
Roy masih sibuk dengan kegitannya di meja kerjanya, dan tidak sama sekali memperhatikan Debora di ranjang uang menunggunya.
"Roy..." panggil Debora pada Roy karna Roy sama sekali tidak meperhatikannya.
Roy sama sekali menjawab atau hanya menoleh pada Debora. Hato dan pikirannya hanya tertuju pada Rena yang pasti sedang menunggunya.
"Roy... Aku tahu kamu marah sama aku. Ya aku yang salah. Maaf ya.." Ucap Debora dengan lembut untuk mengambil hati Roy yang sedang panas panasnya.
Roy hanya terus membuka satu demi satu dokumennya tanpa memperdulikan panggilan maupun bujukan Debora.
Karna dirinya uang tak di hiraukan oleh Roy Debora pun bangkit dari duduknya dan msnghampiri Roy. Debora memeluk Roy daro belakang. Berharap pria tampan di depannya luluh.
Bukannya luku Roy malah melepaskan tangan Debora yang melingkar di pinggangnya. Dan segera meninggalkan kamar itu dan pindah ke ruang kerjanya.
Debora melihat nanar pada Roy yang langsung meninggalkannya begitu saja. Padahal biasanya Roy akan sangat bersemangat jika Debora melakukan pendekatan seperti itu.
Tak ingin melepaskan Roy begitu saja Debora kembali mengikuti Roy hingga ke ruang kerjanya tapi sayangnya Roy langsung membanting pintu dengan keras tanpa memperdulikan Debora yang menyusulnya atau tidak.
Sungguh hati Roy gundah sekarang, dia ingin kembali pada istri sirinya atau istri simpanannya. Tapi ia tidak bisa blak blakan meninggalkan Debora. Debora pastinya akan curuga dengan sikap Roy yang berubah drastis padanya.
Roy meremas rambutnya sendiri untuk menyalurkan rasa yang ia rasakan. Setelah ia remas Roy mengelus elus kepalanya sendiri. Roy membayangkan elusan tangannya adalah elusan tangan Rena padanya.
"Aku sudah merindukanmu Rena sayang. Elus kepalaku lagi." Pinta Roy seorang diri di ruangan itu. Berharap ada Rena yang langsung membalas ucapan Roy dengan elusan di kepalanya.
Perlahan tapi pasti, Roy tenang sambil terus mengelus rambutnya sendiri. Mungkin karna selama ini Debora jarang sekali memperhatikan masalah sekecil apapun tentang Roy, seperti mengelus, bercerita bersama, tertawa bersama, memasak, makan bersama. Debora sangat jarang melakukannya. Alasannya kerjalah, ada joblah, dinas luar kota. Dan masih banyak alasan lainnya demi sang kekasih.
Tapi Roy sekarang tidak mempermasalahkannya, sekarang Roy sudah memiliki Rena yang bisa melakukan apa yang selama ini tidak bisa Debora lakuakan padanya.
Ting..
Bunyi notif di ponsel Roy.
"Hai.." kata di notif itu.
__ADS_1
Roy awalnya ragu untuk membalasnya. Tak sempat Roy mengetik sudah ada lagi notif dari seseorang itu.
"Apa kamu sibuk?"
"Siapa ini?" Roy berguman sendiri.
Ada lagi notif yang masuk.
"Apa kamu ingin aku menganti nomer apartemen kita?" Kata kata di pesan itu lagi.
Setelah membaca pesan yang ketiga barulah Roy tahu siapa pemilik pesan ini.
"Sayang" Gumannya.
Setelah itu Roy dan Rena pun bertukar pesan. Dan tak puas dengan bertukar pesan Roy memilih menelpon Rena.
"Sayang... " panggil halus Roy.
"Kau pintar sekali ya... Bagaimana bisa kamu mendapatkan nomor ponselku ini? Bukankah aku belum memberikan nomor ponsel yang dapat kamu hubungi?" Roy memang lupa memberikan nomor ponselnya karna ia ingin membeli nomor baru untuk ia dan Rena gunakan untuk berkomunikasi.
"Aku kan pintar ambil kesempatan. Tapi bukan cuma pintar ambil kesempatan tapi aku juga pintar ambil hati kamu. Aku yakin deh sekarang kamu kangen aku kan!?" Tebakan Rena yang tepat sasaran.
"Sayang kamu memang tahu semuanya tentang aku ya... kamu sungguh hebat sayang.".Roy bahagia sekali mendengar suara riang yang Rena miliki. Dan kemudian suara riang itu teringiang ngiang di gendang telinga Roy.
"Maaf ya aku mengambil nomor ponselmu diam diam pagi tadi. Karna dapat aku gunakan bila aku rindu begini" tawa kecil Rena mengakui apa yang ia lakuakan.
"Ooww sayang. Tidak apa. Aku malah senang sekarang aku bisa mendengar suara manismu itu. Dan tebakanmu sangat tepat saat ini aku merindukanmu. Ingin aku pulang ke apartemenmu dan kembali tidur dengan kamu. Tapi keadaannya tidak bisa." Kata lesu Roy meratapi keinginannya.
"Roy... Kita memanglah suami istri tapi ingat kamu juga memiliki istri di sana. Jangan sampai ia tahu aku dan hubungan kita Roy. Kalau kamu keseringan ke sini nanti dia curiga loohh.." Sahut Rena dari sebrang telpon.
"Iya sayangku. Kamu benar, aku memang tidak boleh terlalu nampak bila ingin bersamamu. Dia mungkin akan curiga dengan sikapku. Tapi mau bagaimana lagi? Sekarang aku benar benar merindukanmu." Roy semakin lesu.
"Hei sayang semangatlah dan masih ada besok. Ini juga sudah tengah hari. Kalau kamu beralasan ke kantor bukankah itu alasan yang sangat bodoh." Rena mengingat semalam Roy datang saat malam hari dengan alasan ke kantor.
__ADS_1
"Iya sayang kamu sangat benar. Baiklah besok aku ke apartemenmu siapkan aku makanan yang enak ya sayang." Roy penuh harapan.
"Iya pasti suamiku. Pasti akan aku buatkan." Janji Rena.
"Kamu sedang apa ini sayang kok sepertinya sibuk sekali?" Roy mendengar banyak bunyi bunyian dari sebrang telpon.
"Aahh berisik ya sayang. Maaf ya... Aku sedang memasak makan siang." Jawab Rena jujur apa yang tengah ia lakukan.
"Wah sepertinya menyenangkan kalau aku di situ kan?. Kamu masak apa ini sayang?" Roy penasaran.
"Aku sedang masak ikan goreng. Tadi aku sudah marinasi ikannya terlebih dahulu makanya ini suaranya ribut karna aku sudah menggorengnya."
Roy dan Rena terus bercerita. Kegundahan di hati Roy juga sudah tidak ada karna ia temukan obatnya.
Sementara itu, Debora merasa jenuh sendiri menuggu Roy.
"Tumben yah.. Roy gak mau aku sayang sayang. Padahal biasanya dia yang paling semangat." Debora bertopang dagu sambil terua memikirkan apa yang terjadi pada Roy.
Debora bingung memikirkan sendiri akhirnya ia menelpin John dan menceritakan semuanya pada John
"Sayang mungkin saja Roy memiliki wanita lain, makanya ia tidak memperdulikan kamu sekarang." Kata John memprovokasi Debora.
"Benar juga. Aku sempat berpikiran seperti itu, tapi apakah mungkin? Roy itu sungguh mencintai aku seorang. Dia tidak akan berpaling ke yang lain." Debora masih saja meninggi ninggikan dirinya sebagai istri yang paling di sayang Roy.
"Sayang kamu tidam tahukan, selama kamu berkerja entah apa yang sudah Roy lakukan di luar sana, mungkin saja ia bermain dengan wanita lainkan!? Kamu mana bisa lihatnya sepanjang pekerjaannya. Apalagi dulu ia sering ke luar negeri dan meninggalkan kamu di sini sendiri. Mungkin banyak wanita yang ia mainkan saat dia di sana." Sungguh ironi provokasi yang do berikan John, yang malah seperti menampakkan apa yang selama ini dia dan Debora lakukan di luar sepegetahuan Roy.
Tapi Roy bukanlah pria yang bodoh, dia tahu semuanya tanpa mereka sadari itu. Seperti yang John katakan Roy pernah keluar negeri tapi ia hanya lakukan pekerjaannya tidak ada sama sekali niat ia bermain main dengan wanita di luar sana. Tapi kenyataannya saat ia pulang malah ia mendapatkan bukti Debora dan John selingkuh di belakangnya. Dan dari situlah Roy terus mengumpulkan bukti Debora dan John. Meski bukti itu akan menyakiti Roy.
Roy dulunya sngat mencintai Debora tapi ketika Roy tahu kenyataan pahit ini cintanya pada Debora seolah semakin berkurang saat Roy semakin banyak mendapatkan bukti bukti.
Dan setelah tidak tahan dengan semua bukti yang ia dapatkan Roy memilih mencari pelampiasan. Dan pelampiasan itu adalah Rena yang dapat mengembalikan semua rasa sakit Roy menjadi cinta yang utuh lagi. Tapi bukan untuk Debora melainkan untuk Rena.
Semangat ya baca novel author ini... Love love semuanya... Dukung author dengan like semua bab dan episodenya ya..
__ADS_1