
Hari sudah sore, Roy pulang dengan lesu dan lelah rasanya.
Sampai di rumah, rumah terasa sepi, tak ada pembantu atau siapa pun di ruang tengah. Suasan yang aneh untuk Roy.
"Roy..?" Panggil seseorang dari belakang Roy
"Eeeh Eyang dah pulang dari rumah Bu Mira..?" Eyang tadi pagi pergi berkunjung ke rumah temannya dan tampaknya baru pulang juga dengan sang bibi yang menemani Eyang
"Iya kamu baru pulang, tapi kok rumah sepi ya... Debora mana..?" Yang terpikir Roy hanyalah Debora.
"Di kamar kali Roy.. Ya udah Eyang cepek abis jalan, Eyang duluan ke kamar ya.." Pamit Eyang yang tak merasa aneh seperti Roy.
"Eeehh Eyang ini di mintai pendapat malah langsung kabur.." Roy mengerutu dan naik ke kamarnya.
Sampai di kamar juga tida ada siapa pun, tapi kamar bersih dan rapi, seprai dan tirainya juga bersih dan sudah di ganti dengan yang baru.
"Heeemm apa lagi yang di lakukan Debora ini.." Melihat tirai yang berwarna coklat itu Roy yakin Debora yang berotak dari semua perubahan ini.
Roy memilih membersihkan tubuhnya, sebelum mencari Debora. Setelah selesia membersihkan diri Roy keluar dari kamar mandi tapi ia malah terkejut melihat Debora dengan cemongnya. w
"uuaaaa
!!" Roy memegangi dadanya.
"Ka.. Kamu itu kenapa..?" Roy kaget melihat wajah dan rambut Debora yang penuh dengan saus dan baunya sangat menyengat walaupun sedikit.
Belum juga rambut Debora yang berantakan membuat penampilan Debora hancur total.
"Aku tadi bantu di dapur, rencananya bantu masak, awalnya baik baik aja tapi pas rambut aku lepas daru gulungannya wah.. Jadi gini.." Debora menunjuj rambutnya yang amburadul di tambah saus dan berbagia macam behan masakan lainnya menempel ikut saus itu.
"Hahaha hahahahahaa hahahahaa..." Malah tertawa sekencangnya.
"Eh kok malah ketawa..? Bukanya puji gitu.." Debora berdecak.
"Udak kayak mie goreng tu rambut. Ada sausnya gitu, tinggal bawang goreng sama telur rebus di belah.." Roy semakin tertawa membuat Debora kesal.
"Iissshh.." Debora berlalu dan masuk ke kamar mandi langsung membersihkan tubuhnya.
"Haaaiii.. Dasar.. Gak tau masak ya gak usah masak, repotin Bibi aja di dapur." ucap Roy sambil mencari pakaianya.
Waktu makan malam tiba. Debora Roy dan Eyang sudah di meja makan. Semua makanan juga sudah tersedia. Debora menatap Roy berharap ada pertanyaan tentang makanan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Ayo kita makan..." Ucap Roy dan langsung mengambil nasi dan lauk pauk lainnya.
Roy mengambil nasi dan ikan Goreng, lalu Roy menoleh dan di sampingnya sudah ada mie goreng lengkap dengan bumbu dan bahan pelengkap lainnya.
"Hahahahahahahahaaaaa.." Roy tak bisa menahan tawanya.
"Roy.. Kamu kenapa kok ketawa ketawa gitu.. Ini kan mau makan, nanti kesedak looo.." Eyang yang terkejut dengan tingkah aneh Roy.
"Gak apa apa Eyang.. Roy cuma lucu liat mie goreng ini aja..." Ucap Roy masih dalam tawanya.
"Kok Mie goreng lucu, lucunya di mana..?" Eyang bahkan juga ikut ikutan Roy melihat Mie goreng itu.
"Nyonya besar, Tuan, ini tadi Nyonya Debora yang memasak Mie goreng.." Ucap Mila agar semuanya tahu kalau Debora ysng sudah menyiapkan makanan itu.
"Ahahahhahahahahahaa" Roy tertawa semakin keras.
"Ya ampun Roy..!!" Eyang mengelengkan kepalannya.
"Eyang bukan cuma Mie goreng ini aja yang gulung gulung aneh, tapi tadi itu yang bikin juga kayak Mie ini.. Hahahahaa.." Rky sampai memukul mukul meja makan.
"Maksudnya?" Eyang menoleh
Pada Debora Dan Bi Mila.
"Ahahahah..." Eyang juga ikut tertawa.
"Loohh Eyang kok ketawa juga...?" Eyang pun menutup mulutnya.
"Maaf, tapi pantas aja kalau Roy ketawa.." Bela Eyang pada Roy.
"Eyanggg.." Debora merasa tersingkirkan.
"Ya udah ayo kita makan.." Ajak Eyang kali ini.
"Eeemm aku akan coba masakan kamu.." Roy menyendok mie goreng buatan Debora tadi.
"Iya Eyang juga coba ya.." Eyang sangat suka melihat lucunya pasangan di depannya ini.
***
"Selamat makan sayang.. Makan yang banyak ya.. Buat nutrisi berdua.." Hery mengelus Perut Rena.
__ADS_1
"Ya selamat makan juga papa.." Rena dan Hery saat ini makan malam di Vila mereka. Makanan pilihan yang Hery pesan untuk sang bumil.
Tiba tiba ponsel Hery berdering. Hery meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya.
"Eeehh Olin.." gumam Hery.
"Hai Olin.." Hery langsung menghubungkan dengan panggilan video.
"Hai kak Hery.. Kak.. Mana kakak ipar..? Aku liat di foto profil kakak, kakak lagi di Bali sama kakak iparkan.. Aku mau liat kakak ipar.." Rengek Olin sejak awal Hery menerima panggilan.
"Ya ini kakak iparmu.." Hery memberikan ponselnya pada Rena.
"Hai kakak ipar.. Ini aku Olin." Olin sangat antuasias.
"Hai cantik... Wahh betul ya kata kakakmu Hery, kamu cantik banget.." Puji Rena saat pertama kali melihat Olin.
"Ya donk.. Kan kakak aku ganteng makanya aku cantik..." Hery mengelengkan kepalanya mendengar guyonan guyonan yang di buat sang adik.
Banyak yang mereka bicarakan sampai sampai Hery yang harus menyuapi Rena yang sambil bertelponan dengan sang adik.
"Olin.. Kakakmu ini harus makan ya.. Kamu gak ada kerjaan lainkah selain ganggu kakak ipar kamu ini?" Hery ikut masuk dalam di layar panggilan.
"Yaaaa kakak ini cemburulah itu..?!" Olin dengan gaya nakalnya menggodai kakaknya.
"Heehhh... Dasar nakal.." Hery ingin rasanya Hery mencubiti pipi adiknya itu.
"Eehh kak itu ada teman aku panggil, aku ke sana dulu ya... Nanti kalau ada waktu lagi aku telpon oke.. Dada kakak ipar.." Olin melambaikan tangannya.
"Aku gak di lambai terus gak pamitan sama aku kah..?"Hery masuk lagi di layar panggilan.
"Iya kakakku sayang.. Aku pamit dulu nanti aku telpon lagi kakak ipar." Masij tetap mengangug sang kakak.
"Eeemm ya lah itu.. Pergilah.. Hati hati, jaga diri kamu di sana ya.." Ucap Hery seorang kakak yang sangat perhatian.
Panggilan pun terputus.
"Hery, Olin pintar ya bahasa Indonesia, kamu yang ajarkan..?" Hery sedang memakan es Krim.
"Ya kan awalnya Olin aku bawa ke sini, aku gak tega tinggalkan Baby Olin sendiri di Amerika kamarin, jadi aku bawa ke sini, karna dia sudah besar dan mengerti maka aku biarkan dia ke Amerika, awalnya dia gak mau, tapi setelah aku ceritakan tentang siapa Mamanya yang sebenarnya dan tentang cerita keluarga itu tiba tiba dia dapat tekad untuk sekolah di sana, katanya dia juga mau bikin perusahaan besar dan dia perlihatkan sama Mama nanti kalau dia juga mampu. Gitu katanya, aku dukung dia, bagaimana pun dulu Mama Marry juga dukung aku apa pun langkah yang aku ambil. Jadi kali ini gantian, aku yang selalu ada untuk Olin.." Hery sangat dewasa.
Beruntung sekali Hery mendapatkan ibu seperti Marry, yang mau menerimanya, oleh karna itu Hery paham dan ingin membalas jasa Marry itu dengan membesarkan Olin dan menjadikan Olin orang besar nanti di depan mata Marry dan Bisma.
__ADS_1
Off dulu guys, apa lagi ni yang mau di tanyain sama Hery. Silahkan masukkan dalam kolom komentar..