AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 112


__ADS_3

Tok tok tok


"Iya masuk.." suara Eyang dari dalam kamarnya.


Roy membuka pintu dan melihat sang Eyang sedang memijat kakinya sendiri.


"Roy masuk ya Eyang.." Eyang hanya mengangguk, Roy pun masuk.


"Eyang kakinya sakitkah..?" Roy berjongkok dan ikut memijiti kaki Eyang.


"Gak juga, tumben kamu ke sini.. Kenapa..?" Eyang yakin Roy pasti punya alasan untuk datang lagi menemuinya.


"Eyang.. Aku mau minta maaf, aku memang salah, aku kayak anak kecil yang minta di belikan permen. Roy sudah minta maaf sama Hery dan Rena, sekarang tinggal Eyang yang belun memaafkan Roy.." Eyang menatap wajah cucu kesayangannya itu.


"Roy memang gak sabaran.. Harusnya Roy sabar sedikit. Bukanya malah merepotkan Eyang.. Apalagi buat Eyang kesal dan marah sama Roy.. Maafin Roy ya Eyang.." Roy lebih mirip seorang anak yang sedang sungkem dengan orang tuannya.


"Eyang mengelus kepala Roy, "Roy, kamu tahu kan Eyang gak bisa lama lama juga marah sama kamu, semarah apa pun Eyang sama kamu gak akan bertahan lama, hari ini juga liat kamu sama Debora ke dokter sudah buat Eyang senang, di tambah lagi Debora pulang dengan bahagia, Eyang juga ikut bahagia Roy.." Eyang tersenyum dan itu sangat melegakan Roy.


Roy memeluk Eyangnya. Rasanya nyaman sekali. Berharap kebahagiaan seperti ini akan terus datang padanyan.


***


"Haahh selesai.. Sekarang kita tidur dan besok kita bisa langsung berangkat dehh..".Hery merengangkan tubuhnya dan bersandar di sofa di samping Rena.


"Capek..?" Rena mengelus dada Hery.


"Gak capek kalau sama kamu, apalagi di ranjang..." Hery mengecup Rena dengan penuh cinta.


"Papa nakal..." Rena mencubit pipi Hery gemasnya.


"Ya donk.." Sangat harmonis dan romantis.


Rena melihat barang barang bawaan Hery. Kadang ia mengelengkan kepalanya sendiri.


Rena kini merasa di cintai dan kekurangan perhatian, kerna perhatian dan cinta yang Hery berikan saja sudah banyak bahkan lebih dari cukup untuk Rena. Di tambah lagi kelakukan random Hery yang tak ada habisnya.


Yang paling menabjukkan dan tak terkira, Hery mau menerimanya dan anaknya juga, Rena pikir tidak ada laki laki yang mau menerimanya dalam kondisi seperti itu. Tapi ternyata anggapannya itu salah, Hery adalah laki laki pertama yang mencintainya tanpa alasan.

__ADS_1


"Ayo kita tidur sayang.. Aku lelah..." Rena meminta pada Hery.


"Aahh iya sayang, belum lagi besok kita harus melakukan perjalan jauh. Ayo kita istirahat..." Hery mengendong Rena dan membawanya ke kamar.


***


Ceklek..


Roy membuka pintu kamarnya, ia melihat Debora sedang memainkan ponselnya, tiba tiba hati Rpy terasa panas, ia kembali ingat kalau Debora duku juga, sering memainkan ponselnya seperti ini dan ternyata Debora menghubungi John sang kekasih.


Tapi saat Roy masuk Debora seperti tidak mendengarnya dan tetap fokus pada layar ponselnya. Di telinganya juga ada headset yang terpasang.


Oleh karna itu Debora tidak mengetahui Kalau Roy masuk dalam kamar. Dengan santai Roy mendekati Debora dan melihat apa yang sedang Debora lakukan.


Ternyata Debora menonton chanel di ponselnya untuk masalah kehamilan, Roy memiringkan kepalanya, Lalu matanya tersipit dengan sendirinya.


Hanya video yang bisa Roy tonton, suaranya tidak ada maka Roy tidak tahu apa yang sedang di dengar Debora.


Roy menoleh ke samping Debora, ada ramuan yang sudah setengah gelas di minum Debora. Roy memiringkan kepalanya lagi.


"Apa Roy..?" Dan suara video Debora pun terdengar oleh Roy.


"Jadi moms, menjaga calon anak kita itu cukup mudah kan.. Silahkan moms untuk mempraktekannya di rumah dan selalu berdua untuk kesehatan kehamilan kita ya.." Kurang lebih seperti itulah suara dari video tersebut.


"Ini minum apa..?" Roy menunjuk Gelas yang berisi minuman mirip jamu jamuan itu.


"Ini obat penyubur kandungan juga Roy. Ini sama kayak yang kamu tanya tadi.. Kalau yang tadi kan kapsul, yang ini sejenis jamu di larutkan gitu di air hangat.." jelas Debora.


"Oohh.. Gitu.." Roy mengangguk paham.


"Oh ya.. Mana minyak rambut kemarin malam yang kamu pasangkan di kepala aku..?" Debora gelabakan mencarinya di meja riasnya.


"Ini.." Debora memberikan vitamin rambut yang di maksud Roy minyak rambut.


"Eemmm pasangkan..!" Titah Roy. Ia pun duduk di karpet bulu di lantai tempat tidur mereka.


"Ooohhh iya..." Debora pun duduk di tepi ranjang dan memasangkan vitamin rambut itu pada Roy.

__ADS_1


Debora merasa grogi memasanngkan vitamin rambut itu, entah kenapa ia bisanya malu pada Roy seperti ini. Seakan baru kenal Roy.


"Pijit yang bagus.." titanya lagi.


"Oohh ya.. Ya.." Debora terus memijit kepala Roy.


"Eeeemmmm.." Roy memejamkan matanya seperti mengantuk.


"Roy kalau kamu ngantuk tidur aja di sini.." Tawar Debora.


"Tapi aku masih mau di pijit..." Sahut Roy dengan suara malasnya dan bercampur ngantuk.


"Ya aku tetap lanjut pijitlah tapi kamu bobo di atas sini..." Roy pun bangkit dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Debora terus memijit kepala Roy. Debora ingin melakukannya sampai Roy benar benar tertidur. Tapi entah mengapa Debora juga ikut mengantuk seperti Roy.


"Bobo sudah.." ucap Roy tiba tiba. Debora terkejut karna ia kira Roy pun sudah terlelap tapi ternyata belum.


"Aku masih pijit kamu Roy.." Tolak Debora dan membuka lebar matanya lagi.


"Kamu ngantuk itu, aku liat kok.." Roy memperbaiki posisi baringnya.


"Bobo.." Ucap Roy lagi.


Debora mengangguk dan membaringkan tubuhnya di samping Roy. Tak lama kemudian Debora pun tertidur. Roy masih membuka matanya lebar lebar dan menatap Debora yang sudah terlelap terlebih dahulu.


"Ini wanita yang aku cintai dulu, yang aku perjuangkan, aku berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkannya. Apa dia akan tetap seperti itu? Apa dia Debora yang aku kenal? Atau dia Debora yang lain.." Pikir pikir Rpy saat menatap Debora seperti ini.


Tak bisa di bohongi kalau Roy masih mencintai Debora, tapi rasa takut untuk terhianati lagi menganggunya.


Wajah cantik Debora juga terus membayangi Roy. Apalagi senyum Debora yang sekarang lebih bersih dan tak ada kepalsuan. Roy rasa itu bukan senyum Debora satu tahun belakangan ini. Ini senyum betahun tahun yang lalu. Senyum yang membuat Roy jatuh cinta padanya.


"Baikalah jika memberinya kesempatan bisa membuatku bahagia, dan semua orang di sekitarku bahagia, maka aku akan mencobanya... Mungkin aku harus mendengarkan Hery..." Roy mengagguk yakin


Roy tersenyum lalu setelah itu juga menyusul Debora dalam mimpi dan menunggu pagi yang baru menyapanya.


Off dulu ya... Ingat komen dan likenya. Kasih hadiah pisau, sofa, atau love love gitu guys.. Pengen nyoba juga rasanya itu kayak apa.. Hehehehe...

__ADS_1


__ADS_2