
Rena sangat kesal, pada wanita itu dan juga pada Hery.
Iya kembali mengingat apa yang ia lihat dan yang Hery ceritakan padanya, ingin sekali Rena melampiaskannya pada Hery saat itu juga.
"Sayang jangan di pikir lagi ya.. Dia itu cuma mau ganggu kamu aja, berharap di kasih bayaran atau semacamnya." Hery yakin Rena pasti kepikiran dengan yang di katakan wanita itu tadi.
"Hery awas kalau kamu ke sana lagi san minta di layani lagi..." Rena menoel noel lengan Hery.
"Iya sayang ia buat apa aku ke situ lagi, aku kan sudah dapat kamu, aku gak khawatir lagi sama kamu.. Aku janji sayang.." Hery mematikan lagi mesin mobilnya yang sudah ia nyalalkan tadi hanya untuk menghibur Rena.
"Ya janji juga jangan mabuk lagi, kalau kamu mabuk kayak kemarin bisa bisa kamu lupa sama aku terus kamu nanti bisa bisa cari wanita nakal kayak gitu lagi terus...." Rena sudah membayangkannya.
"Sayang.. Kemarin juga sudah mabuk, tapi dalam mabuk aku, aku masih bisa liat kamu dan ingat kamu dengan baik.. Makanya pas aku liat kamu nangis aku gak tega dan langsung peluk kamu sayang.. Bahkan dalam mabuk pun aku masih bisa kenali kamu.. Aku juga gak mau di layani wanita wanita kayak gitu.." Hery mengenggam tangan Rena.
"Tapi tetap aja aku gak mau kamu mabuk lagi.. Gak beleh pokoknya.." Tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Iya sayang.. Aku janji gak mabuk lagi.." Hery mengangkat tanganya dan berjanji pada Rena.
Itu sudah cukup membuat Rena tenang. Mereka pun meninggalkan tempat itu dan dalam perjalanan pulang. Tapi tiba tiba ponsel Hery berdering di perjalanan, Hery melimpir ke samping jalan baru setelah itu menerima telpon tersebut.
"Eehh Dari Eyang.." Ucap Hery memberi tahu Rena.
Rena langsung terkejut, "Jangan jangan yang di katakan Debora betul, Roy minta bantuan Eyang untuk ambil anak ini.." Rena mulai ketakutan.
"Gak akan sayang, aku terima dulu.. Halo...?" Hery menerima telpon itu.
"Halo Hery, kamu di mana.. Sibuk kah..?" terdengar suara Eyang dari sebrang telpon, Hery mengspeaker agar Rena juga bisa mendengarnya.
"Hery bisa kamu sama Rena ke rumah ini, ada yang mau Eyang bicarakan dengan kalian.." Rena langsung mengeleng gelengkan kepalanya.
"Eeemm Emangnya kenapa Eyang ada yang penting banget ya?" Hery mencari tahu maksud dan tujuannya.
"Gak bisa datang kah Her..?"
"Eeemmm sebenarnya kami dua Rena lagi jalan jalan Eyang, Rena hari ini banyak ngidam yang aneh aneh, makanya Hery cuma bisa nurut aja ysng Rena minta. Ini baru dari satu kedai Eyang belum yang lainnya lagi, karna kan Hery sering tinggalin Rena sendiri, mumpung lagi ada di rumah ya Hery bawalah Rena jalan jalan cari yang dia pengen kemarin itu tapi gak kesampaian..." Rena menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Ooowww.. Kasiannya lagi... Ya udah lanjut aja ya.. Besok aja kalian ke sini ya.." Rena tampak sedih lagi.
__ADS_1
"Iya Eyang.." panggilan pun terputus.
"Hery aku gak mau ke situ, mereka pasti minta anak aku ini.. Aku gak mau.." Rena memeluk perutnya sendiri.
"Kamu kira aku mau.. Gak lah.." Hery ikut mengelus perut Rena.
"Jangan ke sana ya besok, kita jalan jalan lagi aja ya..!" Di balik itu semua Rena senang mendengar ucapan Hery yang akan menemaninya jalan jalan dan mencari yang Rena inginkan.
"Oohh oke.. Jadi selama ini kamu mau gitu..?" Hery mencolek hidung Rena.
"Iya.. Aku bosan di apartemen kamarin, maunya aku tuh jalan jalan gitu... Kan seru.." Rena mengatakan yang ia rasakan saat masih sendiri dulu.
"Oke kalau gitu kita Babymoon mau?" Tawar Hery.
"Bolehkah..?" Rena antuasias.
"Ya Bolehlah.. Aku kan suami kamu.. Apa sih yang gak bisa Hery lakukan.." Hery bergaya sombong dengan memainkan kukunya.
"Ihhhh" Rena mencubit hidung Hery gemas.
"Oke nanti kita pulang dan aku pilih ke mana kita pergi.. Oke ratu..?" Hery mengulurkan tangannya.
****
"Roy kamu ini.. Benar benar.. Eyang sudah bilang Hery gak akan mau.. Tapi kamu masih ngeyel terus.." Rupanya Eyang menghubungi Hery karna bujukan dari Roy juga. Roy tak bosan bosannya meminta pada Eyang agar mengikuti apa ysng ia inginkan.
"Ya kan apa salahnya berjuang Eyang.." Sahut Roy.
"Ya kalau kamu mau berjuang, berjuang sama Debora itu bukannya minta sama Hery... Emangnya Hery mesin pencetak anak gitu.." Eyang sewot.
Roy membulatkan matanya mendengar itu. Roy membayangkan Hery dan Rena mendapat anak yang banyak seperti ysng di katakan Eyang tadi, menjadi mesin pencetak anak, "Bukannya Roy gak mau berjuang sana Debora tapi kan niat Roy baik Eyang.. Jadi nanti anaknya Hery punya dua ayah, Ayah Roy dan Ayah Hery..." Roy tak kalah pintar mencari jawaban.
"Ya terserah.. Sudah puaskan.. Sana pergi, pusing Eyang liat kamu.." Kali ini Roy benar benar buat Eyang Rita pusing.
"Makasih Eyang.." Roy hendak keluar tapi saat itu juga Debora hendak masuk kamar Eyang.
"Eh..?" keduanya bersamaan.
__ADS_1
"Debora.. Gimana pemeriksaan kamu..?" Eyang sangat senang melihat sng menantu sudah pulang. Berharap ada kabar gembira yang ia bawa.
"Iya Eyang Debora sudah pulang, pemeriksaannya gak sampe siang.. Karna.." Debora merogoh tasnya mencari sesuatu.
"Ini..." Debora memberikan amplop dengan lambang rumah sakit yang Debora datangi untuk pemeriksaan pada Eyang.
"Ini apa Eyang mana bisa baca ini Debora.. Roy.. Bacakan.." Pinta Eyang pada Roy ysng masih ada di sana.
Roy pun menerimanya dan membukanya. Roy mulai membacakan isi pemeriksaan Debora itu.
"Debora ini gak salah kan..?" Roy mempertanyakan isi surat itu.
"Iya itu langsung dari dokter kok.. Pastilah betul.." Debora tersenyum sumringah.
"Apa itu Roy.. Cepat bilang sama Eyang.. Kok kamu aja yang baca Suratnya.. Apa isi suratnya Roy.." Eyang sangat penasaran.
"Eyang... Debora di nyatakan bisa mengandung lagi bulan depan dan bisa konsiltasi lagi sama Roy ke dokter dulu, jadi Roy sama Debora bisa perjuangkan lagi dua garis biru.." Debora membentuk huruf V dengan jarinya karna ia sangar senang juga.
"Waaaahhh ini kabar baik... Selamat Debora..." Eyang menghampiri Debora dan memeluknya.
"Roy, Eyang harap kamu berhenti untuk minta minta sama Hery lagi, Debora bakal sehat lagi, jadi gak usah angkat anak Hery.." keputusan Eyang.
"Tapi Eyang.."
"Gak ada tapi tapi.. Ini Debora bisa hamil lagi.. Jadi kamu harus dukung Debora.. Eyang yakin kalian pasti bisa secepatnya punya momongan.. Eyang sudah gak sabar Roy.. Kalau boleh jujur lagi Eyang maunya itu anak kamu dan Debora, bukan anak Hery atau anak orang lainnya lagi.. Eyang cuma minta itu Roy.. Apa kamu gak bisa turuti permintaan kecil Eyang ini aja..?" Eyang menatap Roy dalam dalam.
"Eyang..." Roy melemah.
"Iya Roy... Eyang cuma mau anak kalian berdua, anak Hery ya anak Hery... Anak kalian ya anak kalian.. Kamu paham kan Roy..!?" itulah yang Eyang rasakan.
"Haaaahhhhh.. Baiklah Eyang.. Roy paham kok... Roy akan bantu Debora..." Roy mengangguk.
"Bagus.." Eyang memeluk Roy lagi. Roy manatap Debora, Debora tak sengaja meneteskan airmatanya, Debora ingin menyembunyikannya dari Roy dan Eyang, dan berpura pura kuat, tapi Roy berhasil melihatnya.
***
Sementara itu..
__ADS_1
Hery...
Off dulu kawan.. Like dan koment ya.. Vote dan bari hadiah bunganya ya...