
Hery bingung harus melakukan apa, jika ia menolak pelukan Rena, tapi Rena sedang butuh dukungan dan orang yang siap mendengarkannya meski harus dengan posisi yang seperti ini. Jika Hery meneruskan tapi ini adalah Istri dari temannya dan juga bosnya.
"Rena..." Hery mengerakkan tangannya ingin memeluk Rena balik tapi di urungkan lagi.
Tangis Rena semakin menjadi jadi. Tak memperdulikan Hery yang mati kutu tak bisa melakukan apa apa.
"Kalau aku peluk, nanti Roy marah, kalau gak peluk Rena sedang butuh aku, oohh ya ampun... Tuhan tolonglah hambamu ini...." Batin Hery meronta ronta.
Tak tega dengan Rena yang terus menagis Hery pun mengelus elus punggung Rena dengan halus.
"Rena... Tenanglah, apa yang kamu khawatirkan? Roy adalah suamimu, dan kamu sedang mengandung anaknya, sedangkan Debora dia hanya mengandung anak laki laki lain. Kamu memiliki Roy sepenuhnya Rena..." Sambil terus mengelus punggung Rena, Hery memberikan semangat dan dukungan dan berusaha untuk menghiburnya sebisanya.
"Hery... Anakku... Kasian anakku.. Dia nanti gak punya ayahnya... Aku yakin, Roy pasti akan memilih Debora dan Eyangnya, aku sadar Hery, aku sadar... aku ini hanyalah wanita simpanan. Anakku tidak akan memiliki ayah, kasian dia.. Dia pasti sedih, dia dia..Hiks.. hikss..." Tangis Rena samakin menjadi jadi di dalam pelukan Hery.
Dengan cepat Hery menangkup wajah Rena dan membuatnya menantapnya. "Rena jangan berpikiran seperti itu, anakmu itu sangat kuat dan hebat. Tanpa ayahnya pun anakmu akan menjadi seorang yang hebat." Ucap Hery menatap Rena dengan dalam.
"Hery..." Rena menangis lagi Hery pun memeluknya lagi untuk menenangkan Rena.
Sementara itu di rumah sakit, Roy risi dengan Debora yang berbaring di pahanya. Dengan perlahan Roy meletakan Kepala Debora di sofa dan bengkit meinggalkan Debora dan sang Eyang di ruangan tersebut.
Roy berjalan ke taman yang ada di rumah sakit itu dan mendudukkan diri di salah satu kursi kayu yang ada di taman itu. Roy mengusap Wajahnya dengan kasar. Nasibnya sungguh buruk, semua ini terjadi begitu cepat dan tak terduga.
"Selamat malam tuan Roy..." Sapa seseorang dari belakang Roy.
Roy menoleh dan menemukan Dion Wigara berdiri tegak di belakangnya.
"Dion..." Gumam Roy ketika mengetahu siapa yang menyapanyq malam malam begini.
__ADS_1
"Kenapa anda di teman yang gelap ini?" Tanya Dion lagi dan maju berjalan ke arah Roy.
"Hem.. Kamu juga berada di Taman yang gelap ini kenapa?" Tanya balik Roy pada rivalnya dalam masalah kekayaan.
"Ayahku sedang sakit, jadi aku menjaganya, tapi aku tidur di dalam ruangan perawatan ayah, jadi aku keluar sebentar.." Jawab Dion seadanya.
"Ooohh... Tunggu.. kamu punya...?" Roy mendelik dan menatap tak percaya Dion.
"Iya aku punya kok..." Jawab Dion lagi dan tahu apa yang ingin ditanyakan Roy padanya.
"Tapi bukankah...?" Roy masih tak mengerti.
Dion hanya tersenyum, "Apa boleh aku duduk di sampingmu juga. Sepertinya menyenangkan jika aku duduk denganmu, aku sangat banyak yang ingin aku ceritakan tapi aku tidak punya teman cerita." Ucap Dion lagi bukanya menjawab pertanyaan Roy.
"Iya silahkan..." Roy dan Dion pun duduk di kursi Kayu panjang tersebut.
"Kamu tanya apa tadi?" Dion malah menanyakan lagi.
"Hehe.. Iya aku punya..." Jawab Dion lagi masih dengan senyum di bibirnya.
"Tapi bukankah...??" Apa ini sangat membungingkan Roy. Karna setahu Roy tidak seperti ini sebelumnya.
"Iya aku tahu... Kamu pasti bingung. Aku punya ayah, Ayah tak sedarah pun tak apa..." Senyum Dion masih mengembang dengan lebar.
"Kamu...." Roy tak percaya hidup Yang di tempuh Dion begitu berat dan sangat jarang di temui di dalam diri orang lain.
Dion anak dari seorang p*l*c*r di klub malam, anak pertama lebih tepatnya. Sering di bully, di tindas dan di beda bedakan dengan anak anak yang berstatus anak ibu dan ayah, sedangkan Dion dan saudara saudarinya pasti selalu mendapat hinaan tiap harinya. Dion meranjak dewasa dan dia sudah belajar banyak hal tentang dunia ini. Hingga tidaklah sulit Dion menjadi salah satu pengusaha yang terkenal juga saat ini, tapi pintarnya Dion lagi, dia sama sekali tida memberitahukan sang ibu kalau ia adalah seorang pengusaha hebat. Hanya dia dan adik adiknya saja yang tahu.
__ADS_1
Dan yang Roy tahu Dion tidaklah tahu siapa sang ayah, batang hidungnya jugaia tidak tahu. Tapi lihatlah Dion sekarang dia sangat di segani, berkuasa dan lebih tegar dari pada batu karang.
"Ayah yang kamu maksud adalah...?" Roy masih mencari tahu.
"Ayah yang sedang aku jaga adalah ayah Diana dan Dario. Dia adalah ayah kandung mereka. Diana dan Dario tidak mau menerimanya meski ia sudah meminta maaf sejak lama, sedangkan ayahku, aku tidak tahu siapa, tidak tahu apa ua masih hidup atau sudah tidak ada, entah ia tinggal di mana, dan saat aku melihat ayah dari Diana dan Dario, aku merasa iba. Aku yang tidak tahu seperti ayahku pun menganggap ayah Diana dan Dario adalah ayahku juga, dan ayah juga mau menerima aku walaupun ia tahu aku tak sedarah dengannya. Sudah lama Diana dan Dario mengetahui ayah mereka, tapi mereka tidak ingin menerimanya sebagai ayah, awalnya aku juga sedih dan juga membencinya, tapi lama kelamaan aku juga iba padanya, karna di sudah berjuang untuk mendapatkan hati kedua anaknya tapi tetap kedunya menerimanya. Oleh sebabnya itu aku menerimanya sebagai ayahku. Dan dia juga menerima aku sebagai anaknya. Dan sejak itu aku dan ayah Iban menjadi dekat, dan ya seperti itulah.." Ucap Dion mengakhiri ceritanya.
"Ooohh... Begitu.." Roy baru paham.
"Kalau kamu tumben ada di rumah sakit, biasanya semuanya pribadi?" Kinj gantian Dion yang bertanya.
"Aku... Eyangku yang sakit, tadi sora masuk rumah sakit di bawa asisten rumah tangganya." Ucap Roy menjawab juga laki laki yang ia interogasi barusan.
"Ooohh.. Untung cepat di bawa ya... Dan kita jadi ketemu di sini..." Ucap Dion lagi tapi tatapannya terus menatap tempat gelap di depannya.
"Roy... Sayang..." Panggil seseorang lagi dari belakang Roy dan Dion.
Keduanya sontak menoleh dan mendapati Debora celingak celinguk mencari Roy. "Cih... Wanita ini..." Roy kembali kesal mendapatu Debora mencarinya.
"Roy... kamu sedang apa di tempat gelap seperti ini. Anginnya juga tidak sehat. Masuk yukk..." Ajak Debora dengan sok lembut, dan menyadari ada seseorang di samping Roy dan membuat semuanya tampak baik baik saja.
"Masuk aja sana, aku masih mau di sini..." Ucap Roy acuh dan tak menoleh lagi ada Debora. Dan Dion hanya menjadi pendengarnya.
"Roy kasian looo anak kita ini.. Masa dia kedinginan seperti ini..." Debora sok manja di hadapan Roy dan teman di sampingnya itu.
"Kamu..." Roy ingin membentak Debora tapi ia mengingat kalau ada Dion di dekatnya, karna tak ingin di cap buruk di hadapan Dion, Roy pun bangkit dan berpamitan dengan Dion. "Aku duluan..." Pamitnya singkat.
Dion...
__ADS_1
off dulu kawan... sssttt.. ssttt.. like donk kalau mau tahu kelanjutanya... Dan mampir juga novel Budak cinta sang mafia yang sudah masuk masa masa serunya, maaf ya kalau ada sedikit pertumpahan darah di novel itu, karnakan genrenya mafia jadi harus sadis sedikit heheheh...
Selamat datang untuk pembaca baru dan pembaca setia author.. Semoga novel novel author sesuai genre readers ya... Oh ya ada satu lagi novel, judulnya Dendam 10p kilogram.. Mampir ya..