
Rena melakukan yang seharusnya seorang istri lakukan pada suaminya. Penuh cinta yang membara menghangatkan kamar yang remang remang.
"Sayang.. Bodimu.. Wow... Mantap.." Hery sangat kagum melihat istri cantiknya yang yang sudah siap santap di depannya.
"Ayo katanya mau di layani.." Rena mengelus dada Hery.
"Sayang.. Kamu makin nakal.." Hery siap memulai agar lebih panas lagi.
***
Adel dan Bisma tidak demikian walaupun kamar mereka sudah di hias dengan bunga bunga berwarna merah menyala.
"Adel.." Bisma duduk di sofanya.
"Ya..?" Adel yang sedang mengenakan pakaianya menoleh sekejap.
"Apa seperti ini pernikahan yang kamu harapkan..?" Bisma tiba tiba mendapat pertanyaan aneh untuk Rindu di malam hari setelah pernikahan mereka.
"Maksud kamu apa?" Adel sedang mengenakan dalamann atasnya. Adel awalnya ragu ragu takut Bisma khilaf padanya. Tapi setelah beberapa minggu bersama Bisma satu kamar membuat Adel semakin yakin kalalu Bisma tidak akan tertarik padanya. Oleh karna itu biar pun Adel tak mengenakan apa pun, dia tidak takut jika Bisma malah melakukan yang seharusnya laki laki lain lakukan jika melihat seorang wanita tanpa busana di depannya.
"Ya.. Kamu kan wanita normal, apa kamu tidak menginginkan pria normal juga? Kamu pasti ingin kan punya suami yang bisa mengayomi kamu, menjaga kamu, beri kamu kepuasan sebagai istri.. Sedangkan kamu sama aku.. Jangankan kepuasan.. Cinta gak akan kamu dapatkan.." Bisma menarik nafasnya panjang. Di matanya hanya ada tatapan teduh untuk Adel. Kasian melihat nasib gadis ini yang hanya akan menjadi istri dalam status pernikahan saja. Selebihnya ia tidak akan mendapat apa pun darinya.
"Aku tahu Ma.. Aku siap kok.. Untuk yang lainnya aku gak masalah kok.. Kamu juga gitu.. Kamu punya cara sendiri untuk bahagia. Gak ada salahnya kok.. Aku kalau.. Aku gak ada pikir yang ke arah situ kok, apalagi punya anak.. Aku belum kepikiran Bisma. Tapi kalau aku mau pasti aku bilang kok" Adel belum merasakan keterikatan apa pun bersama Bisma.
"Haaa.. Ya lah itu, ayo kita tidur.. Alu sudah lelah." Bisma naik tempa tidur. Adel pun bergabung dengannya.
Tidak ada rasa takut Adel stu tempat tidu dengan Bisma. Mereka berdua bahkan tidur dengan nyenyak.
***
Roy bangun pagi harinya tubuhnya letih sekali, ada bagian bagian yang sakit bahkan. Ia dan Nur tidur di karpet bulu yang ada di ruang kerjanya. Roy menatap Nur, Nur masih terlelap dalam tidurnya.
"Haaaahhh.." Roy membuang nafas kasar.
Sekali lagi ia berhubungan badan dengan Nur. Bahkan di ruangan kerja lagi. Harusnya Roy menolak tapi karna tergoda penawaran Nur membuat Roy lupa akan segalanya, belum lagi sentuhan sentuhan yang Nur berikan, di tambah menangnya Nur di area yang sensitifnya. Tiada duanya lah.
Roy sangat mengingatnya. Semua yang Nur tawarkan padanya semalam. Roy melipat bibirnya ke dalam. Rasa ingin coba lagi datang. Tapi ia segera bangkit dam mengenakan pakaiannya. Lalu setelah itu pergi.
Di saat sarapan lagi Nur melayani Roy dengan baik, seolah tak terjadi apa pun di antara mereka.
"Roy.. Kenapa kamu jaga jarak sama Nur.. Kasian Nur looo.." Eyang geram melihat tingkah Roy yang acuh tak acuh pada Nur.
"Gak kok Eyang Roy kayak biasa juga sama Nur.." Roy membela dirinya sendiri.
"Nur gak apa apa kok Eyang." Nur juga menjawab.
__ADS_1
"Issshh kalian dua ini. Roy coba kamu habiskan waktu sama Nur dari pagi sampai malamnya. Biar kamu juga tahu rasanya sama Nur. Bukanya asik sama Debora terus.. Kamu kan sudah tinggal tunggu anak Debora lahir.. Ya gantkan donk sama Nur.. Biar Nur lagi yang hamil.." Eyang mepropokasi.
"Maaf Eyang.. Tapi Roy gak bisa gitu.. Roy gak jamim Roy bisa adil nanti kalau Nur hamil juga.." Roy membereskan piringnya.
"Maksud kamu, kamu lebih sayang sama Nur kan..?" Eyang menyipitkan matanya.
"Haisss.. Bukan.. Takutnya nanti Roy lebih sayang sama anak Roy dan Debora lalu Nur akan terlantae dengan anaknya.. Jadi mending Nur untuk sekarang jangan dulu hamil.." ponis Roy pada akhrinya.
"Heeeeemmmm aku tahu Roy.. Kalau Debora sibuk sama anaknya nanti kan ada aku yang selalu siap untuk kamu. Kamu pasti sepimikiran kan..?" Nur menduga duga dalam hatinya.
"Sudahlah Eyang.. Roy mau berangkat dulu.." Roy akan bangkit dari temat duduknya.
"Roy.. Nanti siang mau aku bawakan makan siang..?" tawar Nur.
"Eeemm aku makan di kantor aja.." Roy cepat cepat pergi.
"Ya ampun anak ini.. Di tawarin cewek cantik malah nolak..?!" Eyang menggelengkan kepalanya.
"Eeemm Nur susul Roy lagi ya Eyang.." Eyang mengangguk dan Nur segera berlalu juga menyusul Roy.
"Roy aku mohon hari ini aja aku ikut ya.... Setelah itu aku gak akan pergi lagi ke kantor kamu.." Pinta Nur lagi di kamar Roy.
"Kamu mau ngapain ke kantor aku...?" Roy sedang mengenakan jasnya.
"Mau layani kamu Roy.." Roy menghentikan geraknya.
"Ooohh iya ya.. Yah udah deh.. Kita jaga rahasia aja.." Nur pasrah tidak dapat izin untuk ikut ke kantor.
"Kamu di rumah aja, nonton drakor kamu..: Saran Roy.
Nur senyum senyum sendiri. "Tapi lebih asik episode semalam kan.. Asik dan nikmat banget.." Nur menggoda Roy.
"Nur aku mau berangkat kerja.." Protes Roy dengan Nur yang malah bergelayut manja di lengannya.
"Ya aku tahu tapi sebenarnya aku.." Nur membisikkan sesuatu di telinga Roy.
"Issshhh" Roy mendorong tubuh Nur menjauh.
"Ayolah Roy.. Satu aja.. Gak apa apa kok.. Gak ada yang liat.." Nur mengelus dada Roy dari luar.
"Nur.. Kan semalam sudah.. Lebih dari satu malah.." Roy segera mengambil tasnya.
"Aa'aaaaa gak cukup Roy.. Eeeemm oke tapi sebelum kamu jalan.. Eeemm cium aku dulu gantinya. Walau gak dapat yang itu.. Dapat bibir pun oke lah.." Nur menunjuk celana Roy.
"Issshh wanita ini.." Roy menggaruk kepalanya seperti orang kutuan.
__ADS_1
Cup..
Satu kecupan untuk Nur pagi ini. " Aaahh terima kasih.. Oke aku di rumah aja.." Nur berlalu keluar dari kamar Roy dan Debora.
***
"Rena aku mau balik secepatnya.. Aku rasa ada yang aneh gitu.." Debora mengatakan kegelisahannya pada Rena.
"Eeemm iyakah.. Eeemm ya udah nanti aku bilangi Hery ya.." Rena bisa mengerti yang Debora rasakan.
"Sayang.. Debora mau pulang.. Dia rasa ada yang aneh gitu.. Kayaknya dia akhirnya gelisah juga sudah tinggalin Roy sama Nur beberapa hari ini." Rena mengatakan lagi pada Hery.
"Eeemm apa dia mau pulang hari ini juga..?" Hery juga kasian.
"Ya kalau bisa Sayang.." Rena memainkan dada Hery.
"Emm okelah nanti kita antar Debora ke bandara duluan.. Kita kan masih mau Honeymoon.. Kalian juga kan sudah belanja belanja banyak kemarin.. Dan sudah perawatan juga kan.."
Beberapa hari Lalu Rena dan Debora melakukan perjalanan Wanita. Yaitu berbelanja sesuka hati, di manjakan dengan perawatan dan yang berkesan wanita lainnya.
"Iya sayang.. Debora bilang dia sudah puas kok" Hery mengangguk setuju.
Pagi hari di Jerman, Debora sudah bersiap siap untuk berangkat. Hery dab Rena juga siap membantunya. Mereka pun berangkat ke Bandara.
***
"Tumben Bandara ini sepi.. Kenapa ya...?" Hery, Rena dan Debora sudah tiba di depan Bandara nasional Jerman.
"Aku coba tanya sama penjaga itu dulu ya.." Hery turun dari Mobil dan bertanya pada penjaga di depan Bandara.
"Tenang ya Debora.. Semua pasti baik baik aja.." Rena mengelus punggung Debora.
"Ya Rena.. Sekarang sudah gak ada rasa itu lagi kok, rasa ragu ragu kalau Roy baik baik aja di sana.. Aku gelisah gitu.. Aku tiba tiba kepikiran kalau Roy sama Nenek lampir itu.." Debora menceritakan yang ia rasakan.
"Ya.. Mungkin itu karna kamu malam itu gak sengaja dengarnya makanya buat kamu kepikiran kalau sudah malam selanjutnya lagi, aku juga bisa gitu.. Ingatan itu kadang balik lagi pada waktu yang sama.." Debora mengangguk setuju.
"Ya mungkin karna itu Ren.., tapi aku tetap mau pulang kalau bisa.. Mau pastikan sendiri.." Rena juga mengangguk setuju.
Hery sedikit berlari ke mobilnya.
"Kayaknya kamu hari ini dan dua hari berikutnya gak bisa pulang Debora.." Hery masuk ke dalam Mobil.
"Hah..?" Rena dan Debora bersamaan.
"Gak bisa. Bandara untuk beberapa hari ke depan tutup dan gak akan ada penerbangan ke mana mana.." Rena dan Debora saling pandang.
__ADS_1
"Kenapa Sayang..?" Rena juga penasaran.
Off dulu ya guys...