AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 144


__ADS_3

Roy dan Debora bercinta seperti pasangan suami istri pada umumnya.


Rasa cinta keduanya kembali. Debora juga sudah merubah dirinya sebisa mungkin. Roy menyukai Debora yang sekarang. Debora yang lebih parhatian dan penuh kasih sayang. Debora merelakan semua karirnya hanya untuk mengurus Roy dan mengucuri cinta pada laki laki yang telah ia lukai hatinya.


Setelah tahu Roy memiliki suadara kembar membuat Debora juga semakin gencar untuk mendapat anak dengan Roy. Debora memang iri melihat anak Rena yang lahir kembar dan sangat menggemaskan. Tapi itu seperti dorongan baru untuknya mendapatkan anak bersama Roy.


"Roy.. Lagi.." Pinta Debora, ia mengelus rambut Roy, Roy sangat lelah dan berbaring di atas dada Debora.


"Sayang kan sudah.. Masa lagi..?" Debora tak pernah meminta seperti ini tapi kali ini karna ia sedang semangat semangatnya untuk mendapatkan anak.


"Roy aku mau lagi..." Rengek Debora.


"Oke oke.. Satu aja lagi ya.."


Malam di lalui dengan berbeda beda cinta, hanya seorang diri yang tak menikmati malam ini dengan cinta.


Bisma seperti biasa hanya menatap langit langit kamarnya.


"Haaaahhh.. Apa aku juga bisa punya baby seperti Hely..? Apa aku bisa nikah sama Perempuan.. ? Apa aku bisa di ranjang sama perempuan..? Iiiiiiiii..." Bisma merasa jijil sendiri.


"Iiihhh harusnya ini kan wajar aku pikirkan.. Masa aku gak bisa pikir bebas sihhh.." Bisma berusaha mengobati dirinya sendiri. Tapi seperti yang baru saja terjadi, Bisma malah merasa aneh jika memikirkan yang seharusnya ia sebagai laki laki pikirkan.


"Kenapa aku tidak bisa merasakan yang laki laki lain rasakan.. Aku... Iiiihhh" Bisma memukul mukul bantal ke wajahnya.


"Apa rasanya ya....?" Bisma kembali mencoba mengkhayalkannya.


"Apa enak ya..?" Bisma tiba tiba merasa bulu kuduknya merinding.


"Aaahh sudahlah.. Selamat malam Bisma.." Bisma membaringkan tubuhnya sembarang arah dan tertidur.


***


"Selamat pagi..." Roy menghampiri Debora di meja makan.


Debor pagi pagi sudah memasak dan membantu Bibi Bibi di dapur.


"Selamat pagi Sayang..." Debora sangat suka pagi harinya ini.


Eyang datang juga ke meja makan.


"Selamat pagi Eyang.." Sapa Debora terlebih dahulu.


Eyang hanya diam tak balik menyapa Debora seperti biasanya. Ia malah fokus melihat Roy.


"Roy.. Eyang sudah pikir pikir.. Eyang punya teman lama, dia juga punya cucu. Cucunya itu cantik banget.. Eyang suka, baik juga rajin.. Cocok untuk kamu Roy.." Roy sampai tersedak mendengar ucapan Eyang.


"Ini Roy.." Debora menyerahkan segelas air pada Roy.


Eyang mengeleng jengah.

__ADS_1


"Untuk apa Eyang.. Maksudnya apa.. Untuk jadi pembantu di rumah Eyang kah..?"Roy baru kali ini mendengar Eyangnya memuji Wanita lain.


***


Bisma menyapu lantai kantor seperti biasa. Ia semakin hafal apa saja yang harus ia lakukan dan kerjakan. Bahkan kini ia tidak memerlukan rekan kerja untuk memperhatikannya.


"Pyuuuhh.. Selesai.. Tinggal pel.." Begitu semangat dan rajin. Itulah Bisma.


"Eeemmm.. Aku suka wangi ini.." Bisma membuka botol pembersih lantai.


"Heemm heeeemmm.. Nananana.." Seperti wanita Bisma mengepel sambil bersenandung kecil.


"Aaaww..." Adel datang dan memegangi perutnya.


"Kamu kenapa..?" Bisma melihat Adel dan menghampirinya.


"Gak apa kok, cuma nyeri aja.." Adel berusaha kuat lagi.


"Hahh.. Nyeri..?" Bisma bingung.


"Hehehe.. Gak apa, cuma wanita yang paham.." Adel berkeringat dingin.


"Tapi kayaknya itu sakit.." Bisma ngotot.


"Itu namanya datang tamu.." Dimas datang dengan galon kosongnya.


"Hah..?" Bisma menganga.


"Sudah ya.. Aku mau ke tempat Roby.. Dia pesan kopi hangat.." Adel berlalu.


"Datang tamu...?" Bisma mengulanginya. Adel terhenti tapi tetap tersenyum dan melakukan tugasnya.


"Aku perlu google lagi..." Bisma segera menyelesaikan pekerjaannya.


***


"Papa sayang. Ini cemilannya.. Khusus untuk papa aja..." Rena datang membawa kue buatannya.


"Makasih sayang... Eeemmm enak.. Aku mau gini terus nanti, aku kerja aja dari rumah, Roy yang di kantor.. Dan ada Roby juga yang bantu Roy jadi aku bisa di rumah aja.." Hery sangat bersemangat.


"Haaahhh.. Ada pemilik perusahaan kayak gini.." Rena kembali menuju keranjang bayinya.


Hery bekerja tak jauh dari babynya dan di dalam kamarnya untuk menemani Bayi bayinya dan Rena di dapur untuk membuat makanan makanan yang patut ia makan agar asinya lancar. Hery ingin melakukan itu untuk Rena tapi Rena hanya meminta Hery untuk menjaga Bayi bayi mereka, ia bisa melakukannya sendiri.


Hery juga senang bersama anak anaknya. Maka ia tak menolak, tapi sebelum itu tentu saja dengan pengawasan Hery. Hery meletakan kamera di dapur tepat du samping rena jadi apa saja yang Rena lakukan Hery bisa melihatnya seperti ia sedang bersama Rena juga.


"Aaahh kayaknya aku harus pompa Asi dulu.." Rena merasa baju depannya basah.


"Aaahh.. Pompa..?" Hery menaikan alisnya.

__ADS_1


"Iya.. Aku harus pompa asi. Kayaknya banyak isinya.." Hery mencoba memahami.


"Aaahh Sayang gak paham paham.. Dah lah.." Rena berlalu dan mengambil alat pompa asinya.


"Itu apa...?" Hery mengikuti Rena dan melihat apa yang Rena lakukan.


"Sayang kamu bikin aku kaget.." Rena memegangi dadanya.


"Aku mau liat kayak apa.." Hery tetap memperhatikan.


"Aaahh aku jadi malu sayang.." Rena jadi tak percaya diri.


"Sayang aku ini suami kamu loooo masa malu.." Hery menertawakan Rena yang seperti tak biasa bersamanya.


"Hahahaa.. Aku tetap malu sayang.." Rena bergelayut manja.


"Cepat sayang.. Eehh ini basah..?" Hery tak sengaja menyentuh area basah Rena.


"Ya makanya aku tadi mau pompa bentar..." Rena baru teringat dan memompa asinya.


"Sayang kok itu..?" Hery benar benar terkejut.


"Ya kan ini namanya pompa asi sayang.." Rena memeruskan kegiatannya.


"Tapi kok barang itu sedot itu..?" Hery masih cerewet saja.


"Ya ini di pompa.." Rena jadinya kesal dengan pertanyaan pertanyaan Hery.


"Tapi, iihhh gak boleh ini tu cuma punya aku sama punya anak anak aku, sudah cukup baik aku mau bagi sama anak anak.. Tapi ini lagi.. Barang itu..?" Hery berkali kali menunjuk nunjut alat yang Rena kenakan.


"Sayang.. Ini tu cuma alat.. Bukan yang lain.." Rena minta ampun dengan tingkah suaminya ini.


"Gak sayang, lepas alat itu sekarang.." Pinta Hery.


"Haahh sayang kalau aku lepas, nanti gak abis ini di pompa.." Alasannya.


"Kan ada Alf dan Elf yang bisa habiskan.." Berontak Hery lagi.


"Gak bisa sayang.. Mereka baru aja minum asi tadi, masa mereka minum lagi nanti kekenyangan.." Itu yang sebenarnya.


"Ya nanti aja lagi tunggu mereka lapar.." Masih mencari celahnya menang.


"Gak bisa sayang.. Aku sakit kalau asinya numpuk.." Rena memindahkan alatnya ke yang sebelah.


"Sayanggggggggg...!!!" teriak Hery tak terima.


***


"Eyang mau kamu menikah lagi Roy..!"

__ADS_1


Off dulu kawan.. 😁😁😁😁


__ADS_2