
Roy memutar matamya malas. Ia malah meladeni Dion yang menurutnya adalah orang luar.
"Maaf aku sedang berbicara dengan Debora.. Bukan denganmu Tuan Dion Wigara." Roy berusaha tetap tenang dan menyinpulkan senyuman pada Dion.
"Dan maaf juga Tuan Roy Filip. Kamu sedang berbicara dengan istri dari Dion Wigara." Sambung Dion membust suasana ruang tamu memanas.
"Eeemmmm.. Dion." Debora menarik tangan Dion bahkan menggandengnya.
"Oh.. Maaf aku tidak tahu. Karena tidak ada kabarnya sama sekali sampai ke telinga aku.." Roy masih menyombongkan diri.
"Maaf ya karena kami menikah diam diam tanpa suara dan memperdengarkan kisah cinta kami kepada semua orang termasuk anda." Dion tidak kalah menyerang.
"Uhukk uhukk uhukkk.." Hery datang dengan terbatuk batuk entah sengaja atau tidak tapi ia datang di saat yang tepat.
Melihat Hery datang, Roy diam dan tak berani berucap lagi, sedangkan Dion menunggu serangan ucapan dari Roy lagi.
__ADS_1
"Ada yang liat Rena, Alf dan Elf..?" Tanya Hery polos. Berarti ia hanya tak sengaja lewat di ruang tamu ini.
"Gak ada.." Sahut Debora.
"Kemana mereka berempat..? Katanya mau es krim..." Hery menggaruk pelipisnya.
"Berempat..?" Debora mungkin salah dengar.
"Iya berempat.. Alf, Elf, Rena dan yang di dalam.." Hery mengelus perutnya sendiri.
"Oohhhhhh" Debora dan Dion bersamaan.
"Hah..." Debora menghela nafasnya, kedatangan Hery berhasil membuat kedua laki laki ini diam.
Roy hanya menghembuskan nafasnya kasar. "Aku ke sini... Cuma mau.." Matanya menatap Dion lagi.
__ADS_1
Tatapan tak suka yang di berikan Dion padanya membuat rasa tak suka yang di miliki Roy semakin besar pada Dion.
"Apa liat liat..? Bicaralah.. Aku cuma dengarkan.. Dan kamu kan mau bicara sama Debora'kan.. Ya bicaralah.." Dion duduk tenang bersandar dan memainkan ponselnya di samping Debora.
Lagi lagi Roy memutar matanya malas meladeni Dion. "Debora.. Aku cuma rindu kamu.. Aku.. Eyang.. Dia mau ketemua kamu untuk terakhir kalinya.. Apa kamu bisa temui Eyang..?" Akhirnya inti Roy datang kemarin tersampaikan.
"Memangnya Eyang kenapa..?" Debora tak percaya.
"Eyang beberapa hari ini sakit Debora.. Aku sudah bujuk dia untuk ke rumah sakit tapi dia menolak. Seandainya kamu bisa.. Maka Eyang.."
"Gak.. Sejak kapan juga Eyang peduli sama aku yang jenguk dia atau gak.. Toh dia'kan punya menantu barunya itu yang lebih baik dari aku.. Kenapa mesti aku yang bujuk dia.. Dan maaf ya kemarin kalau gak salah, aku liat Eyang jalan sama Bibinya.. Dia baik baik aja.. Waktu aku dan Hery berangkat ke rumah Dion.. Aku gak rabun.. Itu jelas jelas Eyang.. Dia keliatan baik baik aja.. Sehat pula.." Potong Debora cepat bahkan Roy belum selesai bicara.
"Mungkin pas Eyang lagi berjemur sinar matahari pagi itu Debora.. Bukannya menunjukkan sehat tapi Eyang lagi mencoba terlihat sehat.." Bohong Roy.
"Gak.. Maaf Roy.. Aku gak percaya.. Mata aku sehat dan aku liat dengan jelas Eyang sehat. Biarpun dia sakit juga.. Aku gak akan mau jenguk dia.. Dia gak suka aku Roy.. Kamu ingat itu.. Dia gak suka aku makanya dia nikahkan kamu sama Nur.." Tambah Debora lebih menohok.
__ADS_1
Roy tidak dapat cara lagi membawa Debora pulang bersamanya, sebenarnya itu semua memanglah bohong dan Roy hanya mengada ngada saja kalau sang Eyang tengah sakit agar Debora mau ikut dengannya dan Roy bisa melancarkan aksi bejatnya lagi pada Debora, seolah menjebak Debora. Tapi sayangnya belum apa apa, Debora sudah tak percaya padanya.
Dion..