AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 151


__ADS_3

Roy dan Debora tiba di rumah jam 5.30. Debora sudah ketar ketir melihat Eyang dsn Nur sudah di teras bersantai atau apalah.


"Roy Eyang dengar dari Nur kamu malam ini tidur sama Nur kan..?" Eyang sangat senang.


"Ya Eyang. Tapi paginya gak ada lagi yang bisa atur Roy.." Roy berlalu menyusul Debora yang sudah mendahuluinya.


"Kamu mau kemana..?" Nur malah menyusul Roy.


"Matahari belum tebenam... Aku masih sama Debora.." Roy berlalu lagi meninggalkan Nur diam tanpa kata.


"Tenang Nur.. Tenang sedikit lagi kok.." Ia kembali bersama Eyang.


"Sayang.. Kamu malam ini harus tampil cantik ya.." Eyang yakin Nur bisa melakukannya.


"Nur lebih baik dari cantik Eyang.  Nur yakin setelah malam ini, jangankan matahari tengelam. Bumi terbelah pun Roy akan sama aku.." Nur lebih yakin.


"Ya udah Eyang banyak yang harus Nur lakuin di kamar.. Siap siap.." Nur mengedipkan matanya dan berlalu dengan senyum misterius.


"Roy.. Ini sudah waktunya.." Debora memijit kepala Roy seperti biasnya.


"Haaahh.. Ya aku pergi dulu.. Kamu tidur yang nyenyak ya.. Jaga kesehatan kamu juga, aku baik baik aja kok, aku langsung tidur nanti.." Roy mengelus pipi Debora.


"Kok langsung tidur kan belum makan malam.." Debora mimiringkan kepalanya.


"Ooohh iya ya belum makan malam.." Roy menepuk keningnya.


"Pasti akan ada yang terjadi nanti, aku harus waspada.." Belajar dari kesalahan masalalu Roy sepertinya bisa membaca pergerakan Nur.


Makan malam seperti biasa hanya saja letak duduk Roy sedikit berbeda. Ia duduk di tengah tengah Debora dan Nur. Mau tak mau tapi Nur yang meminta dan Debora mengiyakannya.


"Eeemm aku kok mau mie instan ya..?" Roy bergumam saat melihat makan di hadapannya.


"Mie instan..?" Debora mengulangi ucapan Roy.


"Bukannya kamu.."


"Aku lagi pengen Debora. Eeemm bi.. Buatkan aku mie instan ya.." pinta Roy pada Bi Mila.


"Aku aja yang buatkan kamu Roy.. Tunggu ya.." Nur akan segera bangkit.


"Kamu mau ke mana..? Ini meja makan. Kamu di sini istri kan, bukan pembantu..." Sindir Roy.


"Roy kok bicara gitu sama Nur..?" Eyang malah menegur Roy.


"Looohh memang dia ini pembantu yang Roy suruh suruh gitu kan tadi Roy suruh bi Mila yang buatkan Roy Mie, kenapa dia yang mau...?" Roy memainkan makanan di piringnnya yang Nur siapkan untuknya tadi.


"Dia kan istri kamu ya dia mau layani kamu.." Sambung Eyang lagi.


"Ya kan Roy kasian, kalau dia nyonya gak usah layani tuan donk.. Kalau dia layani tuan berarti dia pembantu. Kalau dia datang ke sini sebagai istri maka kalau suaminya makan dia juga harus makan.." Sambung Roy juga.


Nur duduk lagi di kursinya. "Selamat makan.." Ucap Roy lagi dan duduk bersandar menunggu mienya datang.


"Debora makan sayurnya.. Itu bagus dan Sehat" Roy memerintahkan Debora.


Debora mengangguk dan mengambil sesendok sayur di hadapannya.


"Tu... Istri yang patuh namanya, Roy lebih suka kalau seorang istri itu patuh bukannya banyak tingkah sok tau.." Sindir Roy lagi.


Nur menahannya dalam lubuk hatinya, cacian untuk Debora da juga rasa ingin membalas Roy dengan cara yang berbeda.


Yang lain makan makanan di atas meja makan dan beragam varian. Tapi Roy tetap Stay dengan mie instannya.


Debora mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Roy, padahal Jelas jelas Roy tidak toleran dengan Mie instan.


***


Beralih pada Hery dan Rena. Kini Hery, Rena, Marry, Bisma dan Adel berada di satu ruangan yang sama. Semuanya duduk di tempat masing masing.


"Bisma.." Marry berbicara terelebih dahulu.


"Ya Mama.." Bisma hanya berani menjawab.

__ADS_1


"Adel.." Adel mengangkat wajahnya lalu mengangguk.


"Jadi kapan pernikahan kalian..?" Marry menatap keduanya bergantian.


Jedag jedug hati Bisma dan Adel.


"Bisma masih kumpul uang Mama.. Nanti kalau uangnya terkumpul dan cukup Bisma langsung menikahi Adel." Jawab Bisma.


"Bukannya tabunga kamu banyak, kamu bahkan tabung di 3 bank internasional." Skak mat Bisma.


Adel makin menundukan kepalanya takut.


"Hely tolong aku.." Wajah Bisma menatap Hery penuh permintaan.


"Jangan tatap Hery kayak gitu ya.. Mama tua kamu minta tolong sama Hery kan dsri tatapan itu. Hery ini adik kamu bukan pahlawan kamu yang harus selamatkan kamu dari Mama." Lebih bungkam lagi Bisma.


"Ya Ma.. Aku akan segera menikahi Adel." Bisma pasrah.


Barulah Adel mengangkat kepalanya menatap Bisma. Bisma pun sama menatap Adel. Rasa malu melanda Bisma. Ia sungguh tak bisa dengan pernikahan ini. Ia ragu apa dia bisa menjadi suami yang baik atau hanya menjadi beban untuk Adel.


Flashback on


"Mama.." Bisma tak percaya yang ia lihat ini, Marry ada di depannya dan melihat semua yang ia dan Adel lakukan.


"Hai... Siapa nama kamu sayang..?" Kini Marry berpindah pada Adel.


"Aku Adel.. Eeemm maaf sebelumnya.. Anda..?" Adel ragu ragu.


"Ya aku Mamanya Bisma dan Hery." Adel diam seketika.


"Apa Bisma dan Pak Hery saudara..?" Adel menduga duga.


"Bisma.. Mama tanya nak.. Apa ini pacar kamu.. Atau kamu sudah nikah sama dia..?" Marry menatap Bisma tajam.


"Menikah..? Menikah apanya Ma.." Bisma bergeser sedikit menjauh dari Adel.


"Takutnya kamu kawin lari sama dia.." Sahut Marry lagi.


"Ayo kita pulang ke rumah Hery. Adel ayo sayang.." Ajak Marry.


"Aku juga.." Adel menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk.


"Ya sayang... Ayo.. Bisma bawa pacarmu itu.." Marry berlalu terlebih dahulu dan masuk mobilnya.


"Bisma.. Ini..?" Adel banyak pertanyaan yang tak bisa ia ungkapkan langsung dalam satu pertanyaan.


"Kamu ikut aja ya.. Nanti di rumah aku jelaskan. Aku mohon Adel.. Aku gak berani pulang nanti kalau gini.." Bisma menyatukan tangannya memohon pada Adel.


"Hei.. Cepat..!" Panggil Marry dari dalam mobil.


"Ayo..." Bisma langsung menarik tangan Adel.


"Bisma sopirkan.." Marry duduk di kursi penumpang di belakang dan menyisahakan kursi pengendara dan di sampingnya.


"Ya Ma.. Masuklah.." Bisma membukakkan pintu mobil untuk Adel. Adel masuk tanpa bantahan mungkin karna masih loading dengan ini semua.


Ting tong..


Bell rumah Hery berbunyi. Adel makin penasaran dengan keluarga ini dan apa yang sebenarnya terjadi pada Bisma di sampingnya ini. Seperti orang yang akan melakukan presentasi pertama kalinya dan sangat gugup.


"Mama Marry.." Hery memeluk Marry karna rindunya.


Mereka bercakap sebentar dan Adel mulai menanyakan Bisma.


"Ma.. Jelaskan..!" Bisma hanya mengangguk dan mengodekan untuk sabar.


"Nanti ya di dalam.." Bisik Bisma.


Akhirnya Hery sadar ada yang baru ia lihat, Mama Marry dan Bisma datang bersamaan. Bukankah Bisma sendiri yang bilang kalau dia takut menemui Marry tapi ini Bisma pulang bersama Marry dan di tambah lagi keberadaan Adel di samping Bisma.


Marry masuk terlebih dahulu dan Bisma meminta pada Hery untuk mengalihkan Marry dulu.

__ADS_1


"Aku akan ke kamar dulu.." Hery mengangguk saja karna tak paham.


"Ayo cepat.." Bisma menarik Adel lagi.


"Huuuuuuhhh." Bisma ambruk sambil menutup pintu kamarnya.


"Bisma.."


"Nanti dulu, aku cari nafas dulu..." Bisam ngos ngosan seperti setelah lari maraton.


"Itu Mamaku.. Dia baru datang dari Jerman. Adel aku mohon kamu jangan terkejut.. Aku malu mengatakan ini.." Bisma yakin Adel pasti akan sangat terkejut dengan keasliannya.


"Bisma.." Adel melihat wajah sedih Bisma lagi.


"Adel.. Aku seorang GAY.." Pengakuan Bisma langsung.


"Hah..?"


"Ya kamu boleh jijik sama aku, tapi itu kenyataannya. Aku GAY. Aku lari dari Jerman dan ke sini tinggal sama Hery karna aku malu sama Mamaku.. Dia pergoki aku.. Dan aku malu sekali, aku juya sudah buat dia kecewa.." Bisma baru kali ini mengatakan kisahnya pada orang lain selain Hery.


"Bisma.." Adel memegangi bahu Bisma.


"Aku buruk Adel.. Aku beda. Aku gak normal.." Bisma terpuruk sekali.


"Bisma.. Kamu gak seburuk itu kok.." Adel berusaha menenangkan Bisma.


"MamaKu ingin aku menikah dengan seorang wanita, tapi aku sudah berusaha mendekati wanita tapi gak ada yang bisa aku.." Bisma tak bisa melanjutkan ucapannya sendiri.


"Kawin dengannya...?" Mulut bar bar Adel melanjutkan ucapan Bisma.


"Adel bantu aku... Bilang sama Mama Aku normal.. Aku.. Aku akan bayar kamu berapa pun yang kamu minta.." Bisma mendapat ide bagus.


"Ah aku.. Kenapa aku...?" Adel mengeleng beberapa kali.


"Ya kamulah, kan tadi Mama kira kamu pacar aku.. Masa aku nikah sama wanita lain.." Adel berpikir.


"Kamu mau uang yang banykkan.. Aku bisa beri kamu banyak uang.. Aku yang akan kerja dan kamu yang di rumah.. Aku akan kasih semua uang aku untuk kamu tabung atau kamu mau apakan aku gak akan larang.." Bisma melakukan tawar menawar pada Adel yang sangat pandai menghitung uang.


"Eeemmm boleh juga sih.. Tapi.." Adel menyilangkan kedua tanganya di dadanya.


"Hah..? Aku gak akan melakukan apa pun sama kamu Adel.. Aku kan gak doyan wanita.." sambung Bisma lagi.


"Doyan.. Makanan..?" Bisma dengan kosa katanya yang masih kurang. Mau tak mau pemahaman sedikit dari pendengarnya.


"Adel tolonglah aku.. Aku mohon.. Masalah uang kamu tenang aja.. Aku juga akan jaga kamu.. Terus masalah yang kamu silang tadi gini.." Bisma menirukan Adel tadi "Aku gak akan mau Del... Jangan kan lakukan, aku bayangkan aja gak bisa. Sudah berapa kali aku coba bayangkan bahkan aku nonton di laptop tapi aku rasa beda gitu.. Apalagi aku buat sama kamu.." Bisma terus bernego.


"Oke aku mau.. Tapi janji ya tiap bulan 2 kali lipat gaji di kantor masuk tabungan aku." Tawar Adel yang memang perhitungan.


"Oke.. Sip.. Deal ya.."


Sejak itu Bisma dan Adel melakukan drama pacaran antara GAY dan uang. Bahkan kini pernyataan Bisma akan menikahi Adel juga sudah mereka rencanakan.


Flashback off


"Ck ck ck ck.." Hery berdecak.


"Kenapa Her..?" Marry menoleh pada Hery.


Hery langsung memeluk Rena di sampingnya. "Aaahh ada cicak tadi, Hery tirukan suaranya aja.." Rena mencubit pinggang Hery.


"Aaahh sayang.." pekiknya.


"Tu... Liat adik kamu.. Begitu sayangnya dia sama istrinya. Kamu juga harus gitu Bisma.." Bisma mengangguk.


"Ck ck ck.." Bisma berdecak.


"Kok kamu juga kayak cicak..?" Marry heran. Ada apa dengan anak anaknya ini ingin jadi cicakkah..?


"Kan Bisma tiru Hely.." Marry menepuk keningnya. Hery tertawa sesuka hatinya.


Woooowww panjang guys.. Bonus ya.. Off dulu kawan..

__ADS_1


__ADS_2