AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 265


__ADS_3

Debora mengenali suara itu. Dan benar saja saat menoleh itu adalah Roy bersama Nur.


"Ka.. Kalian..?" Debora bangun dari duduknya.


"Waahh ada Debora juga di sini..?" Nur tampak tak suka melihat Debora.


"Hmmmm" Debora hanya bergumam.


"Aku juga gak suka liat kamu jal**ng." gumam Debora.


"Kamu di sini sama siapa..? Apa sendiri.. Kan aku sudah bilang.." Roy tampak khawatir pada Debora.


"Aku.. Gak sendiri.." Cicit Debora ragu ragu.


"Benarkah.. Tapi sama siapa.. Aku liat kamu sendiri.." Roy celingak celinguk mencari yang ia kenali bersama Debora.


"Aku.." Debora ragu mengatakan orang yang menemaninya.


"Siapa..? Om om hidung belang..?" Ledek Nur.


"Nur..!" Tegur Roy.


"Siapa hah...?" Roy yakin Debora sendiri tanpa ada yang menemaninya.


"Aku... Sama.."


"Debora.." Panggil lembut Dion sambil mendorong trolinya.

__ADS_1


"Aku bawa satu lagi troli untuk kamu tapi yang kecil aja ya.." Dion seolah tak peduli pada Roy dan Nur di depannya.


"Kamu sama dia..?" Roy mengenali Dion dengan baik.


"Hah..?" barulah Dion menoleh ke arah Roy.


"Oh Roy..?" Pura pura baru menyadarinya.


"Kenapa ya..?" Dion mengalihkan pandangan ke arah Roy dan Debora bergantian.


"Itu.. Aku.." Debora masih ragu mengatakannya.


"Aku yang ajak Debora ke sini.. Di temani aku berbelanja.." Sahut Dion.


"Oh ya..?" Roy tak percaya.


"Gak.. Gak ada.." Rasa cemburu di hati Roy membuatnya menatap Dion dengan tatapan tak suka.


"Kasin kamu ya.." Cicit Nur juga.


"Kenapa kasian..?" Dion berdiri sedekat mungkin dengan Debora.


"Gak ah.. Wah belanjaannya banyak ya.." Cicit Nur lagi.


"Tentu.." Dion menjawab sesukanya juga. Sedangkan Roy terus memandangi keduanya bergantian.


"Pasti banyak keluar bajet ya..?" Tambah Nur.

__ADS_1


"Gak juga." Debora tahu itu pasti terlontar dari mulut kotor Nur.


"Kasian kamu.. Habis nanti uangmu cuma buat biayai dia.." Ledek Nur lagi. Roy tak lagi mempermasalahkan apa pun ucapan Nur pada Debora. Malah seperti membenarkan yang di katakan Nur.


Debora tak ingin banyak bicara pada keduanya dan memilih untuk buang muka saja. Tapi sepertinya Dion tak seperti itu.


"Gak apa.. Aku memang cari wanita untuk habiskan uang aku.. Uang aku terlalu banyak.. Jadi betapa beruntungnya aku ketemua sama Bora.." Dion merangkul Debora.


"Uang laki laki memanglah di kuadratkan untuk di habiskan wanita tercintanya.. Bukan begitu.. Roy Filip..?" Sepertinya pukulan kencang tak berbogem dari Dion. Mulut sepertinya memang panas dan pedas tak seperti wajahnya yang manis dan lembut.


"Maaf ya masih ada yang harus kami beli.. Kami permisi.." Dion membawa Debora yang masih ia rangkul di pinggangnya dan membuat mereka berdua sangat dekat.


Saat melewati Roy dan Nur Debora tak menoleh kearah keduanya, yang ia tatap hanyalah Dion dan tatapan tajamnya ke depan.


Roy menoleh dan menatap punggung Debora dan terlihat sangat jelas lengan indah Dion merangkul pinggang Debora dengan erat. Bahkan jari jarinya menempel sempurna di pinggang kanan Debora.


Di tambah lagi Debora yang menatap Dion tanpa henti sambil berjalan menambah kesan romantis keduanya. Akhirnya Dion menoleh jugacpada Debora seulas senyuman manis untuk Debora terukir indah di bibir tebal itu.


Tanpa terasa Debora membalas senyum itu dan mendapat colekkan dari Dion tepat di hidungnya.


"Sangat manis.. Jangan senyum di depan orang banyak.. Nanti mereka jatuh cinta juga sama kamu.." Bisik Dion.


Debora malah terkekeh. Dion mengeratkan rangkulannya, mendekatkan Debora dan tubuhnya. Tanpa ragu pun Debora mendekat.


Setelah yakin Debora dekat dengannya dan Dion mengubah posisi tangannya dan mendekatkan kepala Debora agar bersandar di dadanya.


Debora...

__ADS_1


__ADS_2