
Hery menceritakan semua yang ia ingat pada malam itu. Rena tak ada habisnya menangis. Rupanya ia mempunyai malam indah seperti itu bersama Hery.
"Jadi kamu gak mau temani aku Tes DNA Alf dan Elf karna itu. Apa kamu takut ketahuan..?" Rena menghapus semua air matanya.
"Ya.. Aku.. Tahu itu dosa yang terbesar yang pernah aku buat. Aku dengan lancangnya bermalam bahkan menyentuh kamu yang saat itu sebagai simpanan Roy, sahabat aku sendiri. Aku bukannya senang liat kalian pisah tapi.. Aku.. Apa ya.. Ya aku manusia biasa, aku juga bisa khilaf dan banyak dosa. Aku mulai dari mati lampu itu, tidur sama kamu dengan alasan temani kamu, masak sarapa buat kamu, temani kamu.. Ya semua itu alasan semata buat sama kamu terus dan kondisi saat itu juga sangat mendukung aku untuk masuk. Bukanya aku dukung Debora yang bicara kasar sama kamu atau pun video yang dia tunjukkan itu. Tapi aku bersyukur. Kalau Debora gak bisa ambil Roy lagi maka aku gak akan pernah nikah sama kamu. Rencana Debora yang bilang kamu pacar aku yang aku hamili juga aku suka. Aku gak masalah.. Dan pernikhan kita.. Aku lakukan dengan sungguh sungguh, aku sudah gak peduli sama anak yang kamu kandung itu anak aku atau Roy. Yang aku mau cuma cintai kamu dan anak kamu. Aku mau kamu andalkan aku sebagai seorang suami. Aku takut pas kamu bawa aku Tes DNA Alf dan Elf. Aku takut akan hasilnya. Kalau hasilnya sama dengan Roy gak masalah.. Tapi kalau hasilnya sama dengan ku maka ada dalam masalah..." Hery menatap Rena di akhir penjelasannya.
"Apa masalahnya sayang..?" Rena mengelus pipi Hery.
"Kamu pasti malu punya suami kayak aku.. Laki laki yang main masuk kamar terus di layani lagi.. Aku.. Malu itu Rena.. Aku gak berniat tapi.. Iman aku gak kuat.." Hery menggelengkan kepalanya.
"Gak sayang... Aku gak apa apa.. Aku malah senang banget tahu kalau kamu dan Baby Alf dan Baby Elf itu..." Rena tak bisa menyampaikan rasa hatinya saat ini dengan kata kata.
"Betul kah..? Kamu gak benci sama aku, bukannya waktu itu kamu sama Roy masih saling cintanya.. Aku pikir..." Hery mengira kalau ia hanyalah benalu yang merusak kisah cinta Rena dan Roy.
"Apanya Hery.. Kamu liat sendiri kan... Aku bukan apa apanya Roy, aku cuma istri simpanan yang gak jelas juga. Apa aku
Istrinya, apa aku bisa sama Roy dengan kondisi seperti kemarin..? Gak Hery.. Satu satunya anugrah yang paling indah kamu Hery.. Kamu datang... Kamu putik aku yang sudah di buang gitu aja.. Gak ada yang bisa lebih indah dari kamu.. Alf dan Elf.. Pantas mereka kok mirip kamu" Rena tertawa sambil menangis jika mengingat baby Alf dan Elf yang lebih mirip Hery.
"Ya mereka juga anugrah yang paling indah buat aku.. Tunggu aku masih ada kejutan untuk kamu..." Hery turun dari tempat tidurnya dan mengambil amplop dari dalam tasnya.
Amplop yang ia dapatkan dari dokter tempat Rena mencocokkan DNAnya dan DNA Baby Alf dan Baby Elf beberap Waktu yang lalu.
"Buka dan bacalah.." Hery menyerahkannya dengan senyum lebar.
Rena menghapus air matanya dan menerima amplop itu. Belum juga membuka ia sudah menangis lagi.
"Hery..." Rengeknya.
"Ayolah sayang.. Belum di baca juga.. Baca dulu baca.." Hery duduk di samping Rena dan ia yang membuka amplop itu untuk Rena.
Rena tak ingin membacanya karna sepertinya ia sudah tahu itu tentang pemeriksaan apa. Dari amplopnya saja sudah ketahuan itu adala hasil Tes DNA seperti milik Alf dan Elf beberapa hari yang lalu. Dan Rena yakin Hery melakukan tes DNAnya untuk Baby Alf dan Baby Elf dan juga untuk meyakinkan dirinya.
__ADS_1
"Hery... Kenapa Tuhan begitu baik sama aku..?" Rena memeluk Hery sangat erat.
"Karna yang kita lalui kemarin itu tidakah mudah. Banyak hal yang kita temui.. Aku dan ketakutan aku, kamu dan kisah cinta kamu. Dan sekarang ada yang lebih buat aku takut lagi.." Rena dengan cepat menganggkat wajahnya dari dada Hery.
"Apa..?" Rena takut itu sangat serius.
"Aku takut aku akan gila mencintai kalian bertiga.." Hery malah tertawa sepuasnya.
"Sayang" Rena memeluk Hery dengan erat lagi.
"Jadi ini yang kamu bilang urusan penting.. Dan bahkan sangat penting.. Sampai kamu pulang jam makan siang..?" Rena baru mengerti.
"Ya sayang demi kamu dan anak anak.. Aku gak tahan liat kamu gak fokus jaga Alf dan Elf. Aku juga liat kok kamu sering nangis diam diam.. Kamu tahu kan kalau aku gak suka liat kamu nangis. Jadi aku satu minggu yang lalu pergi lagi dan minta tolong sama dokter yang sama, aku katakan yang sebenarnya sama dia. Aku harap dia bisa mengerti, untungnya dia mengerti keadaan aku dan siap bantu aku sampai hasil keluar. Dan ini hasilnya. Seratus persen cocok.. Entah Alf atau Elf... Dua duanya anak aku, darah daging aku.. Hasil cinta kita malam itu.." Bisik Hery di telinga Rena.
"Hery.. Aku mencintai kamu.. Sangat cinta..." Rena sangat gemas pada suami yang sangat suka menggoda seperti ini.
"Jadi.. Karna aku sudah lakukan yang kamu minta.. Kamu ingat kan janji kamu kemarin..?" Hery mendekatkan tubuh mereka.
"Ayolah sayang.. Kamu janji.. Kalau aku mau temani kamu Tes DNA Alf dan Elf kamu...?" Hery memberi clue.
"Aaaahhh.." Rena menepuk keningnya. "Launching baby kah..?" Hery sudah siap dan dengan senyum menggodanya juga.
"Ayo.." Ajak Rena lagi.
***
"Jadi punya aku besar gitu ya..?" Di tengah permainan mereka Hery masih saja menggoda Rena.
"Hery.. Aahh.."
Meski siang hari dan cukup panas untuk sebuah percintaan tapi tak masalah untuk keduanya. Cinta yang menggebu gebu tak bisa di hindari lagi.
__ADS_1
Maafkan Papa dan Mama mu Alf dan Elf. Mereka sangat bising. Tapi tak apalah, nanti dapat adik bayi lagi.
***
"Huuhssss.." Roy meregangkan otot ototnya. Banyak sekali yang harus dia cap dengan cap khusus yang Hery buat kalau kalau dia tak ada di kantor. Cap itu bisa Roy gunakan sebagai penganti tanda tangannya.
"Sayang.." Debora mendekati Roy.
"Ya.. Sini.." Roy beristirahat sejenak.
"Capek.. Eeem baru segitu.. Hery biasanya langsung tanda tangan, kamu mah enak tinggal pencet pencet aja.." Debora memijit bahu Roy.
"Ya aku kan cuma pinta pencet yang ini.."
"Issshh kamu nakal Roy.." Debora menepis tangan Roy.
"Ini nanti khusus untuk baby kita.. Aku juga mau kayak Rena. Dia susui Baby Alf dan Baby Elf langsung.. Bahkan baby Alf dan Elf gak bisa pake dodot. Harus Mamanya langsung.. Aku juga mau gitu nanti yank.." Ucap Debora karna tadi Roy memegangi aset untuk anaknya yang akan lahir nanti.
"Ya sayang, tapi aku liat liat kamu sudah kayak beruang yang ada di dalam film ini deh.. Mon**k" Roy mencari video kartun di dalam laptopnya.
"Ini. Kamu sangat mirip.. Aku mah gak mau bagi istriku yang secantik dan semolek ini meski sama anak sendiri" Roy memutar videonya.
Video beruang dan di temani teman kecilnya seorang anak kecil dengan kerudung pink. Dan di dalam video itu ada beruang betina yang Roy katakan mirip Debora.
"Waaahhh memang aku kayak gitu kah.. Uuu..." Debora juga langsung suka dengan tokoh beruang yang di tunjuk Roy tadi.
"Dia cantik.." puji Debora lagi.
"Ya kan kayak kamu.. Tetap gini ya biar pun sudah lahira nanti.. Aku suka.." Bisik Roy seksi di telinga Debora.
"Baiklah suami ku sayang.."
__ADS_1
Sedangkan Nur..