
Roy rupanya hanya mengetes Debora Apa Debora masih sama seperti yang dulu.
Roy melihat ada Debora yang Berbed tapi ia juga tidak tahu apa itu hanya tipuan atau memang benar Debora sudah berubah.
Roy hanya menanggapinya biasa saja, berharap Debora hanya sedang menipunya.
Tok tok tok..
Suara pintu kamar Roy dan Debora di ketuk, Debora bangkit dan membukakan pintu.
"Maaf nyonya makan malam sudah siap" Ucap sang pembantu.
"Eeem ya nanti saya dan tuan turun.." Jawab Debora.
"Roy.. Kata bibi makan malam sudah siap, apa kamu mau makan di kamar atau di bawah di meja makan..?" Tanya Debora penuh perhatian pada Roy.
"Eemm di kamar aja.." Roy bangkit dan membuka jam tangannya, bajunya dan menyalakan AC.
"Ya nanti aku antarkan ya.." Debora pun keluar dari kamarnya.
"Semoga dengan usaha aku rubah diri aku ini, Roy mau terima aku lagi, aku siap berubah, aku mau jadi istri yang Roy sayang lagi, aku gak akan hianati Roy, tapi kalau dia minta aku terima Rena atau anaknya aku gak akan terima..." Gumam Debora saat menuruni tangga menuju meja makan.
"Eh bi.. Eyang mana..?" Debora tak melihat keberadaan Eyang di meja makan, biasanya Eyang yang terlebih dahulu di meja makan dan menunggu kedatangan Debora dan Roy.
"Itu Nyonya, Eyang bilang dia mau makan di kamar aja, ada bi Leli yang temani Eyang di kamar." Ucap Bi Mila.
"Ooohhh ya bi.. Tuan Roy juga minta makan di kamar, saya buatin dulu ya.." Debora menyiapkan piring dan serta lauk pauk untuk Roy. Debora memilih makanan makanan kesukaan Roy dengan harapan Roy mau makan.
Setelah merasa semuanya sudah maka Debora membawa makanan itu ke kamar. Sang Bi Mila melihat Nyonya mudanya itu, rasanya aneh saja melihatnya menyiapkan makanan untuk Tuannya sendiri, biasanya sang Bibi yang menyiapkannya.
"Itu nyonya lagi jadi malaikat. Makanya bisa bicara sopan dan mau nyiapin makanan untuk tuan.." Bi Mila mengangguk anggukkan kepalanya sambil bergumam.
__ADS_1
"Roy.." Debora membuka pintu dan melihat Roy sedang duduk bersandar di headboard dan memainkan ponselnya, AC di kamarnya menyala dan membuat kamar ini terasa dingin.
"Kamu lagi apa..?" Debora menutup pintu dan membawa piring berisi makanan itu pada Roy.
"Ini, makan dulu... Aku ambil masakan kesukaan kamu.. Mau ya.." Debora memperlihatkan lauk pauk kesukaan Roy di dalam piring.
"Eemm ya aku akan makan.." berkata demikian tapi Roy tidaklah menyentuh makanannya.
"Roy nanti kamu masuk angin loo gitu.." Ucap Debora ketika melihat Roy hanya mengenakan kaos dalama iya berwarna hitam polos tapi AC kamarnya menyala.
"Gak apa apa kok.." Ucap Roy acuh.
"Ya udah aku turun ke bawah lagi.." Debora hendak pergi lagi.
"Kamu makan sama siapa..?" Roy bertanya dan membuat Debora terhenti lalu berbalik.
"Eeemm di bawah gak ada siapa siapa, Eyang makan di kamar, Kamu juga makan di kamar.." Jelas Debora.
"Aku boleh suapi kamu..?" Apa mungkin pendengaran kita salah atau memang Roy meminta Debora untuk menyuapnya.
"Ya kamu suapi aku.." Roy mengulangnya.
"Oohh ya ya... Aku suapi kamu.." Debora dengan segara duduk di tepi ranjang dan mengambil lagi piring Roy tadi.
Debora pun mulai menyuapi Roy seperti anak kecil. Roy makan dengan baik sambil bermain ponselnya. Debora terus tersenyum sambil menyuapi Roy, ia benar benar senang bisa sampai menyuapi Roy. Mungkin sebentar lagi rencananya berhasil.
"Kamu gak makan..?" Setelah memperhatikan Debora beberapa kali, Roy baru menyadari kalau Debora tak ikut makan bersamanya, tapi ia hanya menyuapi dirinya tanpa mengingat kalau Debora juga belum makan.
"Iya aku makan di bawah aja nanti, aku suapi kamu sampai kenyang dulu.." Ucap Debora. Roy cukup terkesan mendengarnya. Baru kali ini Debora sepeduli itu padanya.
"Aku sudah kenyang.." Roy menolak suapan terakhir.
__ADS_1
"Ya ampun Roy ini masih ada sedikit. Habiskan ya.. Satu aja lagi.." pinta Debora.
"Tapi aku sudah kenyang Debora. Kamu aja yang habisi." Pancing Roy.
"Ya udah aku abiskan dulu.." Debora mengumpulkan sisa makanan Roy yang ada du piringnya dan baru setelah itu ia menyuapkan ke dalam mulutnya.
Roy pura Pura tak melihat, padahal ia melihat semuanya dengan jelas. Pengalaman baru Roy melihat Debora mau mengikuti keinginannya.
Apa mungkin ini pertanda kalau hubungan Roy dan Debora akan kembali seperti dulu dengan berubahnya Debora. Niat Debora juga sudah bagus, ia mau berubah dirinya meskipun tak tetap tak bisa berdamai dengan Rena. Bagaimana pun juga Debora masih resah dengan keberadaan Rena, meskipun Rena sudah menikah dengan Hery.
Debora tetap takut Roy akan berpaling lagi dan memilih Rena, atau yang Debora takutkan Roy nekad mengambil anak Rena dan membawanya, maka otomatis ia harus menerima anak Rena dan Roy, hasil cinta mereka kemarin. Debora tidak mengharapkannya meski ia memang salah memberi ide itu.
Debora melanjutkan makan lagi di meja makan, tak ada yang menemani Debora, hanya ia sendiri. Roy diam diam memperhatikan Debora dari jauh, Debora makan dengan diam, tak ada yang ia gibahkan atau yang ia komentarkan. Biasanya Debora sangat bergumam sendiri. Entah tentang apa dan siapa yang ia bicarakan. Atau yang lebih seringnya lagi ia makan sambil telponan. Entah dengan siapa Roy pun tak tahu.
Tapi kali ini Debora fokus makan dan sangat menikamati makanannya. Roy sepertinya mulai mengurangi rasa curiganya pada Debora. Mungkin yang Eyang katakan padanya benar, ia harus menerima Debora lagi.
"Aku lelah... Aku lelah terus seperti ini.. Aku lelah apa yang aku inginkan tak pernah aku dapatkan. Jika ini yang terbaik mungkin aku akan mencoba." gumam Roy.
Mungkinkah Roy benar benar percaya pada Debora. Jika ia maka Rena dan Hery bisa bernafas dengan lega.
***
Pagi baru menyambut. Rena membuka matanya dan melihat Hery masih di sampingnya, Rena memejamakan matanya lagi tapi memeluk Hery dengan Erat. Senang rasanya bisa bermanja manja dengan suami perjakanya itu.
Rena tersenyum sendiri saat mengingat hal semalam. Hery sangat manikmatinya begitu pula dengan Rena. Ia sangat puas. Rena juga sangat bersyukur mendapat suami yang tak pernah membiarkan tubuhnya di sentuh wanita lain.
Rena menatap Hery lagi lalu ia mengecup sang suami dengan lembut.
"Terima kasih Engkau telah mempertemukan kami, hamba sangat beruntung memiliki suami Seperti Hery, yang bisa menerima aku dan calon anakku. Lindungilah suamiku, berilah ia kesehatan untuk terus menjaga kami, umurĀ yang panjang agar bisa terus bersama kami." Doa pagi Rena hari ini. Semoga saja yang di doakan Rena di kabulkan oleh sang pencipta.
Off dulu kawan.. Like dan komen guys.
__ADS_1