AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 80


__ADS_3

Roy menatap Hery dan Rena dengan sendu. Harusnya posisi Hery saat ini adalah posisinya. Posisi saat menemani Rena berbelanja apa yang ia inginkan, memilihkan baju yang di inginkannya. Apa lagi itu untuk persiapan kehamilan Rena sendiri.


Hery yang pertama menyadari kehadiran Roy dan yang lainnya tak jauh dari mereka.


Hery berbicara perlahan pada Rena. "Rena.. Kamu berbalik dan tersenyum lebar ya.. Jangan takut.. Kalau kamu takut akan terlihat aneh. Kamu langsung gandeng aja tangan aku ya..." Rena mendengarnya dengan jelas.


Ia pun berbalik dan menemukan apa yang Hery juga temukan di belakang mereka.


"He.. Hery..." Rena menggigit bibir bawahnya.


"Rena gandeng aja aku..." Titah Hery.


Roy melihat dengan jelas kalau Hery sedang memerintahkan Rena meski tidak terlihat jelas tapi Roy sangat paham bagaimana Hery memberi perintah tanpa menggerakan bibirnya seakan hanya tersenyum manis. Tapi orang di dekatnya saja yang bisa mendengarnya.


Dengan segera Rena mengandeng Hery, Rena lalu menatap Hery. Hery menganggukan kepalanya. Mereka pun mendekati Roy dan yang lainnya.


"Wah.. Pasangan satu ini gak di rumah gak di Mall ya.. Romantisan terus..." Ledek Eyang pasa Hery.


Seperti yang di perintahkan Hery Rena tersenyum manis kenapa Eyang. Meski sebenarnya ia tidak mengetahui apa yang di bicarakan mereka.


"Iya Eyang kan calon pengantin baru..." Debora menambahkan.


Hery benar benar kesal pada Debora yang asal bicara saja. Rena juga semakin mengeratkan gandengannya pada Hery.


"Kalian juga belanja belanja ya..?" Hery mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya.. Aku dan Eyang berbelanja perhiasan..." Debora yang menjawab.


"Oooo..." Bibir Hery membentuk huruf O.


"Eeemm kami bayar dulu ya.. Belum di bayar tadi.." Hery menarik lagi Rena ke tempat mereka memilih baju.


"Rena.. Nanti aku jelaskan ya.. Aku mohon jangan.." Rena langsung memotong ucapan Hery.


"Hery.. Sepertinya aku mengerti..." Setelah mendengar ucapan Debora tadi sepertinya Rena mengerti.


"Rena.." Hery prihatin.


"Aku gak apa apa Her.. Mungkin memang baik kalau aku lepas dari Roy..." Rena tetap tersenyum pada Hery meski hatinya terasa sesak.


"Terima kasih..." Hery menenteng belanjaan mereka dan ternyata Roy dan yang lainnya masih menunggu mereka.


"Apa kalian tunggu kami berdua...?" Hery masih sibuk dengan belanjaannya dan kartu ATMnya yang berwarna gelap. Mata Debora membulat melihatnya.

__ADS_1


"Iya.. Ayo kita makan siang bersama.. Mau kah?" Eyang bertanya dulu.


"Eeemm itu mungkin agak susah Eyang tapi Rena harus istirahat Eyang.. Aku gak mau dia kecapean jalan jalan di Mall..." Kilah bohong Hery.


"Ooohhh iya ya.. Kalau umuran gini tu memang harus banyak istirahat. Hery kamu beli sayuran hijau kan.. Kayak bayam, dan lain lainnya kan..?" Eyang juga memperdulikan kondisi Pacar Hery ini. Menurutnya..


"Iya Eyang kulkas kami penuh dengan sayur kok.. Rena juga sangat suka sayur sayuran.." Eyang sangat suka dengan ketelatenan Hery menjaga pacarnya.


"Iya Hery... Kamu harus jadi suami siaga satu ya..." Eyang meledek Hery. Hery juga mengiyakannya dengan mengangguk anggukan kepalanya saja.


"Ya udah Eyang kami duluan ya.. Selamat bersenang senang.." Pamit Hery dan segera pergia dari hadapan Roy berserta Eyang, kalau Debora tak masuk hitungannya.


"Ayo kita makan siang..." Eyang menenteng cucu cucunya itu untuk makan siang bersamanya.


Roy menoleh kebelakang tepat ke arah Rena dan Hery yang berjalan berlawanan arah dengannya. Hanya bisa memandangi punggung Rena. Tak sedikit pun Rena berbalik melihat ke belakang. Ia tetap berjalan, paling bila menoleh hanya menoleh pada Hery di sampingnya.


"Hery jaga dia..." Doa itu terus Roy ucapkan dalam hatinya.


***


Rena dan Hery baru tiba di apartemen, sebisa mungkin Rena bersikap biasa saja seperti tidak ada yang menganggu pikiran dan hatinya.


"Hery sini balanjaanku tadi.. Aku akan mencucinya dulu.. Jadi nanti malam bisa aku pakai saat malam ini.. Aku ingin langsung memakainya.." Rena pura pura bersemangat.


"Hery.. Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan itu.. Kenapa kamu berusaha menghibur tembok ini.. Kenapa kamu ingin mengubah kedatarannya.." Rena tak habis pikir.


Rena kembali ke kamarnya. Ia menganti bajunya dan memakai baju yang lebih luas dan bebas untuk bergerak. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tidak ada rasa mengantuk atau lelah yang Rena rasakan hanya rasa ingin tahu yang ia rasakan.


Sudah beberapa menit berlalu tapi masih juga tidak ada rasa lelah atau kantuk untuk Rena. Maka ia bangun lagi dari baringnya dan memilih untuk mencari Hery saja. Rena tak ingin terus penasaran dengan kenyataannya.


"Hery..." Rena membuka pintu kamar tempat Hery tapi ia tidak menemukan Hery di dalamnya, Rena ke ruang tengah jug tidak ada. Di dapur juga tidak ada.


"Apa dia masih mencuci..?" satu satunya tempat yang terakhir Hery tuju.


Ternyata Hery masih di dalam kamar mandi dan masih cucian baju baju baru yang ia beli di Mall tadi.


"Hery..?" Rena membuat Hery terkejut terlonjak.


"Rena... Kamu bikin aku kaget.." Hery memegangi dadanya. Hery hanya mengenakan kaos hitam polos dan celana panjang yang ia kenakan tadi.


"Maaf... Hery kamu belum selesaikah?" Rena ragu ragu menanyakannya.


"Aku sedang mengeringkan bajuku dan merendam baju kamu pakai pewangi... Biar wangi gitu.." Senyum Hery sangat manis dan sejuk bila di pandang seperti ini.

__ADS_1


"Eeemm aku bantu boleh..?" Rena sebenarnya bosan tidak ada pekerjaan.


"Eh jangan ini licin.. Takut kamu kepeleset.." Hery memperingatkan.


"Terus aku ngapain Her.. Aku bosan.." Rena mengeluh.


"Iya kamu... Apa ya...?" Hery juga bingung apa yang bisa Rena lakukan.


"Nanti aku yang jemur aja ya..." Pengeringan baju Hery juga sudah selesia. Rena pun berinisiatif menjemurnya saja di teras apartemennya.


"Eem ini bajuku.." Hery ragu bila Rena yang menjemur pakaianmya dan jujur saja Hery malu.


Rena terus memelas dan akhirnya Hery memperbolehkannya.


***


"Hery.. Bisa kamu katakan yang sebenarnya..? Aku tahu kamu pasti gak mau bilang sama aku, tapi aku mohon katakan padaku.. Aku gak akan nangis kok..." Rena mengatakan apa yang sedari tadi ia pikirkan.


"Oke oke.. Sudah satu jam kamu memohon. Aku jug sudah bosan dengarnya Rena.." Keluh Hery dan Hery rasa ini yang memang seharusnya ia lakukan. Cepat atau lambat Rena akan mengetahuinya.


"Rena.. Aku gak tahu mau kasih tahu kamu dari mana.. Tapi intinya.. Debora bilang sama Eyang kalau aku menghamili seorang wanita.. Eyang percaya, dan aku tersangkanya. Dan kamu wanitanya. Roy ingin mengatakan yang sebenarnya sama Eyang malam itu tapi Eyang baru aja melakukan pemeriksaan, Eyang punya riwayat jantungan, dan kata dokternya usahakan Eyang gak kaget, tertekan, dan apapun yang bisa memicu terjadinya hal tak di inginkan.. Menurut dokter, jika sekali saja Eyang terkejut maka itu mungkin terakhir kalinya Eyang melihat matahari. Karna umur Eyang yang sudah tua semua itu bisa saja terjadi. Roy gak sanggup kalau harus kehilangan Eyangnya. Bagaimana pun Eyangnya sangat berjasa padanya. Yang paling sayang sama dia selain ayah dan ibunya. Hilanglah niat Roy mengatakan yang sebenarnya sama Eyang tentang Debora yang sebenarnya dan keberadaan kamu..." Hery pun menceritakan bagaimana Eyang memintanya untuk menikahi pacarnya yang sedang mengandung.


"Jadi ini Rencana Roy... Dia mau aku nikahi kamu... Dan buat seolah olah semua cerita itu benar untuk Eyang, kamu akan jadi istri aku.. Dan Roy gak akan bisa biarkan kamu pergi, karna dia mau lihat anak semata wayangnya ini..." Hery menatap perut Rena


"Kalau aku menikahi kamu, Roy masih bisa melihat kamu dan anaknya, tapi kalau kamu pergi jauh jangankan untuk melihat kamu dan anakmu, bernafas saja mungkin Roy susah..." Tambah Hery lagi.


Rena menatap Hery tak berkedip, "Jadi.. Aku sebenarnya belum sah istri Roy.." Rena menundukan kepalanya.


"Itu.. Debora menahannya, alasannya karna Roy tidak minta izin untuk menikah lagi padanya. Maka surat pernikahan dan pernikahan itu di tolak..." Tambah Penjelasan Hery lagi.


Rena tertawa pada dirinya sendiri, "Jadi aku hanya mainan.. Haha..Hahahaha... Hahaha.." Rena manahan airmatanya yang ingin menetes.


"Rena..." Hery maju dan berjongkok di depan Rena yang terduduk di kursi.


"Rena... Kamu."


"Apa Her.. Aku memang hanya mainannya.. Mungkin memang benar yang Debora katakan aku memang murahan..." Rena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tanpa meminta izin, Hery mengendong Rena untuk masuk kamar dan beristirahat. Meletakan Rena di tempat tidur dan terus mengelus elus rambut Rena. Memijit kepala Rena agar rileks.


Setelah menangis ternyata Rena terlelap tidur. Hery keluar dari kamar Rena dan memilih untuk memasak saja. Mungkin nanti jika Rena terbangun ia akan lapar dan mau makan.


Roy....

__ADS_1


Off dulu kawan.. Like Donk...


__ADS_2