AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 332


__ADS_3

"Dion.." Pekik Debora.


"Jadi malam ini bermalam di sini lagi ya..!" Ajak Dion.


"Issshh gak mau.. Aku mau pulang.."


"Ini kan rumah kamu juga.." Balas Dion.


"Gak.. Aku mah pulang.. Sore ini kamu antar aku pulang.." Ketus Debora.


"Haaahh.. Oke sayang.. Oke.. Karena aku cinta kamu.. Apapun akan aku lakukan untuk kamu.. Tapi.. Cium dulu..!" Dion menunjuk bibirnya.


"Isshhh kok cium sih.. Tadi itu apa....?" Balas Debora sengit.


"Tadi main.." Balas Dion membuat Debor bungkam.


"Cium dulu.. Masa gak mau cium aku.." Dion menanyunkan bibirnya.


Cup..


Akhirnya Debora mengecup bibir yang nakal itu. Bibir yang sudah menjelajahi tubuhnya dengan kelembutannya.


"Makasih.." Debora kira Dion akan menahannya seperti di film film yang ia tonton.


"Mau apa lagi sayang..?" Dion menatap binar mata Debora.


"Gak ada.." Sarkas Debora.

__ADS_1


"Aku mau pake baju.." Sahut Debora lagi.


Hendak turun tapi Dion menarik tangan Debora lagi. "Kan aku belum cium kamu.." Tanpa menunggu jawaban Debora Dion lagi lagi menyatukan bibir mereka.


Debora sangat senang merasakan bibir itu lagi. Dion memang pandai membuat Debora merasa melayang layang.


"Biar aku ambilkan bajumu sayang." Dion turun dari tempat tidur dengan tubuh polosnya dan memunguti baju Debora.


"Dion.. Kamu gak geli, atau malu gak pake baju di depan aku..?" Debora malu memandang Dion yang sedang polos ini. Karena matanya pasti tertuju pada 'benda itu'


"Hehehehe.. Sayangku sayangku.." Dion menyerahkan baju dan semua pakaian Debora.


"Bukankah kamu sudah merasakan semuanya.. Kamu juga sentuh semuanya.. Kamu juga jil..." Debora membungkam mulut Dion dengan telapak tangannya.


"Dion..!"


Cup.. Cup.. Cup.. Cup..


"Dion.." Panggil Debora lagi. Kali ini terdengar serius.


"Apa sayang..?" Tetap dengan panggilan sayangnya.


"Kenapa kamu mau sama aku.. Kamu tahu sendiri kalau aku.." Debora tiba tiba merasa malu telah lancang dengan Dion.


"Kamu apa sayang.. Kamu janda. Kamu di tinggal suami.. Kamu hamil anak dari pernikahan kamu sama Roy..?" Rentetan pertanyaan Dion.


"Eeemm'eemmm"  Debora mengangguk.

__ADS_1


"Emang aku bilang aku mau yang perawan...? Emang aku bilang aku mau yang masih lajang? Aku gak mau sama wanita yang sedang mengandung..?" Debora mengangkat wajahnya menatap Dion.


"Gak..!" Tekan Dion.


"Aku cari.. Yang aku cinta.. Yang aku pilih.. Yang aku sayang.. Mau kamu bekas istri orang lain kah..! Mau kamu lagi ngandung anak mantan suami kamu dulukah..! Aku sudah terlanjur cinta.. Maaf.. Aku gak akan bisa lepaskan kamu.. Kamu sudah jadi milik aku.. Sejak semalam.." Dion mengangguk anggukkan kepalanya.


"Di.. Dion.."


"Aku gak peduli orang mau bilang apa tentang aku.. Karena yang aku lakukan aku rasa gak salah.. Aku mencintai wanita, bukan istri orang.. Aku tidur sama wanita yang sudah gak ada ikatan sama laki laki lain.. Gak ada salahnya kan..!?" Debora mengangguk setuju.


"Dan masalah kamu hamil.. Stop mikir itu.. Karena, mulai sekarang.. Ini anak aku..!" Tekan Dion sekali lagi.


"Ini anak aku.. Dan kamu.. Aku bahkan sudah persiapkan nama untuk dia.. Hai baby.." Dion menempelkan pipinya ke perut Debora.


"Nama..?" Debora sendiri saja belum menyiapkan nama untuk calon bayinya nanti.


"Iya... Mau tahu ya...? Gak boleh.. Nanti tunggu dia lahir.. Langsung aku kasih nama yang aku buat untuknya. Sebentar lagi kok.." Dion mengelus perut buncit itu lagi.


"Dion.." Debora terharu.


"Sayang jangan nangis aahh.. Kok malah nangis.. Bukannya senang.. Malah nangis." Dion menghapus air mata di pipi Debora.


"Makasih.." Debora memeluk tubuh Dion.


"Iya apa yang buat kamu.. Sudah.. Gak usah nangis.. Ini perintah sayang..!" Tegas Dion lagi.


Debora...

__ADS_1


__ADS_2