
Tok tok tok..
"Stu.." Adel mendekati Stuart.
"Eeemm sepertinya kita ketahuan.." Stuart berdiri.
Pintu terus di ketuk dari luar. Stuart menghembuskan nafasnya kesal. "Bisanya aku kecolongan.." Stuart memukul udara.
"Eemm kita sudah ketahuan, kita buka aja pintunya ya..?!" Tanya Adel.
"Eeeemm Adel.." Adel menoleh lagi pada Stuart.
"Apa..?"
"Apa kamu bisa bantu aku sebentar..?" Adel menyipitkan matanya.
"Bantu apa..? Stuart menanggalkan kaosnya.
"Stuart.. Kamu mau apa..?" Adel menjadi takut melihat Stuart yang sudah memperlihatkan dada indahnya.
"Stu..?" Stuart mendekati Adel.
"Stu...!!"
***
Beberapa menit kemudian, barulah Stuart membuka pintu unitnya.
"Stu.. Di mana.." Bisma berhenti dengan kata katanya.
"Adel..?" Bisma melihat Adel di sofa di dalam sana.
"Apa?" Stuart menghalangi Bisma terus menatap Adel di dalam dengan tubuhnya.
__ADS_1
"Stuart kamu apa kan Adel..?" Albert juga ikut maju ke hadapan Stuart.
"Aku gak apa apakan dia.. Kami hanya bermain sebentar tadi.." Ucap Stuart santai.
"Adel.. Adel.. Bangun Adel.." Teriak Bisma. Ia mulai khawatir melihat Adel terbaring di atas sofa dengan tubuh yang hampir terlihat semuanya.
"Kamu apakan Adel...?" Bisma mencekram leher Stuart. Stuart juga gak mengenakan kaosnya tadi. Hingga satu satunya tujuan tangan Bisma adalah Leher Stuart.
Dengan satu gerakan Stuart melepas cengkraman itu.
"Memangnya kenapa..? Kamu gak bisa kasih apa apa sama dia, aku bisa kasih yang dia perlukan sebegai seorang suami dan istri." Stuart menaikkan satu alisnya beberapa kali seperti meledek Bisma.
"Adel tadi sangat menyukainya. Dia bahkam berteriak kencang sekali.." Nafas Bisma memburu mendengar cerita Stuart.
"Kamu..!" Bisma memberikan satu pukulan ke pipi Stuart. Stuart mundur beberapa langkah ke belakang.
"Cih.. Bisa kuat juga kamu ya.. Aku kira kamu cuma bisa di bawah Albert.." ledek Stuart lagi.
"Kamu..!!!!" Bisma akan menghujani Stuart lagi dengan pukulannya tapi kali ini Stuart bisa menghindar.
Bekas cakaran kuku wanita yang terlihat sangat jelas karna kulit putih Stuart.
"Ini hadiah dari Adel tadi karna rasa yang aku kasih ke dia.. Ya sepadan lah.." Ledek Stuart lagi.
"Stu.. Apa apaan kamu.. Adel istri Bisma.. Dan kamu..?" Albert juga masuk ke dalam ruangan itu.
"Apa.. Kan Bisma gak bisa pergunakan Adel dengan benar.. Aku kan bisa.." Stuart tersenyum jahat.
"Kamu.." Stuart menghindar lagi serangan sembarangan dari Bisma.
"Dan kamu suka permainkan wanita..?" Albert ingin membantu Bisma.
"Eeemmm aku bukan memainkan wanita.. Aku memainkan itunya.." Perkataan yang mengantung tapi bisa di pahami Bisma dan Albert.
__ADS_1
"Stu..!!!" Stuart di keroyok Bisma dan Albert.
Sebisa mungkin Stuart menahan serangan keduanya bergantian.
"Stop..!" Adel tak tahan lagi terus berpura pura diam di tempatnya.
"Adel..?" Bisma lepaskan tangan Stuart.
"Adel kamu gak apa apa.. Kamu dan Stuart apa kamu..?" Bisma terlihat sangan panik.
"Gak.. Aku sama Stuart gak ngapa ngapain.." Adel memperbaiki kemejanya.
Stuart dari tempatnya tertawa puas. Ia berhasil membohongi keduanya.
"Tapi kamu.." Bisma meneliti tubuh Adel.
"Apa sih..?" Adel memutupi depannya dengan kedua tangannya.
"Eeemmm?" Bisma menoleh pada Albert dan Albert juga melempar tatapan bingung pada Bisma.
"Kalian kira aku sebejat itu..?" Stuart melepaskan tangan Albert dari lehernya.
"Aku bukan pecundang begitu.." Stuart mengambil kemejanya lagi di dalam lemari dan mengenakannya.
Meeoowww..
Foppa datang dari dalam kamar dan berjalan dengan lenggoknya. Tatapan mata tajam dan seakan ingin membunuh dan langsung memangsa.
"Foppa.." panggil Adel pada kucing besar itu.
"Foppa di sini..?" Albert mengenali Foppa peliharaan kakaknya ini.
Foppa langsung menuju Adel dan duduk di samping Adel dengan nyamnnya. Adel tanpa ragu mengelus bulu Foppa dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu tidur nyenyak..?" Adel berbicara pada Foppa dan tak menghiraukan Bisma dan Albert yang masih mematung.
Stuart..