
"Roy..?" Rena terkejut melihat keberadaan Roy di rumahnya pagi pagi begini.
Debora juga mengela suara itu. Ia tahu itu siapa tanpa melihatnya.
"Eemmm kamu di sini..?" Rena ragu ragu bertanya.
"Ya.. Emm tadi mau kemana.. Gak ada mang Adi..? Ayo bi saya antar.." Tawar Roy langsung tanpa minta izin dari Rena untuk membantu.
"Ahh..?" Si bibi menoleh ke Nyonyanya Rena.
"Eemmm.." Rena masih mengimang nimang.
"Sayang..!" Panggil Hery dari kamarnya.
"I.. Iya.. Sebentar.." Rena berdecak kesal.
"Rena aku masih temannya Hery.. Apa pun yang Hery butuh kan aku siap bantu sebisa aku.." Rena mengangguk paham. Hery juga pernah mengatakan itu padanya.
"Ya.. Tolong temani bibi ke depan, toko buah itu dia mau carikan beberapa buah untuk Hery." Roy mengangguk paham, ia melirik sedikit Debora yang tengah mengaduk masakan di dapur.
"Kami jalan dulu.." Pamitnya. Rena mengangguk.
Roy bersama Bibi itu keluar dari rumah dan terdengar suara mesin mobil di nyalakan dan mulai perlahan menjauh dari rumah itu
"Debora.." Rena menghampiri Debora.
"Ya Rena... Aku.." Hati Debora sedang dilema.
"Debora.. Ini keputusan kamu juga kemarin.. Roy gak salah juga kan kalau mau jenguk kamu dan kandungan kamu.." Debora mengangguk.
"Ya.. Tapi.. Aku gak suka liat dia Ren.. Aku.. Issshhh" Debora menhentakkan kakinya kesal.
"Sabar.. Bora.." Rena mengelus punggung Debora.
"Makasih Ren.. Aku senang dengar kamu panggil aku begitu.. Bora.." Akhirnya ada senyum di bibir Debora.
__ADS_1
"Iya.. Aku dengar itu panggilan waktu kamu kecil ya..?" Debora mengangguk membenarkan.
"Iya.. Kalau kamu bolehin. Aku mulai sekarang panggil kamu Bora aja.."
"Iya aku mau Ren.. Makasih.." Rena berhasil menghibur Debora.
"SAYANG..!!!" Rena menganga menatap anak tangga menuju kamarnya.
"Ya ampun.. Itu...!!" Rena rasanya sangat kesal pada Hery.
"Udahlah Ren.. Temani Hery.. Kasian dia.. Nanti aku bantu para bibi liatin Alf dan Elf.."
Rena senang ada Debora bersama Mereka yang bisa mengerti juga keadaannya.
.
.
.
.
"Sudah.. Oke.. Yakin kan kamu itu dari dark web.?" Stuart bangkit dari duduknya.
"Iyalah.. Masa aku bohong..". Albert sombong.
"Oke.. Kita tunggu.. Setelah ini.. Adel milik aku.." Senyum manis di bibir Stuart.
"Aku yakin 100 persen, Adel itu.. Kata orang biasanya masih virgin." Ucapan Albert itu semakin membuat senyum Stuart melebar.
"Dan aku yang pertama. Di hidupnya.. Aku.. Yang memilikinya.." Stuart memegangi dadanya.
"Lihat.. Jantungku langsung berdetak kencang.." Cicitnya.
"Cih.. Dasar.. Budak cinta.." Ledek Albert.
__ADS_1
"Terserah..."
.
.
.
.
Roy dan bibi yang di perintahkan Rena kambali membawa barang barang belanjaan.
"Sebentar ya tuan.. Saya panggilkan Nyonya.." pamit bibi itu.
Roy menduduk di sofa di tengah ruangan itu.
"Roy..?" Hery dan Rena turun bersama.
"Hery.. Kamu baik baik aja..?" Roy bangkit dari duduknya.
"Ya.. Aku cuma agak lemas dan sedikit manja.." Hery menoleh lada Rena yang berjalan di sampingnya.
"Oohhh" Roy ber'oh ria.
"Apa itu..?" pandangan Hery langsung tertuju pada plastik belanjaan yang ada di depan Roy.
"Ini tadi belanjaan yang Rena minta..." Rena mengambilnya dan memperlihatkan isinya pada Hery.
"Mau yang mana..?"
"Aku mau mangga manisnya.. Yang paling manis ya sayang.." Hery meminta dengan sangat.
"Iya ya.. Issshhh.. Kayak anak kecil aja.." Gemas rasanya, ingin Rena mencubit pipi Hery.
Roy..
__ADS_1