AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 73


__ADS_3

Hery membukakan pintu unit Rena dan terlihatlah Roy sudah menunggu dengan tidak sabar.


"Kenapa kamu lama sekali bukain pintunya Her.. Mana Renanya aku mau ketemu dia.." Roy yang tak sabaran langsung masuk dan ingin menemui Rena secepatnya. Sampai di kamar Roy tidak melihat keberaan Rena di manapun, Roy berjalan ke kamar mandi mengira Rena juga ada di dalamnya ternyata tidak ada juga.


"Hery... Hery... Mana Rena.. Kenapa tidak ada..?" Hanya satu yang tahu pastilah Hery yang tahu karna tadi Hery yang bersama Rena.


"Aahh tadi ada di dalam kok.. Coba cari aja.." Ucap Hery menyusul Roy ke sana ke mari.


Terus mencari dan tak menemukan Rena Roy mulai panik dan kini ia mulai menyalahkan Hery.


"Her.. Rena kemana.. Kamu sama Rena gak sih dari tadi...?" Rasa marah Roy di tumpahkan Pada Hery.


Hery juga bingung dengan yang terjadi. Ia juga tidak bisa menjelaskannya pada Roy dalam kondisi ini.


"Roy tadi aku tinggalkan Rena di dalam kamarnya dan aku membukakan pintu agar kamu masuk, Dan Rena masih ada d sini Roy. Aku.. Aku juga gak tahu kalau sekarang Rena bisa gak ada." Hery membela dirinya.


"Rena... Rena... Rena... Ck.. Hery kalau terjadi sesuatu sama Rena dan anakku maka kamu yang akan salah..." Ancam Roy pada Hery.


"Kenapa malah aku... Bukannya kamu yang membuat Rena sedih seperti ini... Kamu dan Debora yang lebih tepatnya. Kamu enak enakan sama Debora semalam dan Debora berhasil rekam dan dia pamerin sama Rena... Kamu tahu Rena liat semuanya.. Dia liat kamu begitu menikmati tubuh Debora tanpa rasa bersalah sama Rena yang sekarang susah payah hamil anak kamu... Tiap pagi Rena harus sakitan, muntah muntah, mual mual, sakit kepala, gak mau makan.. Yang seharusnya kamu temani dia malah kamu enak enak sama Debora. Tapi kamu cuma bisa suruh aku liatin Rena dan ternyata kamu...? Roy... Please.. Jangan siksa Rena kayak gini. Coba kamu pikir anak yang di kandung Rena.. Dia itu gak bersalah..." Hery juga mengungkapkan semua yang ia ingin katakan pada Roy. Hery yakin Rena juga sebenarnya ingin mengatakan itu.


Dan sekarang bagaimana dengan Rena.. Dimana Dia..?


Tadi Sebelum membuka pintu Hery sempat memintanya menunggu biar Hery bicara dengan Roy. Rena cukup tunggu saja di dalam kamar. Tapi di luar dugaan Rena malah pergi lewat tangga darurat dari kamarnya menuju lantai bawah.


Rena menatap lantai di atasnya sekarang, rasa bersalah pada Hery ada, tapi Rena sangat ingin menyelamatkan dirinya dari Roy.


"Her... Maaf ya.. Kamu yang harus hadapi Roy.. Aku gak Bisa..." Ucap Rena saat di dalam lift kini turun ke lobi.


Saat tiba di depan lobi tiba tiba kandungan Rena serasa bergerak dan membuat Rena terdiam di tempat.

__ADS_1


"Kamu gak mungkin mau ketemu ayah kamu kan..." Rena memegangi perutnya, tidak ada lagi pergerakan dari kandungannya.


Kandungan yang sudah memasuki empat bulan ini seperti yang di katahui bisa berinteraksi dengan ibunya meski hanya dari gerakan kecil saja. Dan itu bisa melatih Bayi untuk mengingat suara suara yang ia dengar.


"Apa kamu khawatir dengan Uncle Herymu...?" Tiba tiba kandungan Rena bergerak lagi setelah mendengar Rena mengucapkan nama Hery.


Sepertinya kandungan Rena lebih hafal Hery dari pada ayahnya sendiri.


"Kamu benar nak.. Sepertinya kita sudah egois, kita dua tinggalin Uncle kamu sendiri hadapi ayahmu yang itu. Kita balik aja ya..." Rena pun putar balik dan naik dengan Lift kali ini.


Ceklek..


Rena membuka pintu unitnya dan melihat Hery sudah berlumuran darah dari sudut bibirnya dan keluar dan mengalir di dagunya.


"Hery...!!" Pekik Rena ketika melihat Hery sudah tak berdaya di lantai.


"Rena..." Suara Hery bergetar menahan rasa sakit yang ia rasa.


"Rena kamu ke mana... Jangan tinggalin aku..." Roy sangat sedih dan terharu menemukan Rena lagi. Rasanya ia tidak dapat bernafas jika tidak ada Rena.


"Roy...!" Bentak Rena tiba tiba.


"Rena...?" Roy melepaskan peluknya.


"Kamu gila kah.. Kamu apakan Hery... Kenapa Hery babak belur gini..?" Rena sangat marah melihat orang yang selalu ada untuknya malah di lukai seperti ini.


"Itu salahnya kenapa gak jaga kamu baik baik.." Marah Roy semakin menjadi jadi.


"Roy.. Aku yang pergi tanpa bilang sama Hery aku cuma minta dia buka pintu unit, dan aku kabur dari sini tanpa sepengetahuan Hery. Hery gak salah..." Rena juga berteriak pada Roy yang berteriak pada Hery.

__ADS_1


"Sudah Rena Roy.. Aku mohon sudahlah..." Akhirnya Hery membuka suaranya meski wajahnya meringis kesakitan.


"Hery..." Rena membantu Hery bangkit dan memdudukan Hery di sofa yang ada di dekatnya.


"Ngapain sih kamu bantu dia Rena.. Dia itu gak becus jaga kamu.." Roy masih marah marah pada Hery.


"Roy...!" Rena semakin Marah Juga.


"Bisa gak sih kamu pikir normal dulu... Aku yang gak mau ketemu kamu... Makanya aku pergi dari tangga darurat, padahal tadi Hery suruh aku tunggu di kamar.. Dan kamu malah salahkan Hery..? Roy aku yang salah.. Dan aku ngelakuin ini karna aku marah sama kamu.. Kamu.. Kamu ternyata masih sayang sama Debora..." Rena mulai menangis lagi.


"Rena aku..." Roy terpojok dan tak bisa mengelak tuduhan Rena yng telak itu.


Sedangkan Hery ia mengatur nafasnya yang tersenggal. Tapi tak luput dari pandangannya pertengkaran pasutri ini. Ada rasa senang ada juga rasa sedih dan tentu saja ada rasa sakit yang Hery rasa.


Hery bukannya tidak bisa melawan Roy jika ia mau. Hery memang sengaja membuat Roy emosi dan menganiaya dirinya agar Rena lebih simpati padanya.


Dan melihat pertengaran ini Hery yakin Rena dan Roy pasti tak lama lagi akan berpisah. Dan di situlah Hery akan menjadi Hero.


"roy kamu tahu, saat kamu gak ada Hery selalu ada untuk aku kalau aku kesusahan. Dia temani aku dan memastikan aku minum susu, makan teratur dan temani aku kalau aku ketakutan, dia juga selalu kuatkan aku walaupun aku sudah gak percaya lagi sama kamu Roy... Dan setelah liat ini semua mulai dari yang Debora kasih liat sampai kamu sendiri sama Hery, buat aku semakin yakin... Aku akan benci sama kamu Roy... Anak ini memang gak patut jad anak Kamu..." Rena sepertinya sudah tidak dapat menahan lagi apa yang ia selama ini rasakan.


Roy tercengang dengan yang di katakan Rena padanya.


"Rena.. Coba Dengarkan Roy dulu.. Aku mohon.." Hery berusaha melancarkan lagi rencananya.


"Apa lagi yang harus aku dengar Her... Aku ini gak buta dan mudah lupa dengan apa yang sudah aku lihat. Maaf jika aku gak punya kesabaran sebesar kesabaran yang Hery punya Roy..." Rena menutup kupingnya denga sedikit tangannya sendiri tak ingin mendengar lagi ucapan Hery maupun Roy.


"Rena... Aku mohon dengarkan Roy.. Sekali ini saja dan setelah itu terserah kamu mau apa.. Aku gak akan larang.." Hery bangkit dan meninggalkan unit Rena tapi Dengan Cepat Roy menghalanginya.


"Aku masih perlu kamu di sini Her..." Ucap Lirih Roy, dari yang Roy lihat Rena amu mendengarkan apa yang Hery katakan dan hanya Hery yang bisa berpikir Normal sekarang, Dan itu sangat di butuhkan Roy.

__ADS_1


Rena...


Aduh... Panjang nihh mau pingsan ngetiknya.. Like ya... Semakin banyak ni yang terjadi.. Makin pusing juga Auhtor hadapinya dan buatnya semenarik mungkin. Dukung Author ya.. dengan cukup Like dan kalau ada kritikan dan saran kalin silahkan tinggalkan di kolom komentar ya.. Like yang banyak di setiap bab dan episodenya Like ya... Kalau kalian suka dengan babnya itu gak ada salahnya like dengan satu pencetan.. di gambar 👍👍👍Oke gak tuhhh...


__ADS_2