
Membawa kandungan umur tujuh bulanseorang diri tanpa ada yang menemaninya, Debora melangkah dengan santainya. Kecantikkannya tak pudar meski sedang mengandung, malah terlihat semakin cantik dengan perut buncitnya.
Debora sepertinya sangat menikmati Waktu sendirinya ini. Ia bisa ke sana kemari yang ia inginkan. Senyum manis selalu ia bagi pada anak anak yang berpapasan di depannya.
"Eeemm aku lapar.. Eeemm aku singgah makan dulu kali ya.. Baru pulang.." Pikir Debora. "Ya udah makan dulu deh.." Debora memilih salah satu restoran.
Debora memesan makanan yang ia inginkan, menatap sekeliling dan ia menangkap pandangan seorang bule yang tak jauh darinya. Debora hanya melempar senyum canggung dan setelah itu ia tak berani memandang mandang sekelilingnya lagi.
Makanan Debora tiba dan ia memakannya dengan santai. Sebelum itu juga ia menghubungi Rena. Akhirnya telponnya tersambung juga.
"Halo.. Rena.. Aku di restoran.. Aku makan siang di sini.. Sebentar lagi aku pulang oke.." Ucap Debora dengan ponsel di telinganya.
"Ya tenang aja.. Daa Rena.." Debora mematikan telponnya dan meneruskan makannya.
"Rena..?" Bule itu bergumam.
Bule itu membuka ponselnya dan mencari tahu. Sepertinya nama Rena tak asing untuknya.
"Oohhhh aku kira siapa.. Tapi wanita ini siapa..?" Stuart menaikan alisnya, ia melirik Debora yang sedang asik makan siang sendirian.
"Eeemmm" Stuart membuka lagi ponselnya ia mencari sesuatu.
__ADS_1
Stuart dan Albert sedang makan siang juga di tempat ini. Dan tak sengaja bertemu dengan Debora.
"Ooohhh pantasan.. Aku kayak kenal.." Stuart menganggukkan kepalanya mengerti dan sepertinya tahu tentang Debora karna baru saja ia bertanya pada yang tahu segelanya di ponsel canggihnya.
Mata Stuart terus membaca informasi yang ada di ponselnya. Sepertinya ponsel Stuart adalah pedangnya, ia bisa membuka apapun yang ia inginkan dari ponsel ini saja.
"Ooh astaga.. Beristri dua..?" Albert mendengar sang kakak terus bergumam juga berhenti memakan makanannya.
"Stu..?" Albert bertanya dengan dagunya.
Stuart hanya menggeleng. Sepertinya desas desus Roy yang beristri dua sudah ke mana mana. Stuart kembali melirik Debora.
"Dia sedang mengandung tapi tuan Roy.. Kasiannya.." Stuart merasa iba pada Debora. Hatinya tak terima dengan perbuatan laki laki seperti ini.
"Sudah kamu diam aja.. Makan yang banyak.. Habis ini kita jalan jauh..." Ucap Stuart. Albert tak bisa menjawab apalagi bertanya lagi.
***
"Bisma gak turun kerja..?" Hery baru menyadari ketidak hadiran Bisma di kantornya.
"Iya tuan.." Ucap Pekerja Hery.
__ADS_1
"Kemana dia ya..?" Hery menghidupkan ponselnya. Mencari kontak Bisma dan menghubunginya.
"Kamu di mana..?" telpon dari Hery di terima Bisma.
"Halo.. Pak Hery..?" Terdengar sepertinya itu Adel.
"Adel.. Mana Bisma..?" Hery mulai khawatir takutnya sang kakak tak ada di rumah dan menghabiskan waktu bersama kawan kawannya dengan pergaulan mereka.
"Eeeem ya ini aku Adel.. Eeemm ini Bisma..."
"Aku ke situ sekarang.." Hery mematikan ponselnya dan segera mencari kunci mobilnya, ingin bergegas ke rumah Bisma dan Adel.
***
"Bisma... Bisma.. Ini aku Adel.. Bisma..?" Adel sangat panik melihat Bisma yang tak sadarkan diri.
Tadi setelah pulang dari unit Stuart, Bisma masih dalam kondisi marah dan entah apa yang sangat mengganggu pikirannya.
Sampai di rumah mereka, Bisma terduduk lemas di sofa. Matanya mengerjap. Adel belum menyadarinya, Adel naik ke kamarnya dulu dan membersihkan dirinya.
Setelah beberapa saat kemudian Adel kembali lagi, ia ingin meminta maaf pada Bisma, karna Adel merasa berasalah dengan berbohong pada Bisma tadi dan membuat Bisma sempat berkelahi dengan Stuart. Meski tadi ia sudah minta maaf saat di unit Stuart tapi Adel masih merasa kurang enak pada Bisma.
__ADS_1
Adel..
Maaf ya author mau tanya, ini kan sudah di penghujung bulan, nah Rena dan Hery juga sudah bahagia.. kira kira kalian mau author tamatkan atau di lanjut cerita Adel dan Bisma juga di sini...? jujur Author bingung nihhh.. bantu donk jawab donk.. kalian kan pembaca setia author.. Jadi pertanyaannya tadi, mau di lanjut atau di tamatkan..? yok jawab..