
Dion dan Debora sudah di kamar mandi, berdua saja. Air dalam bathtube juga sudah di isi dengan air hangat. Dion yakim Debora kedinginan jika mandi air dingin pagi pagi begini.
"Sini sayang.." Dion meraih tangan Debora.
"Masa aku mandi sama kamu.." Debora masih protes sambil menutupi tubuhnya dengan tangannya.
"Ya emang mau mandi sama siapa.. Sama Puma...?" Tanya Dion.
Debora memicingkan matanya. "Siapa lagi Puma..?" Debora tidak merasa mengenali nama itu.
"Anjing aku.." Sahut Dion santai.
"Eeeemmm!" Geram Debora lagi.
"Sudah sini.." Dion membawa Debora bersamanya masuk ke dalam bathtube.
"Aaahhh.. Nikmat'kan..?" Tanya Dion
"Astaga..!" Debora menepuk jidatnya.
"Kenapa..?"
"Gak usah berdua.. Malu.." Debora merasa risih bersama Dion seperti ini.
"Malu.. Sudah ku cicipi semuanya.." Oceh Dion lagi.
"Ck.." Debora mencubit lengan yang melingkar di perutnya.
"Aawww.." Merasa sakit di lengannya membuat empunya meringis.
"Oke oke.." Dion mencari posisi yang nyaman untuknya bersandar dan membawa Debora bersandar di dadanya.
__ADS_1
"Nyaman..?" Dion melirik Debora di tubuhnya.
"Eeemmm" Debora memejamkan matanya.
Sejenak Ia juga ingin merasa nyaman, tenang, dan damai karena ada yang melindunginya.
Sudah lama sekali rasanya Debora tak seperti ini. Di manja manja dan di berikan semua yang ia inginkan. Masih ada rasa ingin tentunya meski ia tengah mengandung. Rasa itu tetap ada dan tak akan luntur.
Tapi sebisa mungkin Debora menahannya sampai seorang Doin Wigara berani menyentuhnya, menjamahnya, membuat surga untuk mereka berdua.
Nyaman. Satu kata yang Debora dapat dengan bersama Dion seperti ini. Hingga tangan ini tidak bisa menahan diri untuk tidak mengelus dada indah tempat sandarannya.
Seulas senyuman di bibir tebal Dion. Merasakan gerakkan gerakkan kecil Debora padanya.
Cup.
Satu kecupan di puncak kepala Debora membuatnya mendongak ke arah Dion.
Tanpa menunggu lagi, Dion memangut bibir manis bersama bibir tebalnya. Tak mendapat tolakkan membuatnya semakin gencar meresapnya.
Tangannya meraba punggung Dion. Kulit mulus ini sangat memanjakannya. Karena terlalu hanyut, Debora pun membalas yang Dion lakukan pada bibirnya.
"Eeemmhhh" kali ini Dion yang meleguh.
"Aaahh" Pengutan itu lepas sebentar.
"Sayangku.." Dion panggil Dion pada Debora.
Debora tak menjawabnya tapi ia langsung memeluk tubuh Dion. Itu sudah cukup untuk membalas panggilan Dion tadi.
"Aku menginginkan kamu sayang.." Bisik Dion dengan suaranya yang sudah parau.
__ADS_1
"Eeemmm" Kali ini Debora mengangguk mengiyakan. Hati Dion berbunga bunga di buat satu jawaban pendek itu.
Di bawanya lagi Debora ke tempat tidur. Keduanya tak memikirkan bagaimana keadaan tempat tidur itu, entah kelelahan karena semalam atau ikut kebasahan karena keduanya, yang pasti keduanya menikmati pagi yang indah ini. Berdua lagi di ranjang.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hery.. Aku sudah tahu tentang Colin.." Hery, Rena, Adel dan Bisma sedang berkumpul bersama saat ini di teras belakang rumah Bisma.
"Kamu tahu..? Baguslah.." Hery tampak biasa saja.
"Aku.. Mau bawa Olin ke Mama.. Apa boleh..?" Bisma merasa mendapat persetujuan dari Hery sangatlah penting untuk keinginginannya ini.
"Mama..? Olin..? Tapi Kak.. Kamu tahu sendiri.. Mama kan gak suka Olin. Aku takut.. Nanti Olin kecewa.." Hery ingat betul saat Olin bertanya tentang ibunya. Hery tidak menceritakannya dan itu saja sudah membuat Olin kecewa, apalagi kalau ia tahu ia tidak di harapkan di dunia ini oleh sang ibu.
"Dia sudah kecewa.. Berkali kali ia kecewa.." Sambung Bisma lagi.
"Maksudmu..?"
__ADS_1
"Aku..
maaf ya upnya kesiangan.. sayang kalian para pembaca..