
Roy, Eyang dan Debora kini memasuki area pemakman. Debora melihat ke sekelilingnya. Ini bukan area pemakaman Ibu dan Ayah Roy.
"Roy ini area pemakaman siapa, ini bukan area pemakaman Ibu dan Ayah..?" Debora baru pertama kali ke pemakaman ini.
"Kita sebentar lagi sampai kok.." Tentu membuat Debora makin penasaran.
"Ini dia.." Mereka sampai di salah satu nisan yang bertuliskan nama Rio Filip.
"Rio Filip..?" Gumam Debora membaca nama yang terpampang.
"Ini rumah Rio.. Haaahh.. Berantakan gini apa Rio suka..?" Eyang membersihkan rumput rumput liar yang tumbuh du sekitaran makan Rio.
"Ayo kita bersihkan dulu.." Roy mengajak Debora juga.
Debora melihat Eyang yang begitu serius dan Roy yang juga sangat terharu akan ini, dan Nama Filip yang tertera itu. Debor rasa ia bisa menebak ini makam siapa.
***
"Ini makam Kakakku. Rio Filip. Dia meninggal dunia pas berumur 9 tahun. Karna kebodohan masa kecil. Dan kebodohan itu merenggut Rio. Aku dan Rio anak kembar. Aku dan Rio mandi di sungai. Kami hanya mandi berdua. Eyang datang bersama ayah dan ibu. Mereka bertiga sangat marah karna kami berdua mandi sungai gak minta izin dulu. Karna pikir aku dan Rio kalau kami minta izin sama Eyang atau sama ayah dan ibu, pasti mandinya sebentar tapi kalau kami mandinya sendiri gak ada yang larang kami mandi lama lama. Mereka datang, ayah sangat marah. Dia bawa satu ruas lidi untuk memukul kaki aku dan Rio. Aku nangis takut tapi Rio, dia kabur sambil berenang. karna gak hafal sungai itu, mana yang dangkal dan mana yang dalam, Rio masuk ke area sungai yang dalam. Dia juga baru belajar berenang, jadi renangnya belum bagus. Alhasil dia hanyut seketikan. Dua hari kemudian baru di temukan, tapi dalam kondisi terpejam dan tak akan membuka matanya lagi." Roy berhenti bercerita dan menatap nisa itu.
"Memanglah masalahnya masalah sepele, hanya ingin kabur dari amarah ayah, Rio... Tapi itu adalah salah satu pembelajaran. Pembelajaran yang sangat besar untuk aku. Makanya aku gak pernah mengekang, melarang, apalagi memukul. Aku jera dari kisah nyata Rio." Roy menatap Debora yang tak henti menatapnya juga.
Oleh karna itu selama ini Roy tak pernah mengekang Debora, dia biarkan Debora lakukan apa yang ia inginkan. Roy takut masa lalu buruknya itu akan terulang lagi.
Akhirnya Debora memahaminya. Mengapa Roy sangat lemah dalam melindungi keluargaku oramg terkasihnya. Rasa takut kehilangan itu masih menganggunya.
"Jadi karna itu kamu gak pernah mau mandi di kolam renang atau sungai..?" Debora ingat sekali Roy tak ingin membuat kolam renang di rumah mereka itu.
"Ya.. Aku kembali teringat saat detik detik Rio berenang dan tinggalkan aku selamanya."
Tiba tiba Eyang menangis di depan makam ini. "Rio maafkan Eyang sayang. Maaf, harusnya Eyang ikut kalian mandi bersama, kalau Eyang ikut Kamu pasti masih di sini.." Eyang mengelus batu nisan.
"Eyang.. Kan Roy ada di sini.." Roy memegangi bahu Eyang.
"Roy.." Eyang menoleh dan menatap wajah sang cucu.
__ADS_1
Wajah Roy dan Rio dulu sangatlah mirip, mereka kembar identik. Pasti jika Rio masih hidup hingga kini maka tiada bedanya Roy dan Rio.
Eyang terus menangis di pelukkan Roy. Debora juga terharu dengan apa yang terjadi di depan matanya.
Meski sudah lama menikah dengan Roy, Debora baru tahu masalah ini.
***
"Hai Baby Alf... Hai Elf... Wahh pagi ini udah ganteng dan santik banget..." Bisma menjaga baby Alf dan Baby Elf yang juga sedang di temani Rena. Hery sedang bekerja tak jauh dari keempatnya. Hatinya risih karna hanya ia yang tak menemani bayi bayinya.
"Hel.. Yang fokus Hel.. Kapan selesaikan kalau gak fokus.." Goda Bisma.
"Ck diam kau.. Atau aku kurung kamu di kamar dan kamu juga gak boleh ketemu sama Baby Alf dan Baby Elf.." Ancamnya.
Rena menoleh pada Hery. Ia tertawa melihat Hery yang sebentar sebentar menoleh pada mereka dan setelah itu mengerjakan lagi pekerjaannya.
Rena bangkit dan menemui suaminya. "Hery..." Panggilnya lembut.
"Sayang.." Hery mendadak manja.
"Sayang, aku juga mau main sama Alf dan Elf.. Masa cuma Bisma aja yang main sama mereka, aku kan papanya..." Rengek Hery.
"Ya nanti kan kamu yang paling puas main sama mereka." Hery bangkit dan memeluk Rena dengan sangat erat.
"Sayang.. Kapan Kita bisa bikin lagi..?" Rena menaikkan satu alisnya.
"Bikin adek adeknya Alf dan Elf..!" Barulah Rena mengerti.
"Yang aku baca di artikel artikel. Kalau lahiran normal kayak kamu kemarin boleh punya anak banyak looo yank..." Hery sangat antusias.
"Ya ampun sayang.. Baby Alf dan Baby Elf baru 2 hari ini. Kamu mau bikin lagi..?" Bisma tertawa mendengarnya dari jauh.
"Ooohhh ya ampun.. Dengar Papa kalian itu.. Ck ck ck.. Boleh uncle cubit kah Papa kalian itu.. Nakal banget kan.." Bisma bangkit dan menghampiri Hery.
"Ini mau ngapain lagi..? Aaaaww.." Satu cubitan di tangan Hery.
__ADS_1
"Anggap dari Baby Alf dan..." terjeda sejenak.
"Aaawwww.." Hery terpekik lagi.
"Dari Baby Elf." Barulah Bisma berlalu menuju kedua bayi kembar itu kembali.
"Iissshh ganggu aja.." Hery kesal pada Bisma.
"Ya sayang ya boleh ya.." Hery masih merengek pada Rena.
"Sayang... Nanti aja ah.. Aku mau fokus sama Baby Alf dan Baby Elf." Keputusan Rena.
"Heee ya lah.. Aku juga mau main sama mereka.." Hery langsung saja melipat laptopnya dan berlari ke arah Bisma yang sedang asik mengajak Baby Alf dan Baby Elf berbicara. Meski pun Baby Alf dan Baby Elf masih sangat kecil tapi sangat di anjurkan untuk mengajak mereka birbincang itu sangat membantu pendengaran bayi yang baru lahir.
"Oooww Alf... Kamu kok gak bisa diam..?" Bisma melihat Baby Alf yang tak bisa diam.
"Dia kenapa kak..?" Hery tiba di samping Bisma.
"Ini Baby Alf gak bisa diam.. Kayak ada yang dia cari..." Rena juga menyusul Hery.
"Kenapa..?" Rena juga ikut bertanya.
"Ooohh Baby Alf.." Rena mengendong dan memindahkan Baby Alf di samping Baby Elf.
Hery dan Bisma saling pandang.
"Eeehh baby Alf tenang.. Oohhhh jadi Baby Alf cari baby Elf.. Ooohhh ya ampun manisnya kamu Alf..." Bisma sangat gemas.
"Sayang kamu tahu itu dari mana..?" Hery benar benar terkesan.
"Eeem entahlah.. Tadi Baby Alf gitu juga, aku kasih asi dia malah nangis. Gak mau nyusu, tapi aku pikir pikir lagi, mungkin dia mau gabung sama Elf. Makanya aku gabungkan, eeehh Baby Alf tenang dan tidur nyenyak lagi." Jelas Rena.
"Ooohhh jadi si kakak gak mau jauh dari adek..." Hery menoel noel pipi Baby Alf.
"Hel... Ini perasaan aku aja atau Baby Elf mirip kamu banget.." Bisma menyamakan baby Elf dan Hery.
__ADS_1
Off dulu kawan