
Roy menggelengkan kepalanya samar, sedangkan Debora bersukaria.
Flashback on
Tadi saat Debora masih di kamar setelah menghubungi John Deborah mencoba menghubungi nomor ponsel Roy Roy tidak menjawab panggilannya. Deborah kemudian turun ke lantai bawah dan mencari asisten rumah tangganya
"Apa tadi kamu melihat Tuan keluar?" asisten rumah tangga itu mencoba berpikir sejenak,
"tadi saya ada lihat tuh sepertinya Tuan mengendarai mobil dengan laju tapi saya juga tidak tahu Tuan pergi ke mana... "
Debora berpikir sejenak "Ah paling dia pergi ke tempat wanita simpanannya, Baiklah aku akan hubungi Eyang dan lihat saja nanti Roy pasti akan tunduk takluk padaku."
Debora mengambil ponselnya ke kamar dan coba menghubungi Eyang, Tapi ponsel Eyang tidak dapat dihubungi.
Debora pun tetap mencoba menghubungi yang, menghubungi ke nomor telepon kediaman Eyang. Saat Debora menghubungi nomor telepon rumah Eyang barulah Debora tahu dari salah satu asisten rumah tangga yang yang masih stand by di rumah bahwa Eyang dibawa ke rumah sakit karena tak sadarkan diri saat keluar dari kamar mandinya. Debora yang menanyakan alamat Rumah Sakit tempat Eyang dirawat.
Setelah mengetahui alamat Rumah Sakit tempat yang dirawat, Debora pun segera berangkat menggunakan mobilnya. saat sampai di parkiran Rumah Sakit Debora melihat mobil milik Roy juga terparkir di sana, berarti Roy juga sedang berada di sini.
Deborah langsung mendapatkan ide bagus, Debora mulai menanyakan dimana ruang rawat Eyang kepada perawat yanh ada. Setelah tahu di mana ruangan Eyang Deborah kemudian bergegas mencari ruangan tersebut.
Saat tiba di ruangan Eyang Debora mendengarkan pembicaraan mereka dari luar, Debora mendengar sepertinya Roy akan mengatakan yang sebenarnya kepada Eyang. Tentu saja Debora tidak ingin sampai Roy mengatakan yang sebenarnya kepada yang, karena Eyang lah salah satu tameng terkuat Debora untuk menghadapi Roy.
Debora pun masuk dan memotong pembicaraan Roy seolah dia dan Roy baik-baik saja.
Flashback off
Kini yang sangat bahagia dengan kabar yang Debora bawa untuknya. Hati Roy makin panas menahan amarah yang baru saja Debora Sulut dengan kata-kata bohong lagi.
"Jadi setelah ini Eyang harus sehat selalu ya biar bisa gendong cicit Eyang."
rayu Debora kepada Eyang.
"Tentu saja yang akan menjaga kesehatan Eyang sebisa mungkin agar bisa menggendong dikit yang yang sangat imut nanti"
__ADS_1
Debora tersenyum sumringah dan sangat bahagia mendengar ucapan dan dukungan dari Eyang "Eyang aku ada sedikit permintaan, Maukah yang tinggal denganku dan juga Roy untuk sementara waktu. Aku kan baru pertama kali mengandung jadi aku sangat perlu orang yang tepat untuk mendampingi aku dan aku rasa orang itu adalah Eyang"
Eyang menganggukkan kepalanya dengan cepat karena ia sangat setuju dengan yang dikatakan oleh Debora
Sedangkan Roy bad mood nya semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, Debora mengajak Eyang untuk tinggal bersama mereka, sementara hal itu akan menyebabkan Roy tidak dapat menemui Rena dengan bebas seperti biasanya padahal Disini yang lebih membutuhkan Roy adalah Rena.
Karena Roy tahu sendiri, yang dikandung oleh Debora bukanlah anaknya melainkan anak John. Inilah rencana Debora Tadi ia akan mengatakan tentang kehamilannya kepada Eyang dan meminta Eyang untuk tinggal bersama mereka, agar Roy tetap ada disampingnya dan menerima anak yang ia kandung sebagai anaknya dengan alasan demi kebahagiaan Eyang orang yang paling dicintai Roy.
"Aku ingin keluar sebentar..." Roy bangkit dari duduknya dan meninggalkan Debora dan Eyangnya di ruangan itu.
"Kenapa dengan Roy Kenapa ia tampak tidak bahagia Debora?" Debora yang memperhatikan Roy keluar kembali menoleh kepada Eyang
"Ah tidak kok Eyang, Roy sangatlah senang dengan kabar gembira ini hanya dia malu untuk memperlihatkannya di depan Eyang. Tadi Roy sangat senang bahkan terus sambil menciumi perutku berkali-kali..."
walaupun itu hanya khayalan dari Deborah tapi ia tetap menjadi tangannya kepada Eyang dan menganggapnya sungguhan. Dasar wanita halu.
"Benarkah...?" Eyang dan Debora pun mulai bertukar cerita mulai dari masalah masalah kecil hingga masalah kehamilan Debora yang harus dijaga dengan teliti dan juga siaga kapan saja.
Sementara itu kini Roy sedang di luar rumah sakit dengan wajah yang besar, beberapa kali royong mengusap wajahnya dengan kasar mencari celah mencari jalan dan mencari cara untuk menghentikan semua drama Debora. karena Roy tidak memiliki teman untuk berbagi ceritanya, maka Roy memilih untuk menghubungi Hery.
" halo... " suara Heri terdengar di seberang telepon
"Halo Heri, Apa kamu sedang sibuk? "
Hery pun menjawab
"memangnya aku sepertimu yang sibuk dengan wanita Tentu saja tidak aku hanya sedang baca novelku. Memangnya kenapa?" Ucap Hery lagi.
"Hery... Aku benar benar sedih dan semakin bingung Hery... Eyang kini di rawat di rumah sakit dan Debora ia ngaku ngaku hamil anakku dan dia bawa Eyang untuk tinggal sama kami berdua, padahalkan yang Debora hamil itu anaknya John. Bukan anakku.. Lalu yang sebenarnya sedang mengandung anakku bagaimana Her.. Dan rencana kita itu, tentu saja di ambang kegagalan Hey.." Keluh kesah Roy di tumpahkan pada Hery.
"Jadi Debora bilang tentang kehamilannya sama Eyang dan Eyang parcaya?" Hery mengulang penjelasan Roy.
"Iya Her.." Roy semakin gusar.
__ADS_1
"Sabar Roy sabar, mungkin ada jalan lain. Aku akan segera cari cara agar Eyang cepat cepat kembali ke rumahnya dan kamu juga pikir seperti apa menyibukan Eyang. Oke..." Saran Hery. Hery juga tidak dapat main langsung seranh saja apalgi ada Eyang Roy juga ikut di dalam Perang dingin ini.
"Hoooooohhh... Hery.. Rasanya aku mau nangis... Renaku bagiamana, babyku bagaimana? Oohh ya.. Apa dia sudah makan malam belum ya... Tadi saat aku tinggalkan Dia belum makan malam. Hery aku tahu ini sedikit aneh tapi bisa gak kamu lihat dulu kondisi Rena terus kabari aku ya..." Titah Roy dan Hery menjawab dengan malasnya.
"Baiklah Tuan Filip, saya laksanakan.". ucap Hery dan bangkit dari tempat tidurnya menganti piamanya ke baju lainnya.
"Udah Her... Nanti aja baca novel onlinenya. Bantu aku dulu ya..." Ucap Roy karna sambungan telponnya masih tersambung.
"Iya iya... Jawab Hery dan sudah mengenakan sweter abu abu dan mengenakan celana panja g hitam. Gaya yang cukup manis untuk seorang laki laki.
Hery melajukan mobilnya menuju ke apartemen Rena.
Kini Hery sudah tiba di parkiran Apartemen. Hery melihat jam di pergelangan tangannya, yang menunjukan pukul 21.30. Bisa bisanya Roy menyuruhnya untuk mengecek keadaan Rena di jam segitu.
Tapi Karna kesetiaannya mau tak mau Hery menuruti keinginan Roy. Hery berjalan dan hendak menelpon Rena terlebih dahulu, takut takut Rena sudah tertidur.
Tapi saat di lift Hery malah bertemu dengan Rena yang juga sepertinya ingin keluar dan menggunakan sweter rajut putih.
"Eh... Rena.." Hery terkejut, setelah mendengar ada yang mamanggilnya barulah Rena mengangkat kepalanya.
"Hery..." Rena juga tak percaya Hery ada di depannya. Tapi untuk apa.
"Kamu mau kemana malam malam gini Ren?" Tanya Hery.
"Aku... Aku mau ke restoran depan, aku... Aku belum makan.." Ucap Rena dengan malu malu.
"Apa...?" Hery benar benar terkejut.
"Mau aku temani ya..." Ajak Hery dan Rena menyetujuinya.
Kini keduanya di dalam Mobil Hery dan mulai mencari apa yang ingin mereka makan malam ini. Terutama Rena sendiri, kalau Hery hanya menemaninya saja.
Rena...
__ADS_1