
Rena menoleh kepada Hery yang sedang fokus menyetir
"Kamu tadi mau ngapain her?" Hery menoleh sekejap ke Rena yang malam ini sangat terlihat cantik dengan sweater dan sepanjang mata kaki yang ia kenakan
"Aku diperintahkan untuk memastikan keadaanmu karena kemungkinan besar Roy akan tidak menemuimu malam ini, karena Eyangnya baru saja masuk rumah sakit... " Rena mengangguk-anggukan kepalanya
"Bagaimana ceritanya?. Bagaimana itu bisa terjadi?"
Heri hanya terus tersenyum dan menjawab pertanyaan Rena
"Aku juga tidak terlalu tahu bagaimana bisa nyonya besar masuk rumah sakit tapi intinya kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk Tuan Roy pulang ke apartemen"
Rena kembali mengangguk-anggukan kepalanya
"Kamu makan apa malam ini?" Rena tampak berpikir sejenak
"Entahlah aku juga tidak tahu apa yang mau aku makan. Kalau kamu Her mau makan apa?"
Hery malah tertawa
"Aku sih sudah makan tapi kalau kamu ajak aku makan aku mau kok..." Rena juga tertawa mendengar jawaban Heri.
"Iya bagaimana aku mau bawa kamu makan aku aja nggak tau kita makan apa... " Hery memicingkan matanya
"Sepertinya enak jika kita makan sesuatu yang berkuah dan hangat di malam hari seperti ini kan..." Rena mengangguk-anggukan kepalanya setuju.
"Kamu ada tempat rekomen?" Hery menoleh lagi ke arah Rena yang masih menatap Heri
"Ada dong..." Sejenak Rena merasa bahagia dan melupakan sedih di hatinya dengan berbincang-bincang hangat dengan Hery. Hery pun sama dirinya yang tadi sangat kesal novelnya terhenti, tapi ini Ia merasa lebih baik.
Kini mereka berdua sudah sampai di salah satu restoran favorit Heri
"Silakan masuk" Hery membukakan pintu restoran tersebut untuk Rena. Rena malah tertawa lucu melihat tingkah Heri.
__ADS_1
Keduanya pun memesan menu yang ada di restoran tersebut. Bingung harus memesan Apa Rena baru pertama kali ke restoran ini, ia juga tidak tahu Menu apa yang enak di sini.
Hery yang menyadari Rena yang tidak tahu Menu apa yang enak maka hari pun memesankan menu yang sama seperti dirinya karena menurut Hery itulah menu yang terenak di restoran ini. Pelayan restoran itu pun membawa daftar pesanan Hery dan juga Rena.
"Menurutku di sini itu yang enak adalah soto Spesialnya dan juga sop iga, aku dulu sering kesini dengan adikku dan itulah menu favorit kami berdua" Rena mengangguk-anggukan kepalanya
"Aku ingin tahu seperti apa selera seorang Heri" Heri tersenyum. Laki-laki yang tidak kalah tampan dari Roy tapi bedanya wajah Roy putih mulus dan bersih sedangkan Hery memiliki tahi lalat di atas Bibirnya di sebelah kiri tepat di sudutnya.
Jika orang-orang memperhatikan Rena dan juga Hery mereka pasti akan mengira bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih, karena malam ini mereka dua sungguh serasi keduanya sama-sama menggunakan sweater dan sama-sama menggunakan rok dan celana yang berwarna hitam jam, Hery mengenakan celana panjang berwarna hitam dan Rena menggunakan rok panjang semata kaki yang juga sama berwarna hitam, Hery menggunakan sweater berwarna coklat sedangkan Rena menggunakan sweater berwarna putih bersih bisa dibayangkan bukan? kecocokan yang mereka pancarkan malam ini.
Pesanan Hery dan Rena pun tiba hari sudah sangat tidak sabar untuk mencicipi makanan nya begitu pula dengan Rena yang juga tergoda dengan aroma makanan di depannya itu sungguh menggoda Indra penciumannya.
"Selamat makan..." ucap Hery dan Rena pun menganggukkan kepalanya.
Rena mengambil suapan pertamanya ia memasukkannya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya
"Eeemmm... Enaknya..." ucap Rena, Hery menoleh ke arah Rena yang tampaknya sangat menikmati makanan pilihanya.
"Iya ini sangat Enak Hery.." Ucap Rena dengan semangat.
***
Roy kembali lagi keruangan rawat Eyangnya, Roy melihat Debora dan Sang Eyang masih terjaga dan belum beristirahat.
"Eyang.. Kok belum tidur, Eyangkan harus banyak istirahat..." Ucap Roy mendekati Eyangnya bersebrangan dengan Debora.
"Eyang lagi asik bincang bincang sama calon mama muda ini. Banyak yang harus Eyang bagi sama dia." Ucap Eyang mengedipkan matanya pada Debora dan Debora langsung malu malu sendir. Roy melihatnya serasa jijik.
"Oohh ya lah kalau begitu. Roy istirahat duluan, besok Roy harus berangkat pagi pagi.
Roy berjalan ke arah sofa lainya yang ada di ruangan sang Eyang dan mendudukkan diri sana. Debora terus memandang Roy berharap Roy mengajaknya istirahat juga tapi Roy malah langsung memejamkan matanya.
"Isss Roy kok istrumu gak di ajak bobo.." Omel Eyang.
__ADS_1
"Sudahlah Eyang Roy cuma butuh istirahat, aku tidak apa apa kok..." Padahal Debora juga menginginkan hal yang sama.
"Hiss Debora kamu sedang mengandung tidrulah, kamu juga perlu kualitas tidur yang baik saat hamil. Ayo pergi dan tidurlah dengan Roy.
Debora menoleh dan melihat Roy sudah terlelap dan Debora pun menganggukan kepalanya "Baiklah selamat malam Eyang. Selamat tidur." Debora pun berjalan ke arah Roy, Debora membaringkan kepalanya di paha Roy, Eyang yang melihat keharmonisan Cucunya itu pun merasa Lega.
Sebenarnya Roy belumlah terlelap tidur tapi Roy hanya pura Pura tidur, ingin rasanya ia langsung bangkit dan menjatuhkan tubuh Debora ke lantai. Tapi ia tidak berani melakukannya karna ada Eyangnya yang pasti akan menyadari sesuatu di antara Roy dan Debora.
Sementara itu Debora penuh dengan kemenangan, bukan hanya mendapatkan Hati Eyang Debora juga mendapatkan Roy lagi dan juga Roy tidak dapat berbuat apa aa sekarang.
Jika Debora dan Roy sedang bersitegang, berbeda dengan Hery dan Rena, kini mereka berdua dalam perjalan pulang dan masih dengan mood yang bagus dan lebih ceria.
Kini Hery mengantar Rena sampai depan apartemen tapi entah kenapa apartemen itu gelap gulita.
"Eeehh... Kenapa ya?" Rena bergumam karna seingatnya saat ia hendak pergi tadi semuanya baik baik saja.
"Sepertinya terjadi sesuatu... Ayo kita cari petugas apartemennya." Hery hendak keluar dari dalam mobi tapi Rena menahannya.
"Kenapa?" Tanya Hery dan kembali mendudukkan dirinya di bangku supir.
"Aku... Aku takut gelap..."Ucap Rena dengan perlahan tapi Hery mendengar dengan jelas.
"Ya udah kamu tunggu aja di mobil nanti secepatnya aku balik lagi dan temani kamu oke..." Setelah Rena menganggukan kepalanya barulah Hery turun dari mobil dan mencari penjaga yang biasanya berjaga di sekitar apartemen.
Rena sediri di dalam mobil merasa tak tenang karna Hery tak kunjung kembali. Beberapa kali Rena menoleh ke kiri dan kanan takut takut ada yang mengintipnya atau berniat buruk padanya.
Entah mengapa Rena sangat takut. Sehingga suara deru mobil saja Rena terkejut. Rena takut kegalapan sejak kecil, dan di tambah lagi saat bernjak dewasa ia sering di takut takuti teman teman sekelasnya tentang hantu dan segala macamnya.
Rena marasa akan ada yang datang padanya seketika itu juga Rena berteriak.
"Aaaaaa..."
Say say... mampir donk ke karya author yabg baru, ramaikan judulnya Dendam 100 Kilogram. Tolong donk.. Ramaikan, biarpun baru baca satu bab pun gak apa apa yang penting mampir ya guys.. udah ada 10 bab loooo... dan Novel ini juga up tiap hari.. jadi gak nyesal deh... Author tunggu ya..
__ADS_1