
Hari ini Rena lebih lega dan melewati semuanya dengan senyum indahnya. Banyak orang orang yang berdatangan dan membeli ayam di standnya ini. Hari perkenalan sekaligus Hari pertama berkerja yang sangat menyenangkan. Dion pun menemani Rena berjualan. Fery dan kakaknya juga kadang datang untuk mengantar ayam yang baru dan segar.
Tempat Rena berkerja ini hingga sore karna ayam ayam yang mereka jual masih segar segar dan juga halal. Tak heran banyak yang membeli ayam di sini.
"Dion kamu gak pulang ajakah? Kasiham kamu nugguin aku." Ucap Rena sambil mengeluarkan tangannya sari sarung tangan karet khusus.
"Tidak Ren aku akan menunggumu sampai kamu selesai." Ucap Dion dengan senang hati.
"Tapi belanjaanmu tadi jadinya gak segar dalam plastik terus kelamaan lagi. Kalau kamu pulang duluankan kamu bisa simpan belanjaanmu di kulkas" Ucap Rena lagi meyakinkan Dion, tapi Dion malah mengelengkan kepalanya seperti anak kecil.
"Tidak apa apa.. Tadi aku menitip balanjaanku pada Fery, akan ia simpan di kulkas di rumahnya. Nanti kalau kitq dua pulang barulah kita singgah rumah Fery ya.." Dion pasti sudah selangkah lebih cepat dari Rena.
"Oohh astaga... Kamu pintar sekali ya mengelak.. Dan sudah merencanakan ini semuanya lagi. Sudah di titiplah.. Wah..." Rena tak percaya Dion sangat pintar dalam hal ini.
Dion sedikit khawatir tadi, Dion pikir Rena akan mengetahui apa yang tengah ia rencanakan ini tapi rupanya salah, Rena sama sekali tidak membicarakan itu melainkan masih berbicara tentang belanjaan Dion yang belum masuk kulkas itu. Padahal Dion sudah dari tadi menitipkannya pada Fery karna Dion memang berencana menemai Rena sampai selesai.
"Hehehehe iya donk Ren... Cekatan gitu.." Dion bangga seolah tak terjadi apa apa.
"Makasih ya udah mau temani aku cari karjaan terus temani kerja lagi.. Makasih ya.." Ucap Rena setulus hatinya.
"Iya Ren... Aku akan selalu ada buat kamu. Kalau kamu perlu aku bisa kok tiap hari temani kamu jualan di sini." Dion menjulurkan lidahnya meledek Rena.
"Iss kamu ini.. Setiap hari kepalamu.. Kamu kan udah ada kerjaan... Ngapain ikut ikut aku yang luntang lantung." Ucap Rena lagi sembaro tertawa kecil.
"Heh aku juga mau coba kerjaan yang lain, bosan tau kerja di kantor terus, liat laptop terus, sekali kalilah liat paha ayam yang banyak kayak ginikan.. Segar mata.." Guyonan guyonan lucu pun di lontarkan Dion dan selalu di tanggapi Rena juga dengan canda tawanya.
***
Roy dan Debora juga hari ini menikmati paginya dengan indah menurut Debora, tapi tidak menurut Roy.
"Roy... Maaf ya semalam aku tidur duluan.. Kamu gak papa kan...?" Tanya Debora melihat pagi ini Roy tak seceria pagi saat ia dan Roy akan berangkat ke rumah Eyang ini.
"Iya tak apa apa Debora. Aku juga baik baik saja kok." Ucap Roy biasa saja.
__ADS_1
Debora mengira Roy marah karna semalam Debora tidak melayani Roy seperti malam kemarin.
"Aku janji Roy malam nanti ya.." Ucap Debora percaya diri. Sementara Roy merasa jijik mendengarnya.
Roy tak mendengarkan apa yang Debora bicarakan. Roy memilih untuk terus membaca surat kabar yang ada di tangannya.
"Dion Wigara... Naik daun rupanya dia. Tapi apa salahnya juga nilai harga batu bara naik belakangan ini. Tentu saja itu keuntungan untuknya dan membuatnya semakin kaya." Guman Roy membaca isi Surat kabar itu.
"Apa yang kamu baca...?" Debora ikut melihat apa yang Roy baca dengan sangat serius.
"Eh ini laki laki kemarin yang aku dan John lihat di Mall aku bersama wanita yng memegang kartu gold itu. Jadi wanita itu wanita milik laki laki itu.. Tapi laki laki ini tampan juga dan sepertinya lebih muda dari pada Roy dan John." Gumam Debora dalam hatinya.
"Ho.. Hooo.. Hoo seru sekali tampaknya." Eyang datang dengan piring di tangannya yang berisi buah buahan beraneka ragamnya.
"Iya Eyang apa salahnyakan Bora menikmati hari libur Roy. Roy itu sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga kadang lupa akan diriku Eyang jadi hari hari libur ini Bora tidak akan sia siakan waktu kebersamaan ini dan membuat seru seperti yang Eyang katakan tadi." Ucap Debora melebih lebihkan. Padahal selama ini siapa yang menyia nyiakan waktu, Roy atau dirinya sendiri.
Roy mencibir ucapan Debora dalam hatinya.
"Memangnya Debora sakit apa harus minum susu segala?" Tanya Roy tak mengalihkan pandangannya dari surat kabarnya dan menyuapkan buah ke dalam mulutnya sendiri.
"Roy... Semalam Debora bercerita pada Eyang, dia sedang dalam program kehamilan dan mulai gaya hidup sehat dan meminum susu persiapan sebelum kehamilan. Dukunglah istrimu ini ya.. Ini demi kebaikan kalian berdua dan jangan lupa Eyang ya, Eyang sudah sangat mendambakan cicit. Ingat!" Nasehat Eyang yang tak di tanggapi sungguh sungguh oleh Roy yang tampak ac7h tak acuh.
Eyang melihat hal itu yang langsung bertanya dengan kode saja pada Debora dan Debora hanya memegangi tangan Eyangnya seakan mengatakan tidak apa apa.
Tiba tiba ponsel Roy berdering dan tertera nama Hery. Dengan segera Roy menerima telpon itu dan berlalu meninggalkan Eyang dan juga Debora.
"Halo Her bagaimana?" Roy mengirim Chat pada Hery tadi pagi untuk mengecek keadaan Rena takut Rena akan berbuat nekad.
"Ya Halo Roy.. Ya aku di apartemen kalian tapi sepertinya Rena tidak ada di apartemen, unitnya ini kosong aku sudah memeriksanya tapi tidak ada tanda tanda Rena" Ucap Hery dari sebrang telpon. Hery kini berada di Unit Rena tapi ia terlambat jauh dari Rena dan Dion yang sudah keluar dari apartemen sejak subuh tadi saja, karna pasar yang mereka tuju ini buka dari subuh. Dan saat Hery tiba tidak ada siap siapa di apartemen ini.
"Her coba kamu lihat sepatu Rena apa ada di raknya?" Roy masih tak percaya Rena keluar dan pergi secepat itu dari apartemen sementara ini masih jam pagi.
"Di sini hanya ada sendal laki laki berwarna hitam dan juga sendal jepit wanita satu dan juga sendal kucing berbulu bulu.." Ucap Hery mengabsen sandal di rak itu.
__ADS_1
"Sendal laki laki hitam itu milikku dan sendal jepit warna kuning itu punya Rena dan juga kucing bulu bulu itu juga punya Rena. Yakin gak ada sepatu putih di situ?" Roy juga mengingat ingat rak sepatu itu dan masih tak percaya sepatu Rena tak ada di situ.
"Iya Roy tak ada Sepatu warna putih yang kemarin Rena pakai." Ucap Hery.
"Itu berarti Rena memang sudah tidak ada di unitnya Her... Rena hanya mempunyai satu sepatu, yaitu berwarna putih itu saja. Dia sangat menyukainya kemana mana ia akan mengenakannya. Tapi kemana dia pagi pagi seperti ini?" Roy tak habis pikir kemana Rena sepagi ini.
"Kata Rena kamarin Dia akan mencari pekerjaan lagi hari ini Roy. Aku katakan padanya kalau aku tidak bisa menemaninya lagi karna sibuk dengan perusahaanmu dan dia bilang tak apa." Jelas Hery lagi sambil meninggalkan unit Rena.
"Kenapa kamu tidak temani saja Rena hari ini tadi Her.. Sekarang kita tidak tahu dia dimana... Kenapa kamu malah mementingkan perusahaan itu..?" Kesal Roy memuncak dan menumpahkannya pada Hery.
"Tapi Roy kamu yang memerintahkan aku untuk mengurus perusahanmu saat kami pergi ini, kalau aku hanya menemani Rena maka aku jamin perusahaanmu akan gulung tikar saat kamu pulang dari bulan madumu ini." Bukan hanya Roy yang kesal dan jengkel, Hery pun sama Kesalnya, sekarang ia tak tahu harus mencari kemana, kota ini sangatlah besar.
"Oke Her maafkan aku. Karna ajakan Debora ini kerjaku jadi terbengkalai. Aku akan segera kembali hari ini juga aku kembali. Tunggu intruksiku selanjutnya ya.. Aku akan menghubungimu lagi. Kamu kembalilah ke kantor dan handle di sana. Dan Rena aku yakin dia tidak akan meninggalkan Aku, dia pasti pulang. Aku yakin itu." Roy memutuskan sambungan telponnya.
***
"Debora sayang... Kenapa Roy seperti itu tadi sepertinya moodnya tidak baik pagi ini, semalam baik baik sajakan?!" Tanya Eyang mulai mengintrograsi Debora.
"Tidak Eyang.. Semuanya baik baik saja.. Hanya saja semalam aku ketiduran dan tak melayani Roy seperti biasanya, Bora yakin itu yang membuat Roy bab mood hari ini." Ucap Debora percaya diri.
Saat itu juga Roy lewat dan mendengarkan pembicaraan Eyangnya dan Debora. "Astaga nak... Kamu ke sinikan untuk memproduksi cicit Eyang.. Pokoknya malam nanti Eyang gak mau tahu ya.. Harus mulai produksi." Ucap Eyang memanasi Debora yang di dengar jelas oleh Roy.
"Jadi Eyang juga tahu hal ini, jadi ini rencana mereka berdua? Aku benar benar di perdaya." Gumam Roy dalam hatinya.
"Maaf Eyang.. Sepertinya hari ini Roy harus kembali ke kota, karna ada pekerjaan mendadak dari kantor. Tapi Eyang tenang saja, Debora akan tetap di sini bersama Eyang." Ucap Roy tiba tiba dari belakang keduanya dan membuat Debora dan Eyang lebih kaget lagi Roy malah memilih untuk pulang segera seperti ini.
"Tapi Roy kamu kan Masih cuti.. kanapa.." Belum juga Debora selesai berbicara Roy langsung saja meninggalkan mereka di teras itu.
Eyang dan Debora saling pandang tak tahu harus melakukan apa. "Bora sayang kamu susullah Roy dulu bicarakan ini baik baik ya.." Ucap Eyang dan Debora dengan sedikit berlari menyusul Roy..
Roy..
koment donk readers apa tangapan kalian silahkan koment...
__ADS_1