
Hery membulatkan matanya membuka mulutnya lebar.
"Gak kamu gak boleh ke unit Rena. Ingat Roy Rena lagi ngandung anak kamu.. Kalau kamu ke situ dengan kondisi kayak gini, bisa bisa kamu nyakitin anak kamu.. Kan kamu tahu itu.. Kasian kan Rena sama anaknya.." Bantah Hery dengan keras.
"Aaahh Hery.. Ssshhhttt.." Hery memejamkan matanya mendengar Roy mendesah dari dalam panggilannya.
Roy memegangi kepalanya yang terasa pusing. "Aku butuh Rena Hery.. Aku butuh dia.." Ucapanya Roy dan berjalan sempoyongan.
"Gak boleh.." Hery mematikan panggilan itu dan bergas menjalankan mobilnya dengan lajunya.
"Gak boleh.. Roy kamu gak boleh sentuh Renaku.." Gumamnya, Hery sangat takut Roy benar benar menuju apartemen Rena dan memakasa Rena untuk melayaninya. Hery sangat tidak terima jika itu terjadi.
***
Roy menuruni tangga sambil memegangi kepalanya. Ia hendak menuju mobilnya dan berangkat ke apartemen Rena, ia tidak bisa menahan niatnya itu. Ia juga seperti sudah tidak peduli dengan kandungan Rena.
"Roy sayang kamu mau kemana?" Debora datang dan memegangi tangan Roy.
"Debora.. Aku.." Kepala Roy semakin pusing.
"Roy..." Debora membuat suaranya menggoda dan menaruh tangan Roy di dadanya.
"Jika kamu mau aku bisa.." Ucapanya lagi.
Nafas Roy sudah memburu dan sudah tidak sabar lagi. Debora pun mengecup bibir Roy dengan seksinya. Menyalurkan sensasi untuk Roy.
"Ayo Roy.." Debora manarik Roy ke kamar lagi.
Debora pun menang lagi dan berhasil membawa Roy dalam dunianya. Roy juga sangat menikmatinya. Bahkan ia yang paling mendominasi permainan.
Tiba tiba Roy teringat akan Rena, dan semua penghianatan Debora. Dan tiba tiba Roy sadar kalau ia sedang bermain bersama Debora. Dan akhirnya Roy paham ini adalah Rencana Debora lagi, Debora pasti akan merekam aksi mereka ini dan menunjukannya pada Rena.
Roy mendapat ide bagus yang mungkin bisa mengurangi beban pikirannya. Roy bermain dengan kasar dan awalnya Debora menikmatinya kini merasa sakit dengan Roy yang bergerak dengan kasar.
"Roy jangan kuat kuat Roy jangan.." Debora mendorong tubuh Roy dari tubuhnya tapi Roy tidak akan membuat Debora lepas begitu saja.
Roy tetap meneruskan aksinya dengan harapan memusnahkan kandungan Debora. Debora mengerang kesakitan tapi Roy tak peduli dan tetap melakukan yang ia inginkan.
***
"Rena..!" Hery tiba di Unit Rena dan dengan cepat membuka pintunya karna ia sudah tahu kode yang baru di masukkan Rena.
__ADS_1
"Eeemm?" Rena menoleh ke arah pintu, rupanya Rena sedang makan mangga matang di depan televisi.
Hery ngos ngosan di depan pintu, lagi lagi dengan keringat yang bercurcuran di wajahnya.
"Rena.. Kamu gak apa apakah..?" Hery masuk dan langsung duduk di samping Rena lalu meneliti wajahnya.
"Kamu kenapa Her..?" Rena juga ikut panik melihat Hery yang begitu panik.
"Kamu... Kamu betul betul baik kan Ren..?" Masih mengulangi ucapan yang sama.
"Iya Her aku baik baik aja.. Kamu kenapa?" Rena hanya bisa menerima Hery yang memeriksa wajahnya.
Bukan hanya wajah, Hery memeluk Rena dan memeriksa apa pengait B*A Rena.
"Hery kamu kanapa..?" Rena semakin bingung.
Hery baru lega ketika memeriksa pengait itu, setelah yakin Hery langsung memeluk Rena. Lalu ia lepaskan lagi dan lanjut mencium Rena tanpa izin. Rena pun beku di tempat dengan aksi Hery ini. Baru kali ini Hery melakukan ini padanya. Rena sama sekali tidak memutup matanya seperti Hery, maka ia memandang wajah, hidung, mata, dan semua yang ada di depannya.
Hery melepas ciumannya dan mencium bagian wajah Rena lainnya seperti pipi, kening, dagu, hidung, kedua kelopak mata Rena. Sedangkan mata Hery juga sudah berkaca kaca.
Baru Rena mengerti Hery sangat mengkhawatirkannya, entah apa yang membuatnya tapi sepertinya memang sangat penting untuk Hery. Setelah puas menciumi Wajah Rena, Hery turun ke perut Rena yang semakin berbentuk itu.
Hery selesai memberi kecupnya pada perut Rena, kini ia menghadap Rena lagi dan ia menyatukan hidungnya dan hidung Rena. Membuat mata mereka saling bertemu dan melempar pandangan hangat. Dengan perlahan Hery menutup matanya, menikmati hangatnya nafas Rena yang berhembus di depannya.
"Hery.." mata Rena tak henti hentinya memandangi Hery.
"Aku mohon Rena aku ingin begini dulu.. Sebentar lagi.." Pintanya sambil terus terpejam.
Rena pun membiarkannya, Rena mengulurkan tangannya berharap itu bisa membantu Hery untuk tenang. Rena memeluk Hery juga dan mengelus elus punggungnya.
"Hery.. Kami berdua gak apa apa kok.. Kamu gak perlu khawatir lagi.. Sekarang juga sudah ada kamu..." Ujar Rena sambil membantu Hery untuk tenang.
Bukanya makin tenang, Hery semakin memeluk Rena dengan Erat juga.
"Rena aku... Aku cinta kamu..." Tak terasa akhirnya Hery mengatakan isi hatinya.
Rena terdiam mendengarnya. Ia tidak dapat membalas apa pun ucapan Hery itu. Sepertinya sulit untuk Rena menerima cinta seseorang secepat ini. Ia siap menikah dengan Hery karna tak ingin terus berurusan dengan Debora dan Roy yang malah terus menyakitinya.
Setelah beberapa detik setelah pengakuannya barulah Hery kembali sadar.
"Maaf Rena maaf.. Aku... Maaf.." Hanya itu yang mampu Hery katakan pada Rena.
__ADS_1
"Gak apa apa Her.. Tapi apa yang bikin kamu khawatir kayak gitu tadi..?" Rena benar benar penasaran.
"Eemm itu, ya..?" Hery jadi bingung harus mengatakan apalagi. Karna tindakannya barusan bisa di bilang menghalangi Roy dan Rena. Tapi jika ia tidak melakukannya maka bisa jadi Rena dan anaknya bisa terluka.
"Hery bilang donk..?!" Desak Rena lagi.
Hery hanya melipat bibir bawahnya kedalam dan mulai gugup "Rena janji jangan marah ya.." Pinta Hery terlebih dahulu.
"Iya Her kenapa sih kamu?" Memuncaknya penasaran Rena.
"Tadi, Roy hubungi aku, dia dalam kondisi pengaruh obat prang*Ang. Dia dapat obat itu pasti dari Debora, dan Roy berniat untuk ke sini dan minta bantuan kamu Ren.. Tapi aku larang.. Karna aku takut.. Kalau Roy dalam kondisi pengaruh obat itu bisa aja dia hilang kendali dan malah lukai kamu sama si kecil.." Hery mengelus perut Rena lagi dan tak rela jika itu akan terjadi.
"Ooohh gitu.. Kirain apa.." Jawab Rena biasa saja.
"Kamu gak marahkah Ren..?" Hery ingin memastikannya.
"Buat apa aku marah Her..?" Rena malah balik bertanya.
"Ya aku kan tadi larang Rpy ke sini padahal kan dia mau bercinta sama kamu.." Jawab Hery dengan apa yang ia pikirkan.
"Kamu ini.. Emangnya aku mau bercinta sama dia, toh yang rangsang dia Debora kok aku yang tanggung jawab..." Rena memukul lengan Hery dan kesal dengan pemikiran Hery yang tak masuk akalnya.
"Oohh gitu ya..?" Hery menggaruk garuk kepalanya.
"Kamu ini.. Aku juga gak maulah anak aku kenapa napa... Selama ini dia sehat sehat aja kok tiba tiba di ganggu ganggu.. Gak boleh.." Rena kini yang mengelus perutnya sendiri.
"Syukurlah.." Hery memegangi dadanya.
"Eemm kamu makan mangga manis ya..?" Hery melihat potongan mangga yang terlihat manis dan lezat di depanya dan mengalihkan pembicaraan.
"Iya.. Aku kepengen.." Ucap Rena tersenyum bahagia, baru ini ia merasakan yang namanya ngidam.
"Oohh si kecil mau ya..?" Hery mengelus perut Rena lagi.
Keduanya tersenyum dan lanjut menikmati mangga itu. Perasaan khawatir Hery hilang dan lega melandanya. Bahkan ia sudah merasakan manisnya bibir Rena.
"Manisnya mangga ini gak semanis bibir kamu Rena.." Hery juga ikut menyantap mangga itu bersama Rena. Tapi itulah yang ia rasakan.
***
"Roy stop stop.. Aakkhhh"
__ADS_1