AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 91


__ADS_3

"Jangan dekat dekat calon suami aku...!" Rena memperingatkan wanita itu hingga menunjuk dengan jari telunjuknya.


"Sana pergi.. Kamu gak liat ada aku di sini.. Aku ini calon istrinya. Ini anak kami sedang aku kandung." Pamer Rena dengan kandungannya.


Hery tersenyum melihat amarah Rena yang tiba tiba memuncak lagi melihat ada wanita yang ingin mendekatinya. Wanita itu pun pergi dari hadapan Rena dan membuang jauh jauh untuk di bayar mahal.


Hery menarik Rena dan membuatnya duduk di pangkuannya, "Kalau bukan cinta kenapa kamu larang wanita itu layani aku..? Aku kan gak ada hubungan apa apa sama siapa pun, jadi bebas donk aku mau ngapain aja. Buka buka, liat liat, pegang pegang..." Goda Hery lagi meski dalam keadaan yang sudah mabuk.


"Kamu..!?" Rena menunjuk wajah Hery.


"Apa..?" senyum nakalnya sangat menggoda.


Rena pun mencubit lengan Hery dengan kerasnya. Hery tak peduli rasa sakit itu dan tetap menggoda Rena.


"Aku cinta kamu.." bisik Hery di telinga Rena, bibir Hery sampai menempel di daun telinga Rena.


Rena melemas di pelukan Hery dan kembali menatap Hery, Hery pun mengecupnya dengan sangat lembut. Ia tahu pasti itu yang Rena inginkan. Benar saha setelah Hery mengecupnya Rena langsung masuk dalam pelukan Hery dan memeluk Hery dengan Erat.


"Kamu gak boleh liat liat cewek lain, apa lagi buka buka, apalagi pegang pegang.. Gak boleh... Gak.." Rena malah menangis lagi sambil memeluk Hery.


Hery tertawa kecil dan memeluk Rena dengan eratnya, matanya juga berkaca kaca mendengar larangan Rena yang sudah mengatakan isi hatinya kepada Hery.


"Ya... Aku cuma untuk kamu sayang.." Suara  yang begitu lembut dan magnetis di telinga Rena begitu sejuk ketika mendengarnya.


"Kamu cuma punya aku..." Rena mengeratkan pelukannya.


Hery tetap tertawa kecil dengan tingkah Rena ini. Rupanya Rena begitu posesif padanya.


"I love you.." Bisik Hery lagi.


Rena terus memeluknya, tak ada rasa puas untuk memeluk laki laki ini. Dan itu sangat Rena harapkan dari beberapa hari yang lalu.


"Ayo kita pulang dan aku sayang sayang kamu dan kamu.. Di kamar.." Hery mencolek hidung Rena dan setelah itu mengelus perut Rena dengan begitu manjanya.


"Ayo.. Aku pesan taksi dulu..." Rena hendak mengeluarkan ponselnya tapi Hery menahan geraknya.


"Gak usah aku ada sopir di luar... Ayo.." Rena pun mengikuti Hery dan benar saja ada seorang sopir yang sudah menunggu Hery.

__ADS_1


"Eh tunggu.." Rena tiba tiba berhenti.


"Kenapa..?" Hery pun terhenti.


"Aku belum minta rekaman CCTV bar ini tadi. Aku mau liat kamu ngapain aja.." Rena kembali masuk dan tak peduli panggilan Hery.


"Oohh ya ampun.. Matilah aku..." Hery memejamkan matanya.


Tak berselang lama kemudian Rena datang lagi setelah kembali ke dalam bar.


"Dapat..?" Tanya Hery dengan takut juga.


"Gak mereka gak kasih karna itu privasi katanya.." Rena lesu.


"Sayang..." Hery menarik Rena dalam pelukannya lagi.


"Percaya sama aku, aku gak ngapa ngapain di dalam.. Gini aja, nanti aku ceritain sama kamu aku ngapain aja di dalam mau...?" Tawar Hery.


"Kalau kamu yang cerita nanti bohong.. Kalau CCTVnya kan gak.." Hery tak habis pikir dengan Rena yang benar benar cerewet.


"Awas kamu bohong..!" Rena sudah mengancam dengan jari telunjuk lentiknya.


"Iya sayang gak ada yang aku Bohong bohong ya.. Aku janji sayang.." setelah mendengar itu barulah Rena dan Hery pergi dari tempat itu dan menuju rumah Hery.


Rena memustuskan akan tinggal langsung bersama Hery. Hery tentu sangat senang dengan keputusan Rena yang satu ini. Sekarang ia akan semakin dekat dengan Rena dan kandungannya. Dan bahkan mungkin Hery dan Rena bisa menambah rasa cinta yang mereka punya jika seperti ini.


Rena tidak bisa menolak lagi apa yang ia rasa, dan Hery ia sudah pasrah dengan apa yang ada di dalam hatinya, yaitu keinginan untuk bersama dan menjalin kasih dengan Rena.


"Hai sayang.. Ini papamu...sayang sehat kan.. Gak lapar kah.. Eeeemmm sayangnya papa..." Hery mengelus elus perut Rena seperti biasanya tapi kini bukan lagi uncle panggilannya tapi papa. Rena pun senang mendengar panggilan baru itu.


"Makasih Her..." Rena tersenyum sendu.


"Kenapa..?" Hery sebenarnya tak suka melihat senyum seperti itu di bibir Rena yang ia rasa manis itu.


"Kamu selalu ada untuk aku dan Baby.. Aku sangat beruntung punya kamu Her..." Rena mengelus pipi dan Rahang Hery.


Hery memegangi tangan Rena yang mengelus pipinya. "Aku gak keberatan selalu ada untuk kamu Sayang.." Cup. Hery mengecup telapak Tangan Rena.

__ADS_1


Rena pun masuk dalam pelukan Hery lagi. Kini sudah tidak ada lagi batasan untuk keduanya. Hery pun tak perlu mematikan saklar listrik lagi bila sudah seperti ini.


***


Debora dan Eyang kini dalam satu ruangan, karna permintaan Eyang untuk menggabungkan ruangannya dan ruangan Debora, maka mau tak mau Roy menurutinya.


"Debora sayang apa masih sakit..?" Tanya Eyang dari dipannya.


"Gak Eyang.. Bora baik baik aja...." Sahut Debora dengan lemas juga karna belum begitu pulih.


Roy juga ada di ruangan itu tapi ia seperti di kucilkan oleh kedua orang itu. Apalagi sang Eyang. Eyang sangat marah pada Roy yang mejadi dalang dari keguguran anak Debora.


"Roy.. Awas kamu gak jaga Debora baik baik..." Ancam Eyang dari dipannya.


"Iya Eyang.. " Sahut Roy seadaanya.


Jujur Debora sangat senang melihat Roy yang tak berdaya di perintah sang Eyang untuk merawatnya, tapi Debora juga sedih karna kandungannya sekarang tidak ada, maka tidak ada lagi yang bisa Debora andalkan untuk mengalahkan Rena. Karna kini Renalah yang sedang mengandung. Dan mengandung anak Roy yamg sebenarnya lagi. Itu yang sangat Mengganggu Debora.


"Coba saja, Hery mau mengasari Rena, biar anaknya juga keguguran..." gumam hati Debora.


Ya hanya itu yang bisa ia pikirkan, ia tidak tahu sekarang Rena sudah di tempat ternyaman yang pernah ada ya itu di pelukan Hery.


Rena dan Hery kini sudah sampai di depan rumahnya. Baru saja turun dari mobil Hery langsung muntah muntah di parit depan rumahnya.


Rena dengan penuh perhatian mengelap sudut bibir Hery. "Maaf ya aku terlalu mabuk.." kepala Hery sangat pusing.


"Iya Her.. Ayo kita masuk dulu ya.." ajak Rena.


Hery membuka pintu rumahnya, karna tak ada orang lain yang tinggal di rumahnya, Hery hanya memiliki satu sopir yang kadang ia pakai bila perlu saja.


Hery dan Rena langsung ke kamar Hery. Kamar yang cukup besar. Hery langsung di baringkan di tempat tidur, dengan telaten Rena membuka sepatu Hery dan berserta kaos kakinya.


"Rena gak usah sayang.. Bobo sini.." panggil Hery dengan susah payah.


Rena..


Off dulu ya.. Likenya donk.. Semangati Author..

__ADS_1


__ADS_2