya ini di miliki Rena.


"Maaf bisa kembalikan kartu teman saya..." Ucap Dion mengingatkan John yang nampak masih ingin lama memegang kartu limit yang hanya di miliki beberapa orang di kota negara ini.


"Oohh iya maaf tuan..." "John mengembalikan kartu Rena melalui Dion. Setelah mengembalikan kartu itu John langsung kembali meminta maaf dan meniggalkan Dion dan Rena.


"Apa kamu tidak apa apa? Apa ada bagian yang sakit?" Dion meneliti Rena takut takut ada yang sakit.


"Eemm tidak ada yang terlalu sakit tapi tanganku sedikit berdebu terkena lantai. Aku akan mencucinya dulu ya..." Rena pamit ke toilet untuk mencuci tangannya yang terkena debu karna tadi saat di tabrak laki laki tak ia kenali tangannya mengenai lantai Mall itu yang pastinya banyak orang yang laluw liliw di sekitar itu.


"Baiklah.. Ini kartunya?" Dion memperlihatkan kartu yang ia dapat dari pria yang menabrak Rena tadi.


"Kamu pegang dulu ya... Aku akan segara kembali. Nanti kalau aku bawa ke toilet nanti kartunya basah. Kamu pegang aja bentar yah.." Rena berlalu dan menuju toilet dengan bertanya pada beberapa pekerja di sekitar situ.


Dan saat itu Dion mengalihkan pandangannya pada John dan Debora yang masih di sekitar situ.


Nampak John memberi kabar ysng baru saja ia dapatkan ketika membaca nama yang tertera di kartu langka itu.


Dion hanya mengembangkan senyumnya dan kembali duduk di kursinya tadi, meraih tas Rena dan mengambil kartu dari dalan kantongnya dan memasukkannya ke dalam kantong celananya lagi. Menukar kartu yang Rena titipkan padanya barusan. Dion melanjutkan mengahabiskan minumannya lagi sampai Rena kembali lagi ke meja makan mereka. Dion menyerahkan kartu yang Rena titipkan padanya.


"Terima kasih. Sebentar ya aku bayar dulu." Rena berjalan ke tempat pembayaran resto tersebut. Sebelum menyerahkan kartunya Rena membaca nama uang tertera di kartu itu. Roy Filip, nama yang tercetak di kartu itu. Rena pun memberikan kartunya untuk di gesek dan melakukan pembayan transaksinya.


"Kita lanjut lagikah jalan jalannya" tanya Dion pada Rena.


Rena melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 1 siang. Masih banyak waktu yang Rena miliki untuk berjalan jalan bersama Dion, karna masih banyak yang Rena belum tahu di yang namanya Mall.


"Ayo..." Rena menyutujui ajakan Dion dan melanjutkan jalan jalannya.


Sedangkan Rena dan Dion melanjutkan jalan jalannya, Debora dan John hanya terdiam di meja makannya tadi.

__ADS_1


"Apa? Apa yang kamu lihat sayang..." Debora menguncang guncang tubuh John yang masih mematung. Terkejut dengan penemuannya barusan.


"Sayang kamu tahu orang yang baru saja kita ikuti bukanlah orang yang bisa kamu tandingi." ucapan John menggantung.


"John...." pekik Debora bingung dengan apa yang John katakan.


Sedangkan di tempat lain, Roy dan Hery kembali berkerja layaknya Bos dan Asistennya.


Ti tit tit.. (Anggaplah bunyi telpon kantor ya temannm teman)


Telpon di meja Hery berbunyi. Dengan segera Hery menerima telpon itu takut takut penting.


"Halo.. Selamat siang pak Hery. Ini ada panggilan dari Tuan Loir Carter dari Amerika meminta Tuan Roy mau menerima panggilannya. Katanya penting pak.." Ucap Staf yang bertugas menerima panggilan dari luar negeri.


"Baiklah tunggulah sebentar. Saya tanya pada Tuan Roy terlebih dahulu kamu juga pasti tahu jika orang itu tidak ingin Tuan temui atau bahkan menerima panggilannya maka ia akan sangat marah nantinya." Ucap Hery sebelum meniggalkan telponnya staf itu hanya mengiyakannya, Hery pun mengetuk ruangan Roy.


"Masuk.." Roy dari dalam ruangannya.


Sebenarnya Hery tidak mau menerima telpon dari ayah John itu tapi karna kini jam bukan untuk menjadi sahabat Roy tapi malah menjadi Asisten Roy. Maka Hery harus melakukan tugasnya sebagai Asisten Roy memberi tahu semua info yang masuk dan apapun yang berkaitan dengan perusahaan.


Sejenak Roy berpikir. "Baiklah aku ingin mendengar kadal berbicara itu seperti apa, seumur umur aku belum mendengar kadal berbicara, kalau burung kaka tua aku pernah dengar." ucap Roy santai.


Karna Roy sudah mengiyakan Hery kembali dan menghubungi staf bawahan dan memintanya untuk meyambungkan panggilan tuan Loir Carter itu pada Roy, bos tertinggi mereka.


"Selamat siang.." suara Roy meyapa terlebih dahulu orang yang berada di sebrang.


selamat siang tuan Roy. Ini saya tuan Loir Carter, tuan pasti pernah mendengar nama saya. ucap orang dari sebrang sana.


Iya sering dari istri saya yang sekingkuh dengan anakmu yang payah itu. umpat Roy dalam hatinya tapi tak jadi ia keluarkan.


"Iya tuan ada yang bisa saya bantu." jawab Roy selayaknya seorang bawahan bisa seperti para stafnya, karna Roy yakin Debora pasti melakukan sesuatu di belakang Roy oleh sebab itu dokumen Loir bisa masuk ke perusahaannya, padahal sangat sulit untuk perusahan kecil seperti perusahaan Loir untuk masuk kedalam perusahaan Roy dengan seperti ini, jika bukan karna ulah Debora di belakang Roy.

__ADS_1


"Tuan Roy kenapa anda menolak saya dan dokumen saya..? Apa perusahan saya ada kurangnya?" ucap Loir mengeluh pada Roy.


"Maaf sebelumnya tuan Loir bukannya saya menjelekkan perusahaan anda yang tidak bisa berkerja sama dengan perusahaan saya tapi saya memang tidak membutuhkan perusahaan kecil mikik tuan." Ucap Roy dengan nada merendah tapi arti meninggi.


"Apa tapi kata calon menantuku. Perusahaannya ini bisa menerima perusahaanku yang kecil ini." ucap Loir lagi memajukan nama nama menatunya yang Roy sudah menduganya.


"Maaf tuan siapa yang tuan maksud menantu di sini. Disini saya tidak memperkerjakan seorang menantu orang lain yang memiliki perusahaan seperti tuan Loir." ucap Roy masih dengan nada bicara yang sama.


"Saya tau kamu hanya pilih pilih perusahaan yang masuk dan berkerja sama dengan perusahaan calon menantu saya. Calon menantu saya sudah bilang kok kalau perusahaannya mau menerima perusahaanku ini. Kamu ini pasti hanya manejer yang tidak bisa kenang budi, sudah di bantu kerja sama menantuku malah kamu tidak terima perusahaanku ini.. Baiklah akan aku adukan kamu pada bosmu!" Ancam Loir tak tahu malu.


"Maaf bos mana yang tuan maksud?" tanya Roy lagi sambil menahan tawanya sejak ayah John marah marah tak jelas.


"Tentu saja calon menantuku, Debora. Dia kan pemilik asli dari perusahaan ini, karna dia sedang sibuk mendesain baju baju ternama oleh karna itu dia menuruh orang payah seperti kamu mengurus perusahaannya. Ck... Sepertinya anakku dan Debora harus segera menikah agar anakku bisa mengantikan posisimu yang tidak becusmu itu...


Tutt tuuut....


Telpon itu terputus Roy langsung tertawa ria... Sedangkan Hery hanya bisa mengelengkan kepalanya.


"Her aku yakin sebentar lagi Debora akan kemari. Dan bagaimana aku bisa bertemu dengan Renaku.." Melas Roy ada Asistennya yang selalu mempunyai akal bulus.


"Harap tenang saja tuan. Dan kalau tuan lupa saya ingatkan 30 menit kita ada meeting dereksi." Roy menoleh pada Hery dan langsung memeluk asistennya itu dengan sangat erat.


"Hery kamu sangat hebat..." Tiba tiba hilang sikap bos arogan Roy ketika mengetahui ia bisa mengelabui Debora.


Sedangkan itu Debora masih menunggu John sadar dari patungnya itu.


"John katakan kartu siapa itu tadi?" Debora sudah makin tak sabaran.


"Kartu itu milik..." Tatapan John masih lurus kedepan. Otaknya sudah tidak dapat berpikir.


Off dulu ya... koment donk readers... Dukung authormu ini.... 😚😚

__ADS_1


__ADS_2