
Roy berhenti dan menoleh pada Debora.
"Minggu depan kan..?" Debora tersentak.
"I.. Iya.." Pipi Debora merona.
"Gak usah banyak khayal. Kayak baru pertama kali aja.." Roy melihat dengan jelas raut wajah Debora yang tiba tiba malu sendiri.
"Aaahh iya..." Masih sangat malu. Debora sampai mengaruk garuk tengkuknya.
Roy menggelengkan kepalanya, tapi ua juga tersenyum melihat Debora yang malu malu seperti itu. Ini mungkin tanda tanda cinta lama yang akan bersemi kembali.
***
"Sayang kenapa banyak banget yang kamu bawa ini.. Kita kan cuma ke Bali.. Di Bali juga banyak toko buat beli.." Protes Rena melihat 3 koper yang di siapkan Hery.
"Ooohh sayangku.. Yang ini keperluan aku, yang ini keperluan kamu, dan yang ini keperluan sayangku yang ini.." Hery mengelus perut Rena.
"Ya ampun Hery sayang ini anak Kita belum lahir looo tapi terlengkapannya sudah sebanyak ini..?" Rena merentangkan tangannya ke hadapan koper yanf di gadang gadang untuk anaknya.
"Iya.. Harus sayang di dalam sini ada susu, vitamin, kue, gelas, piring, sapu tangan, sabun kesukaan kamu, shampo kesukaan kamu, baju adem kesukaan kamu. Eeemm ada yang kurang gak yangk..?" Jadi semua 3 koper ini masih ada yang kurang menurut Hery.
"Gak ada sayang.." Rena mengeleng kepalanya.
"Aaahh ada parfum kesukaan kamu sayang aku lupa.." Hery berlari lagi ke dalam kamar.
"Ya ampun.. Suami aku ini memang limited edition." Rena menatap Hery yang bolak balik mencari barang barang yang ia pikir penting.
Rena awalnya memang mempercayakan Hery untuk memilih barang barang yang akan mereka bawa tapi setelah melihat hasilnya Rena benar benar syok.
Tiga koper? Mau Babymoon atau minggat sih. Tapi ya sudahlah suami yang sudah mengaturnya. Melihat Hery yang sangat bersemangat membuatnya sudah senang. Apalagi bisa berlibur Babymoon Barsama Hery.
"Sayang sudah itu, cukup..!" Pinta Rena pada Hery yang sepertinya tidak ada habisnya bersiap siap.
"Ya sedikit lagi sayang.." Sahut Hery sedang mengabsen barang barang bawaannya.
__ADS_1
"OOHHH.." Rena bertopang dagu.
Tok tok tok..
"Eehh.. " Rena bangkit untuk membukakan pintu.
"R.. Roy..?" Rena tak percaya Roy lagi yang berdiri di hadapannya.
"Selamat sore Rena.. Aku mau ketemu Hery.. Ada dia kah..?" Roy manatap wanita yang pernah menemaninya, pernah berbagi malam dengannya, pernha mencintainya juga memberi malam pertamanya untuk Roy.
Semua itu lewat begitu saja di ingatan Roy. Tapi ia berusaha menepiskan semua perasaannya saat itu. Dan fokus dengan apa yang ingin ia lakukan ini.
"Ya aku ada di rumah..." Hery datang dari belakang Rena dan memegangi bahu Rena.
" Ya Her.. Aku ada perlu sama kamu.." Hery mempersilahkan Roy masuk.
"Apa...?" Hery mempersilahkan Roy duduk hanya dengan gerakan tangan dan setelah itu langsung bertanya.
Sedangkan Roy ia sibuk melihat koper yang sudah tersedia di ruang itu.
"Gak kami hanya mau pergi Babymoon. Ini semua persiapan Rena dan bayinya..." ucap Hery dengan yakin dan Rena mengeleng gelengkan kepalanya tak setuju.
"Ooohhh ya.. Eeemm Her... Aku mau minta maaf.. Aku tahu aku kemarin keterlaluan. Aku gak percaya kamu bisa buat Rena bahagia, hari ini pas aku sama Debora ke rumah sakit dan aku liat kalian ke dokter kandungan, baru aku percaya kalau kamu benar benar sayang sama Rena." Roy sadar dengan yang ia lakukan kemarin salah.
"Aku bukan cuma sayang sama Rena, tapi aku duluan sayang sama kandungannya. Cuma nasib yang bisa percaya aku jadi suami dan calon papa untuk Rena dan anaknya." ucap Hery sambil menatap Rena.
"Eeemm lalu kamu dan Debora juga ngapain ke rumah sakit. Debora sakit..?" Tanya Rena juga mencoba ikut dalam percakapan ini.
"Aku dan Debora pergi memeriksa rahim Debora dan konsultasi." Cerita Roy juga.
"Ooohh.. Lalu apa hasilnya.." Sambung Hery juga.
"Iya Debora di bolehkan untuk mencoba lagi, tapi dengan pengawasan dari dokter juga. Minggu depan Debora mulai program hamilnya." Roy menjawab pertanyaan Rena dan Hery.
"Oohhh.." Rena dan Hery bersamaan.
__ADS_1
"Ya baguslah Roy.. Aku juga pernah bilang ke kamu, Debora sudah tahu berubah. Berilah dia kesempatan lagi." Saran Hery.
"Iya Her.. Tapi jujur aku masih gak percaya sama Debora. Kadang ada rasa takut aku di hianati dia, oleh karna itu aku masih takut untuk terlalu percaya sama dia Her..." Roy jadinya mengadu lagi pada Hery seperti dulu.
"Iya.. Tapi saran aku coba dulu Roy. Aku yakin kali ini Debora gak akan ngulang hal yang sama lagi.." Hery tersenyum pada Roy. Roy membalas senyum itu.
"Jadi kita sudah baikan kan..?" Roy malu malu menanyakannya.
"Iya Roy.. Kita kan teman... Bahkan sahabat. Buat apa aku marah sama kamu lama lama.. Mending sekarang kita mulai hidup baru dan tata agar lebih baik lagi.." Roy mengangguk setuju.
"Aaahh leganya hatiku.. Kamu gak akan tahu rasanya Her.." Roy memegangi dadanya.
"Rena aku juga minta maaf, aku gak bisa jadi laki laki yang bertanggung jawab, aku memang payah. Tapi aku yakin Hery bisa menjaga kamu dengan baik Ren.. Kamu mau kan maafin aku..?" Rena menganggukan kepalanya.
"Ya Roy aku maafin. Aku juga sebenarnya gak pernah ngalarang kamu untuk ketemu sama anak ini nanti kalau sudah lahir, kamu masih bisa ketemu dia kok, dan aku juga berterima kasih karna kamu aku bisa ketemu sama Hery. Dia laki laki terbaik yang pernah kau temui." Hery langsung menggenggam tangan Rena.
"Iya.. Namanya jodoh kita juga gak tahu kan... Syukurlah.. Kalau kamu bolehkan aku temu anak ini nanti.. Itu sudah cukup untuk aku. Sekarang aku harus bahagiakan Eyang dan Debora. Itu tugas aku sekarang..." Hery setuju dengan ucapan Roy yang satu ini.
"Dan aku punya tugas juga untuk jadi saumi siaga..." Hery mengedipkan matanya.
Rena mencubit pinggang Hery. "Awwww.." Hery memegangi pinggangnya.
Roy merasa lega rupanya Hery dan Rena juga mau memaafkannya. Kini tinggal satu orang lagi di dalam daftar permintaan maaf Roy. Yaitu sang Eyang sendiri.
Roy merasa bersalah karna sudah membuat sang Eyang kesal dan marah padanya kemarin.
Setelah berbincang bincang dengan Rena dan Hery, Roy pun pamit pulang karna ia ingin melanjutkan permintaan maafnya pada Eyang lagi.
"Aku pamit dulu, aku belum minta maaf sama Eyang, aku sudah bust dia kesal kemarin sama tingkah aku ysng kekanak kanakan. Terima kasih sudah mau maafin aku.." ucap Roy.
Hery mengangguk dan memeluk Roy. Persahabatan yang di ujung tanduk itu rupanya kembali utuh.
Off dulu guys.. Like dan komen
Jangan kira dengan berbaikannya semua tokoh novel ini akan tamat ya.. Karna baru di mulai ya.. Masih banyak cerita seru selanjutnya, dengan tokoh yang sama tapi dengan bebagai kisah baru..
__ADS_1