AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 163


__ADS_3

Hery turun dari kamarnya bersama baby Alf dan Baby Elf. Sekarang Hery semakin lihai dalam menjaga Alf dan Elf, ia bisa menggendong keduanya bersama sama, cukup mudah karna lengan besar Hery.


"Selamat pagi semuanya.. Selamat pagi Bibi.." Hery seperti biasa membawa Alf dan Elf mengucapkan selamat pagi ke pada semua orang di rumah.


Hery ingin mengajarkan Alf dan Elf sejak dini untuk saling mengasihi, menghormati, dan menghargai semua orang.


"Pagi Mama.." Hery membawa Baby Alf dan Baby Elf pada Rena.


"Selamat pagi sayang sayang Mama.." Rena menciumi kedua putra putrinya.


"Selamat pagi Aunty.." Hery juga mengajak anak anaknya untuk menyapa Debora.


"Hai.. Selamat pagi.." Debora merasa terhibur dengan keluarga Rena dan Hery. Keluarga yang sangat hangat dan harmonis.


Melihat Hery yang begitu sayang dan perhatian pada anak anaknya. Sampai saat ini Debora tidak mengetahui kebenaran tentang Alf dan Elf.


***


Roy malah sibuk mencari Debora di seluruh penjuru rumah tapi ia tidak menemukannya.


"Eyang.. Apa Eyang liat Debora..? Roy cari Debora dari tadi gak ketemu..." Roy bertemu dengan Eyang dan bertanya.


"Mana Eyang tahu, Eyang juga baru bangun.." Eyang malah tak peduli.


"Issshh Debora.." Roy berlalu lagi. Kali ini ia bertemu dengan Nur.


"Nur apa kamu liat Debora..?" Nur menggeleng karna ia memang tak tahu apa apa. Tapi yang ia tahu Roy benar benar laki laki sejati seperti semalam. Tatapanya pun tak lepas dari Roy. Sedangkan Roy pusing dan susah hati memikirkan Debora.


"Kamu sudah hubungi teman dekatnya, mungkin mereka tahu." Saran Nur.


"Eemm Rena.." Roy segera mencari ponsel tapi ia sendiri tak tahu di mana ponselnya.


"Oh di kamar Debora tadi.." Roy naik lagi ke kamar atasnya. Ia mencari juga tapi tak ada ponselnya di sana.


"Perasaan semalam aku titip Debora ponsel aku.." Roy terus mencari lagi ke seluruh rumah.


"Apa aku bawa ke kamar Nur..?" Roy pun mencoba mencarinya. Ia malah menemukan ponselnya di samping pohom hiasan di depan pintu kamar Nur.


"Ponsel ku.. Kenapa ada di sini..?" Roy membuka ponselnya ternyata ada beberapa panggilan dari Roby.


"Halo By.." Roy mulai menanyakan sejak kapan Roby menghubunginya dan siapa yang menjawabnya.


Roby mengatakan semuanya. Ia mengatakan kalau sebelumnya ia berbicara dengan Debora tapi setelah menunggu beberapa saay tidak ada juga Debora menghubunginya. Roby pun mencoba menghubungi lagi Roy saat malamnya. Tetap tidak ada yang menjawab telponnya malah. Dan Debora entah kemana tak menerima telponnya.


Roy terdiam. "Jangan jangan ponsel ini di sini karna.." Roy sepertinya bisa menyimpulkan semuanya.


"Sial.." Roy segera mematikan telpon Roby dan mencoba menghubungi Rena dan Hery.


Roy menghubungi Rena tapi ponselnya tidak bisa di hubungi. Roy pun mencoba menghubungi Hery. Akhirnya dari nomer telpon Hery Roy bisa menghubungi Rena.


"Ya Debora ada di sini.." Rena juga tak suka dengan yang telah di lakukan Roy semalam dengan Nur. Bisa bisanya Roy menikmati malam hangat dengan ranjang panas Nur. Sedangkan Debora menahan rasa sakit hatinya dalam keadaan hamil muda.


"Aku ke situ sekarang.." Roy hendak menurunkan ponsel dari telinganya.


"Nanti..!" Tiba tiba Rena menahan gerak Roy.


"Rena aku mau ketemu sama Debora, dia lagi hamil.. Kasian dia.. Aku ke situ ya.." Pinta Roy lagi yang tak memahami keadaan Debora di sana.


"Roy apa kamu gak malu.. Debora dengan dan tahu apa yang sudah kamu lakuin semalam.. Apa kamu gak malu hah?" Rena yang jadinya marah besar bak ibu dari Debora.


"Ya aku tahu, tapi aku juga gak bisa biarkan Debora sedih.. Biar aku datang dan minta maaf sama dia.." Pinta Roy.


"Maaf gak bisa. Aku senang kok di sini.." Debora merampas ponsel dari tangan Rena dan membantu Rena melarang Roy untuk datang, Debora rasa ia tidak memerlukan Roy untuk saat ini.


"Debora itu kamu sayang.. Sayang aku jelaskan ya, aku ke situ.." ucap Roy lagi.

__ADS_1


"Aku bilang gak usah.. Aku lebih suka di sini sama Rena dan Baby Alf dan Elf. Aku gak perlu kamu, kamu sama Nur aja, diakan masih nikmat dan masih pera**wan. Enak toooh" Debora meledek ucapan Roy semalam yang ia dengar dari balik pintu.


Debora mematikan panggilan itu. "Maaf Rena aku kesal sekali.." Rena hanya tersenyum dan merangkul Debora.


"Sudahlah.. Aku senang kamu lawan dia. Sudah ayo kita siap siap lagi.." Rena mengedipkan matanya sambil melirik Hery yang kini beralih profesi menjadi pengasuh anak.


Hery tersenyum pasrah. Mereka akan berangkat ke Jerman, Rena mengajak Debora bersama Mereka, Rena yakin Debora pasti menikmati perjalanan ini dan melupakan masalahnya. Debora setuju untuk ikut, dan Hery tak masalah siapa pun yang ikut dengannya dan Rena. Bahkan Hery juga mengajak para bibi di rumahnya untuk ikut mereka ke Jerman, bukan hanya sekedar jalan jalan, tapi mungkin saja Hery dan Rena harus mencoba suasan baru untuk melaunchingkan baby mereka lagi. Jadi perlu bantuan para Bibi untuk menjaga Alf dan Elf.


Roy tidak mengetahui rencana Debora dan yang lainnya dan akan segera berangkat ke Jerman. Ia malah kucar kacir di rumah. Pergi ke kantor tak bersemangat. Semuanya terasa membosankan untuknya.


Rencananya siang ini juga mereka akan berangkat, menunggu Rena dan yang lainnya selesai bersiap dan mereka akan berangkat.


"Sayang ingat vitamin mu ya.." Ingat Hery. Ia ingin rencananya berjalan lancar lagi. Ia ingin Rena segera mengandung lagi tapi dengan kesehatan yang terjaga pula.


"Iya sayang.. Sudah kok.. Susu, nanti kita beli di sana aja ya.." Pinta Rena.


"Ya sayang.." cup.. Hery mengecup Rena.


Setelah itu Hery kembali lagi pada Baby Alf dan baby Elf. Mereka tertidur dengan pulas. Rena sudah menyiapkan asinya di dalam sebuah dodot masing masing untuk Alf dan Elf. Jadi ia tak ambil pusing jika Alf dan Elf ingin menyusu karna sudah ia persiapankan tinggal Hery berikan dan menjaga putra putri mereka.


"Sudah.." Rena menarik reselting tas kecilnya, lain juga dengan koper besar yang tinggal di tenteng keluar dari rumah.


"Sudah..? Baguslah.. Aku mandi dulu ya.." Rena tertawa dan ia lupa kalau suami tercintanya belum mandi pagi ini.


"Oowww kasiannya suami aku, aku liatnya masih ganteng aja biar belum mandi.. Jadi pangling aku.." Rena menggoda Hery terlebih dahulu.


"Eeemm" Hery senyum malu malu dengan pujian kecil Rena. Karna memang wajah tampan Hery tidak ada duanya membuatnya biar belum mandi tetap tampan.


"Sudah siap Rena?" Debora datang ke kamar Rena.


"Iya sudah aku tinggal tunggu Hery mandi dulu.." Debora mengangguk.


"Debora.." Panggil Rena.


"Ya..?" Debora berbalik lagi.


"Apa Rena...?" Debora tidak mengenali dompet dan tas itu.


"Dulu ini di berikan Roy padaku.. Aku rasa kartunya masih bisa di pakai. Pakailah Debora. Biarkan aja Roy itu. Yang penting kamu bahagia deh.." Rena memberikan tas, dompet dan Kartu yang pernah Roy berikan padanya saat masih menjadi simpanan Roy.


"Tapi.." Debora ragu. Tapi tiba tiba bayangan Roy mendesa** dan mengerang membuat Debora yakin untuk menggunakannya.


"Baiklah aku akan bersenang senang.." Rena setuju dan keduanya lebih terlihat seperti kakak beradik yang selalu saling mendukung satu sama lain.


Hery keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk di pinggangnya. "Kalian berdua kok senyum senyum gitu...?" Hery mengaruk tengkuknya.


Debora pura pura tak melihat tubuh Hery. Dan Rena melotot pada Hery. "Ini urusan wanita.. Bapak bapak gak paham.." Hery malah tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Ya udah Rena aku keluar dulu ya.. Makasih.. Kamu yang terbaik.." Dengan segera Debora keluar tak ingin mengganggu Rena dan Hery di kamar mereka.


Off dulu ya guys..


Cuplikan novel sebelah.. Budak Cinta Sang Mafia...


"Ooowww anak mommy pintar ya..." Cessa sedang mengendong Karsa dan seolah sedang memberikan asupan gizi terbaik untuk Baby Karsa.


Mau tak mau Cessa memberikannya karna Baby Karsa sangat menyukainya. Tanpa Cessa sadari Zino melihat semuanya.


"Cessa..?" Zino sangat terkejut.


"Aaahh..?" Apalagi Cessa yang baru sadar akn keberadaan Zino. Ia lebih terkejut lagi


"Zino..?" Cessa bingung harus apa. Baby Karsa sedang nyaman nyamannya dengan isapannya.


"Zino tutup pintunya..!" Pinta Cessa.

__ADS_1


Dengan sekali gerak Zino menutup pintu kamar Cessa. Lalu Zino mendekati Cessa dan Baby Karsa.


"Kamu sedang menyusui Baby Karsa..?" tatapan Zini hanya satu arah.


"Dia sangat suka padahal mana ada asinya.." Jawab Cessa dengan ragu ragu.


"Tadi dia nangis. Jadi harus di kasih tenang gini.. Terus kalau dia sudah tenang dan ngantuk baru deh di kasih susu formulanya.." jelas Cessa sambil menatap baby Karsa lalu setelah menjelaskan itu Cessa menatap Zino.


Cessa melihat tatapan Zino hanya pada Baby Karsa dan mainanya. "Pasti Enak.." Gumam Zino.


"Zi.." Cessa mengangkat dagu Zino agar menatapnya saja. Bukan menatap yang lainnya.


"Ya..?" Zino menatap Cessa lalu menatap Baby Karsa lagi lalu balik menatap Cessa.


"Kamu ke sini kenapa..?" Cessa mengalihkan pembicaraan.


"Eeemm untuk apa ya tadi.. Tadi aku.. Anak buah.. Aaahh.. Ya anak buah Karen dari Canada mau ketemu kamu dan Baby Karsa. Bagaimana pun juga kamu sudah tercatat sebagai nyonya mereka. Datanglah dan biarkan mereka memberikan hormat mereka pada kalian berdua.." Setelah mengatakan itu Zino langsung menatap baby Karsa lagi.


Bibir imut Baby Karsa bergerak kecil seperti sedang menghisap isinya. Zino mengamatinya dengan sangat dekat membuat Cessa terganggu.


"Zi..." Cessa mendorong wajah Zino.


"Apa.. Aku cuma mau liat.. Kayaknya manis gitu.. Enak.." Zino mengangguk yakin..


"Aku juga mau coba..." Sarkasnya.


"Zino.." Cessa mencubit bahu Zino.


"Ya gak deh.. Kan punya Karsa.. Daddy ambil mommynya aja deh.." Zino segera memeluk Cessa.


"Ya ampun Zino itu... Bisa gak sih..?" Cessa merasakan ada yang bangun di antara kakinya dan kaki Zino.


"Gak bisa... Tunggu aku tenang dulu.." Zino terus memeluk Cessa.


Perlahan tapi pasti Baby Karsa melepaskan bibir kecilnya. Cessa tenang ia bisa menyimpan barangnya itu.


"Zi.. Aku tidurkan Baby Karsa di tempat tidur dulu.." Akhirnya Zino juga melepaskan peluknya pada Cessa.


Cessa menidurkan Karsa di tempat tidurnya. Bayi kecil itu mencari lagi, tapi Cessa memberinya susu formula saja agar setelah ini Baby Karsa akan tertidur.


Baby Karsa semakin larut dalam tidurnya, Cessa duduk dengan tenang lalu menyimpannya rapi rapi. Cessa menoleh pada Zino yang ternyata masih memandanginya.


"Baby Karsa sudah tidur..?" Zino mendekati Cessa yang masih salah tingkah.


"Eeemm ya sudah.." Jawabnya.


Zino langsung memeluk Cessa lagi lebih intim. "Kalau gitu gantian.. Aku lagi yang jadi baby.."


"Zi.. Apa.. Aaahh.." Zino membuka baju Cessa dan memainkan mainan baby Karsa tadi.


"Ooohhh..." Suara Zini dari balik tubuh Cessa.


***


"Aku panggil Bibi dulu.." Cessa berusaha mengatur nafasnya yang tadi tak beraturan.


"Biar aku aja kamu tunggu di sini sayang.." Zino mengerti yang Cessa rasakan. Ini juga salahnya maka seharunya ia yang tanggung jawab.


Cessa masih duduk di sofa dan menganggukkan kepalanya. Zino keluar dari kamar dan setelah itu barulah Cessa menghela nafas panjang.


"Apa yang terjadi padaku.. Kenapa aku terhanyut..." Cessa memegangi rambutnya.


Lalu turun ke bibirnya. Lalu turun lagi ke dadanya. Awal mula kajadiannya dan Zino.


"Isssshhh.." Cessa kembali mengingat apa yang baru saja terjadi. Rasanya ia malu sekali.

__ADS_1


"Sayang.. Apa Mommy tadi mengotori pendengaran kamu kah..?" Cessa mendekati Baby Karsa yang masih tertidur. Cessa rasa tadi ia sangat ribut. Pasti jika Baby Karsa lebih besar dari ini ia akan protes dengan kegaduhan yang di buatnya dan Zino.


Zino...


__ADS_2